Air Bersih

Air bersih- Cawas, Klaten adalah tanah leluhur dari papaku. Terletak di sisi tenggara berbatasan dengan Sukoharjo dan Gunung Kidul. Wilayah lumbung padi dan dilalui airan Sungai Dengkeng. Subur dan bahkan sering banjir jika musim hujan. Airnya kini tak bersih lagi.

Tahun 1992 saat usia 3 tahun, aku tinggal di Cawas karena Papaku harus menjalani perawatan di rumah sakit. Praktis aku diasuh oleh kakung, putri (sebutan kakek-nenek) dan keluarga omku. Sejak kecil aku senang sekali bermain air. Kungkum dan keceh, kalau orang jawa bilang.

Aku masih ingat sumur kakung memiliki air bersih yang melimpah. Hampir tidak pernah kekeringan. Selain memang di pedesaan yang udara dan lingkungan masih bersih belum tercemar seperti saat ini akibat pembanunan desa.

Kecamatan Cawas, Klaten berada di sisi tenggara berbatasan dengan Sukoharjo dan Gunung Kidul. Wilayah ini juga termasuk terdampak gempa bumi 2006 yang mengakibatkan banyak difabel akibat peristiwa itu.

Hal lain yang berubah akibat peristiwa gempa bumi 2006 itu adalah air bersih. Aku merasakan betul, air di rumah kakung berubah rasa dan bau. Sumur di rumah om menjadi kering dan harus membuat sumur baru. Saat itu PDAM belum masuk di wilayah mereka.

Sekarang di jaman kemudahan aku kembali menjadi warga Cawas secara hukum. Air sumur sangat bau. Meski di rebus air sumurku akan bau setelah 2 hari. Beruntung PDAM sudah masuk di kampungku. Tapi ya arusnya seperti pada gambar itu. Ithir-ithir, sangat kecil.

Aku jadi ingat saat musim kemarau panjang akhir 2015 lalu di Desa Gantarang, Pegunungan Sinjai Tengah, Sulawesi Selatan. Tiap hari aku berkeliling kampung menelusur sumber-sumber air. Kemudian aku memetakan titik-titik sumber air itu serta mencatat sejarahnya.

Kata penduduk sekitar, kejadian itu merupakan kekeringan terpanjang dan terberat yang mereka hadapi setelah bukit mereka ditanami pinus jenis perkusi di jaman DITI. Mereka harus berebut air dengan pinus-pinus yang terus tumbuh dan siaga jika tanah longsor atau kebakaran hutan datang tiba-tiba.

Air bersih menjadi primadona dimusim kemarau. Sesama warga berlomba-lomba menguasai sumber yang mereka temukan. Praktik jual beli air bersih tak terhindarkan.

Padahal air bersih adalah sumber kehidupan. Air tidak untuk diperdagangkan. Tapi apa jadinya ketika perorangan atau sebuah perusahaan menguasai sumber kehidupan? Hak setiap orang menjadi jauh lebih mahal.

Klaten, merupakan daerah Jawa Tengah yang memiliki banyak sumber air bersih di sisi utara karena dekat dengan Merapi dan Merbabu. Klaten bagian selatan tak kalah suburnya sumber air pun banyak di sana. Secara geografis letaknya sangat dekat dengan kontainer air bersih raksasa berupa pegunungan kars, Geopark Gunung Sewu.

Saat ini beberapa sumber air bersih di Klaten telah diakuisisi perusahaan dan dijadikan objek wisata. Barang-barang berkarat ditenggelamkan di sana demi memenuhi hasrat berfoto. Secara sporadis beberapa daerah yang memiliki sumber/umbul air turut menjadikan tempat untuk wisata.

Kemanakah peran pihak yang berwenang mengatur semua itu? Haruskah cadangan air bersih kita habiskan saat ini. Membiarkan alam dieksploitasi? Berlimpah air tapi berpolusi. Masih adakah sisa air bersih untuk anak cucu di Klaten?

View on Path

Share

6 thoughts on “Masih Adakah Air Bersih untuk Anak Cucu di Klaten?

  1. waiki, topik hangat di malam yang dingin *insert CEILEH yang gede disini*

    jaman dulu, jamannya perusahaan air mineral kemasan belom ngehits, kita sangat ngegampangin air, karena air tinggal ambil aja kan ya? sekarang, jamannya air mineral kemasan jadi bagian dari antrian sembako, kita jadi ngegampangin sumber air… karena air tinggal beli. Suka lucu memang manusia ini, padahal sumber daya yang paling berharga adalah sumber daya yang tak lagi bisa dinilai dengan butir-butir rupiah hasil ‘nyambut gawe’ dari subuh sampe subuh lagi ituh.

    1. begitulah, gi.
      seakan air limbah itu akan mudah dikelola kelak saat air bersih telah sulit diperoleh.
      bay the way ge, 40 menit yang lalu sebelum aku membalas komentarmu. artikel ini telah di heck dan aku masih juga dikatain isis. xixixi

  2. Tulisan yg menarik dan mencuri kesadaran kita…
    Setuju sama mbak elzha
    Air yg tanpa kita sadari telah dibawa lari dari kemurnian kwalitas dan fungsinya
    Seperti contoh persoalan air irigasi di wilayah Polanharjo dan Wonosari yang dahulu dibilang ar mengalir sepanjang masa, sekarang menjadi air mengalir sepanjang Entah kemana ku tak tahu, air irigasi terbatas menyebabkan menurunnya produksi pertanian padi.
    Dari mana sebab aku tak berani bilang tapi bisa jelas kita tebak.
    Birokrasi dan birokrasi, money dan money, simbiosis mutualisme yg lekat tak bisa berkutat untuk dibawa beranjak menuju kebaikan.
    Salut buat mbak elzha yg sudah membawa tulisan ini. Dan semoga bisa menjadi lantaran perubahan yg lebih baik.

    1. Aamiin Terima kasih masukan datanya, Mas.
      Eksploitasi tambang memang berdampak pada kekayaan dan kemiskinan.
      Apapun bentuknya, jika diambil berlebihan justru warga sekitar yang jadi miskin.
      Ternyata tidak hanya tentang air minum pun lahan pertanian. Padahal Polanharjo termasuk lumbung padikan.
      Kita dimiskinkan secara masif dan terstruktur.

  3. Sumber-sumber mata air sudah pada mengering mbak, di tempat simbah di karangnongko, dulu ada 3 sumber yang biasa dipakai buat mandi, mencuci baju ( dialirkan airnya ). Tapi beberapa waktu saya kesana ketiganya sudah g keluar airnya semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*