bloger

Bloger: Berkumpul, bertutur, dan bertindak – Aku sangat menyukai ketiganya. Hampir setiap hari aku berkumpul secara online dan offline dengan berbagai macam karakter manusia. Bertutur tentang banyak hal. Bagiku, membahas 3 isu yang berbeda dalam sehari itu biasa. Belum lagi sisipan curhat tentang rumah tangga atau hal pribadi lainnya.

Energi. Bagaimana dengan energiku? Habis! Iya, habis!
aku butuh doping yang sekali suntik. Tapi di klinik kesehatan itu tidak aku dapatkan. Beberapa hari ini aku menarik diriku menuju sudut yang paling sunyi. Sebuah pertanyaan selalu muncul dalam hati.

Apa yang telah aku lakukan sebagai bloger?

Sudah setahun aku memilih menjadi seorang bloger. Satu hal yang membuatku untuk masuk ke dalamnya: menjadi penulis. Menurutku, menjadi seorang bloger adalah jalan satu-satunya dan ruang paling nyaman untuk bisa menulis sebebas-bebasnya. Menulis adalah caraku bertutur kepada khalayak.

Menatap riuh perjalanan, buih-buih tutur yang mbleber kemana-mana. Jijik. Aku jijik melihat kata-kata yang muncul tentang bagian lain dari diriku. Bagian itu ada mereka yang entah di mana rimbanya. Pertanyaan itu muncul lagi:

Apa yang telah aku lakukan sebagai bloger?

Aku telah berhasil membentuk ruang menulisku sendiri. Bebas menyasar siapa saja. Tapi akhir-akhir ini aku menganggap tulisanku tak beda dengan sampah. Aku kehilangan penjuru. Tulisanku tak pantas berumur panjang di blogku. Lalu sebuah pertanyaan muncul:

Siapa yang telah aku untungkan selama menjadi bloger?

Aku tumbuh di dalam ruang komunitas, organisasi, dan masyarakat. Pertanyaan kritis adalah asupan tiap hari. Harus bisa bertutur untuk menggali dan menyampaikan informasi. Tapi tulisanku dalam ruang ini, justru jauh dari biasanya. Aku kehilangan penjuru. Aku tidak menemukan manfaat untuk komunitas, organisasi, dan masyarakat dari tuturku.

Aku menggeser tatapanku ke penjuru lain. Ada kandil yang hampir padam. Mungkin ia akan hilang jika setiup angin menyapanya. Remang-remang ku temukan kata. Bertindak.

Aku kembali pada diriku yang utuh. Kembali pada rutinitas. Berkumpul, bertutur, dan bertindak. Aku yakin, apa yang aku hidupi saat ini akan menghidupiku kelak.

Selamat pagi kegundahan. Segeralah menguap sebelum matahari memberangusmu dengan paksa!

Share

2 thoughts on “Bloger: Berkumpul, Bertutur, dan Bertindak

    1. Iya, selama ini saya lena. Saya lupa bahwa rumah ini saya bangun dengan ke-aku-an.

      Kadang saya tidak menemukan diri saya pada beberapa tulisan saya.

      Hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*