“Ada artikel di beranda teman, ku baca sampai selesai. Baru aku putuskan untuk klik suka atau sebarkan karena aku peduli dengan diriku, dirimu, dan dirinya.” ~ Elizhabeth Elzha

Aku adalah pengguna aktif internet sejak 2007. Waktu itu umurku masih belia #uhuk. Fesbuk dan yahoo messenger adalah media sosial yang ku gandrungi waktu itu. Warnet tongkronganku untuk sekedar mencari teman ngobrol.

Tidak terasa kehidupan sosialku bergeser. Waktuku lebih banyak untuk bersosial di dunia maya. Meski kemudian sesekali aku kopi darat (kopdar) atau bertemu dengan teman dunia maya dalam kondisi nyata. Tidak kupungkiri, aku juga pernah pacaran dengan teman mayaku, ada beberapa. Hehehe. Walau prosesnya tidak mudah karena aku tipe orang yang tidak mudah percaya. #eh, jadi curhat.

Biasanya kalau aku punya pacar dari dunia maya sindiran bersliweran dari teman-teman, salah satunya sahabatku sebut saja Angrek.

 Anggrek: “Elzha, pacaran kok sama monitor, emang kamu dah ketemu sama dia?”

Elzha: “Belum, sih, kan juga ngak ngapa-ngapain? Masih aman dan gak kontak fisik.”

Anggrek: “Kok, gitu? Kalau tiba-tiba mendatangimu bagaimana?”

Elzha: “Oh, ada jurus khusus itu,”

Yah, aku tipe orang yang mengedepankan rasa curiga. Dulu, saat awal menggunakan media sosial aku harus punya teman kunci. Teman kunci ini memiliki kualifikasi: teman dunia nyata dan bisa dipercaya. Dia menjadi rujukan pertamaku untuk kroscek tentang jadi diri seseorang yang berkenalan denganku. Tentu dengan mengatur permintaan lebih dahulu, biasanya harus ada hubungan pertemanan dengan salah satu teman di media sosialku. Ini demi pertemanan yang sehat. Selain itu, aku sangat mengedepankan norma sosial dunia nyata ketika berinteraksi di dunia maya.

Bukan berarti aku tidak pernah dapat pengalaman buruk meski sudah begitu. Contoh, tidak jarang lho, akun di media sosial itu scammer cinta. Itu tuh, penipuan dengan memasang foto palsu di media sosial dan mengumbar rayuan untuk menjaring korban lawan jenis target penipuan. Biasanya mengumbar cerita memelas/sedih-sedih terhadap lawan jenis dengan lebih dulu PDKT.

Aku pernah mengalaminya sekitar 2010. Aku tertipu 450 ribu tapi uangku kembali namun si penipu langsung memblokirku dari akunnya.  Sekarang aku lebih waspada. Nah, ternyata meski kita merasa nyaman cuma berkomunikasi via internet ternyata ada baper di situ. Mungkin kegadisan/keperjakaan kita tidak terenggut tapi ternyata rekening kita yang direnggut. Apes deh.

Sebenarnya masih banyak ancaman lain yang siap menyerang pengguna media sosial. Apalagi di jaman yang sudah lebih maju ini. Mulai dari retaknya hubungan, pemerkosaan, bulliying, hingga pembunuhan. Hi…. Ngeri, kan? Masih ingat kasus kakak cantik yang tidak mau antri di POM Bensin kemudian menghujat Jogja dan sederetan kasus asusila hingga pembunuhan lainnya? Fakta mencengangkan, Gak percaya? Baca dulu, ya.

Hasil penelitian, Indonesia pernah menduduki peringkat pertama dunia dengan 42.000 serangan cyber crime per hari tahun 2013. Sejak tahun 2012 -2014 berbagai kasus cyber crime yang menyasar Indonesia telah mengganjar kerugian 33,29 milyar rupiah terhadap negara. Artinya setiap 1 kejadian penipuan  tiap 10 hari. Ngeri, ya? Membayangkan saja enggan apalagi kalau sampai kita atau keluarga yang terkena. Mulai saat ini cakap bermedia sosial yuk, jadi user yang cerdas, kreatif, dan produktif.

Kalian tahu kan, UU No. 11/2008 atau yang populer disebut UU ITE. Bermedia sosial sama halnya hidup bersosial di masyarakat secara fisik. Peran UU ITE ini mengekstensifikasi norma dunia nyata dalam dunia maya, kata Prof. Henry Subiakto dalam diskusi publik Cakap Bermedia Sosial , Cerdas, kreatif, dan produktif di Hotel Melia Purwosani, Yk, 27 Mei 2016. Jadi, setiap user sebenarnya punya etika yang harus di jaga.

Diskusi Publik Buku Cakap Bermedia Sosial
Diskusi Publik Buku Cakap Bermedia Sosial

User yang ingin tetap aman bermedia sosial harus:

Cerdas: memperhatikan penggunaan huruf kapital agar pembaca tidak salah menafsirkan, kedepankan konfirmasi sebelum menyebarluaskan informasi, menghindari plagiarisme dengan menjadi pengutip yang baik, tidak menyebarkan informasi privat kecuali melalui pesan pribadi, hindari kalilmat yang mengundang kotroversi apalagi SARA.

Kreatif: menggunakan media sosial sebagai alat berdagang, promosi, atau kampanye. Selain tetap bisa bersenang-senang kita juga bisa berpenghasilan.

Produktif: mengambil dan membagikan manfaat melalui penggunaan sosial media dengan bergabung dalam forum diskusi, profesi, atau pun hobi.

Informasi ini hanya sebagian dari pengalamanku sebagai user media sosial yang diramu dengan isi buku Cakap Bermedia Sosial cerdas, kreatif, produktif yang diterbitkan oleh KOMINFO.  Merasa perlu berbagi karena aku peduli dengan diriku, dirimu, dan dirinya.

Buku Cakap Bermedia
Buku Cakap Bermedia

Buku ini sangat ringan dibaca karena berupa komik. Ilustrasi dan bahasanya aman untuk dibaca usia berapa pun. Di sela pembahasan materi disertai pesan-pesan moral yang dikutip dari tokoh-tokoh inspiratif seperti Joko Widodo, Rhenald Kasali, Albert Einstein, The beatles, mario Teguh, Charles Leadbeater, Aristoteles, Benjamin Franklin, dan masih banyak lagi. Membaca buku ini selain bisa tertawa, sahabat kata juga bisa mendadak jadi bijak khususnya dalam bermedia sosial dan semoga dalam kehidupan sesungguhnya.

Identitas buku:

Judul: Cakap Bermedia Sosial Cerdas, Kreatif, Produktif.

Pengarah: Rosarita Niken Widiastuti.

Redaktur Pelaksana: Siti Meiningsih.

Editor: Rosmiati, Endah M. Sari, Rulli Nasrullah.

Tim redaksi: Farida Dewi Maharani, fera Setia Nuranna, Aditya Ranadireksa, Dimas Tri Hadyanto, Widyana Nurmalasari Lucky.

Desainer dan Illustrator: Ignatius Untung Sumarsono, Saiful Bachri, Bondan PeksoJandhu, Arsoluhur Maskurrohman, baginda Kholid Hidayat Jati, Savira Azaria Andriani, Syahril.

Milik: KOMINFO 2016.

Kemarin ketika diminta mengisi angket oleh panitia diskusi publik buku ini aku lupa memberikan koreksi. Maka koreksinya lewat ini saja. Informasi/identitas buku belum lengkap. Aku tidak menemukan ISBN (tapi, ISBN itu perlu tidak untuk data perpustakaan nasional?), jumlah halaman, ukuran buku, atau itu terlupakan, setelah saya hitung jumlah halaman 156, dengan ukuran  23X18,5X1 cm. Buku ini tidak dijualbelikan, namun dibagikan secara gratis. Jika menginginkan dapat mengirim email ke bidangkesra@gmail.com atau mention twitter @kesrakominfo untuk informasi lebih lanjut.

Jika sahabat kata memiliki pengalaman dalam bermedia sosial sudilah kiranya meninggalkan cerita di kolom komentar. Social media is not something that you “do” instead you have to “be” social ~ Peter Thomson (dalam buku Cakap Bermedia Sosial, 2016: 128).

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*