Sehatea Kunci sebuah Persahabatan

Keluarga kami hidup di tengah-tengah masyarakat yang beragam. Baik dari suku, agama, dan tentunya adat istiadat. Sejak kecil, orang tuaku selalu berpesan; bertemanlah dengan siapa pun tapi kamu harus berjarak. Tak heran jika aku punya banyak teman yang beragam baik dari usia, kebiasanaan, pekerjaan, latar belakang dan tentunya jenis kelamin. Aturan ini tidak berlaku untuk mengangkat seseorang menjadi sebuah sahabat.

Sahabat adalah orang terdekat kedua setelah keluarga. Mencari sahabat bagiku tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menyambut sebuah perkenalan. Aku butuh berproses dalam waktu yang tidak bisa ditentukan untuk mengangkat seorang teman menjadi sahabat. Itu sebabnya mengapa  aku hanya punya segelintir sahabat. Kali ini aku akan berbagi cerita dengan sahabat kata tentang seorang sahabatku.  Read More

Share

Presenter Tv di Jogja; Pengalaman Perdana di Depan Kamera

Presenter Tv Jogja

Sebab naik kelas itu perlu! ~@mbokdhe_ijemz .
“Bu, di Jogja TV kan ada presenternya,” ucapku ketika diminta membawakan acara Serap Aspirasi di Jogja TV.
“Saya maunya Mbak Elzha,” Bu Ririn kekeh.

Aku sedikit tidak PeDe dengan tawaran ini meski sesungguhnya aku bahagia. Hampir setiap hari aku berlatih bicara di kamar mandi, perjalanan, dan bahkan mau tidur pun.

Salam Indonesia, selamat sore hadir kembali Dialog hari ini
bersama saya Elizhabet Elzha…..

kalimat itu aku ulang terus menerus sambil membayangkan moncong kamera di depanku. Adikku pun ikut andil dalam latihan sambil bilang, “suaramu tak perlu dibuat-buat, Kak!” sarannya.

Kalau boleh jujur nih, jadi presenter tv Jogja saat itu selain rasanya nano-nano aku juga belajar banyak hal. Mulai dari mempersiapkan materi, atur napas, menjaga senyum, dan perhatian. Mata harus cepat bergerak, pindah dari kamera, ke monitor timer, monitor master, dan narasumber serta penonton. Semua hal itu harus smooth tidak boleh tertangkap kamera.

Sesungguhnya aku sudah memiliki bekal saat jadi presenter khusus youtube milik perusahaan mjalah di Jogja. Mirip-mirip hanya saja saat itu acara tidak live jadi bisa diulang-ulang. Nah, dari pengalaman yang hanya sebentar itu aku terapkan saat membawakan acara di Jogja TV kemarin. Tapi grogi terus saja datang.

Ketika grogi menyerang aku mulai bicara pada diri sendiri.

Elzha, hari ini kamu adalah yang terpilih.
Artinya, kamu memang mampu.
Tak banyak orang yang beruntung sepertimu.
Bukankah ini cita-citamu? Naik kelas seperti idolamu?
Ada Najwa Shihab dan Tina Talissa. Bukankah kamu pernah bertemu dengan mereka?
Ingat, Tina Talissa sempat mengajakmu sepanggung waktu di Jakarta.
Ini kesempatanmu bahwa kamu memang pantas untuk menjadi presenter seperti mereka.
Ya, Allah. Kamulah pemilik hati dan kendali aku.
Tenangkan diri ini dan lancarkan segala ucap selama acara berlangsung.
Aamiin.

kemudian tarik napas dalam-dalam dan lepaskan perlahan…

Self Talk, itu adalah pesan dari sahabatku, Gun awal tahun lalu saat aku diminta menjadi pemateri MC untuk Pemula di UGM. Dalam ucapku itu sebenarnya tak hanya praktik self talk namun juga ada imitasi. Ketika aku menyebut Najwa Shihab dan Tina Tallisa sesungguhnya aku mengimitasi apa yang mereka lakukan selama ini di layar kaca. Presenter Tv kondang itu memang meginspirasiku. Bahasa tubuhnya selalu ku perhatikan. Mereka memukau sebab jujur dengan apa yang mereka lakukan. Terakhir adalah pasrah. Sekuat apapun kita berdoa dan berusaha Tuhan adalah penentunya. Selain itu jika telah pasrah semua akan terasa ringan ketika menerima hasilnya.

baca http://www.elzha09.com/cara-mudah-jadi-mc/

Jam 17.00 pun tiba. Bapak Produser yang tidak sempat berkenalan menanyakan kesiapan saya, “Mbak Elsa siap?”

sambil mengangguk, “siap.” Pada acara perdana ini aku ditemani Mas Widhiasto. Setahuku beliau narasumber yang pernah aku wawancarai saat acara Kebhinekaan di Jogja. Beliau sangat kooperatif dan membantuku. Kami saling melengkapi untuk bisa membuat suasana lebih cair.

Lima belas menit pertama berlalu mulus, aku berhasil membuka dan menutup sesi. lima belis menit kedua dimulai dan ini giliran Mas Hasto. Sesi per sesi ternyata berlalu cepat. Dan kami berhasil menjadi Presenter TV Jogja anyaran yang seimbang. Konten terkupas sesuai tor. Interaktif via telpon dan penonton dalam studio pun terjadi. Akhirnya aku bisa bilang; Semua hanya perlu dijalani. Tepuk tangan penonton membantu melegakan hatiku.

Pembelajaran yang tak bisa dirupiahkan selama menjadi presenter kemarin; Aku belajar berkoordinasi dengan banyak orang baik tim produksi, koordinator presenter, maketing, make up Artist, dan tentunya para narasumber dan penonton. Olah emosi dan ucapan sungguh penting. Satu lagi, aku harus pandai memilih baju yang feminin. hahahaha.

Aku mundur menuju 5 tahun lalu sambil senyum-senyum. Dulu, sekitar pukul 21.00 aku siaran di Jogja TV ini kali sebagai narasumber di acara Seputar Jogja. Saat itu aku memang berharap kembali ke sana dan sempat ingin melamar sebagai presenter tv. Aku tanya-tanya pada temanku bagaimana caranya melamar jadi presenter tv. NAmun aku belum pernah punya kesempatan sejak itu. Baik untuk datang kembali membawa surat lamaran atau casting. Aku hanya berkesempatan MC di sana sini dan makin sering itu saja seingatku. Dan…

Tuhan memang punya rencana, sebab naik kelas itu harus diusahakan. Berlatih, berlatih, berlatih, dan berjejaring.
Terima kasih semesta.

Share

Curhat Mantan Calon Guru tentang Sekolah Penuh Waktu

Assalamu’alaikum W.R W.B

Selamat Sore, Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru. Pertama saya ucapkan selamat atas pencapaian karir panjenengan, menjadi orang nomor satu di dunia pendidikan Indonesia.

Perkenalkan, saya salah satu mantan calon guru di Indonesia. Dulu selama 4,9 tahun saya belajar menjadi calon guru di salah satu perguruan tinggi negeri Yogyakarta. Tepatnya, saya belajar di jurusan Pendidikan Luar Biasa. Iya, tepat sekali kampusnya di pinggir Jalan Efendi, Yogyakarta.

Saya pribadi memilih jurusan ini dengan kesadaran dan sepenuh hati. Bahkan saya membuka kelas privat di rumah. Tahun 2011-2012 saya punya anak didik sebanyak 24 orang. Persebarannya dari kelas persiapan TK hingga persiapan UN SMP. Karakteristik dan kebutuhan siswa beragam. Mulai dari yang dibilang guru kelas “ketinggalan dari teman sebaya” hingga anak yang berwawasan luas melebihi teman sebayanya.

Bisa dibayangkan betapa kualahannya saya dalam sehari bertemu dengan kelas berbeda, kemampuan berbeda, dan pelajaran yang berbeda pula. Memasuki awal 2013 saya menutup kelas privat karena harus mempersiapkan skripsi. Meskipun, skripsi saya terpending satu smester berikutnya karena saya harus menyelesaikan festival film pendidikan.

Lantas, saya juga mahasiswa yang melaksanakan seluruh rangkaian belajar di kampus termasuk program KKN. Saya juga merasakan mengajar langsung secara semi profesional menjadi guru di sekolah luar biasa bagian E. Itu spesifikasi untuk difabel laras, Pak. Anak dengan gangguan perilaku dan emosi lebih tepatnya. Namun di sekolah itu juga ada anak dengan difabel mental intelektual. Macam-macam, ya, Pak. Saya yakin, Bapak pasti sangat mengerti dengan kondisi lapangan seperti itu.

Selain sebagai mantan calon guru, saya juga pernah menjadi anak didik, Pak. Yaiyalah, mana bisa jadi calon guru kalau tidak sekolah. Betulkan, Pak? Waktu SD saya mengalami sistem penilaian triwulan dan semesteran sampai pada tingkat SMA. Lantas di SMA saya mengalami kurikulum pembelajaran KTSP. Waktu itu saya dan teman-teman menjadi pencicip sistem anyar itu. Lantas dua tahun kemudian ganti lagi dan seterusnya hingga K 13 ini.

Jujur, Pak. Saya tidak mengikuti banyak soal perkembangan kurikulum dan bagaimana persyaratan menjadi guru yang kompeten menurut sistem pendidikan kita. La bagaimana tidak, saya lihat teman-teman guru lain banyak keluahan ini itu soal sertifikasi, pelaporan penilaian, dan beban pekerjaan lainnya. Saya sendiri juga eneg lihat matakuliah kompetensi guru yang isinya sudah sangat melelahkan untuk dibaca.

Selain itu saya juga tidak paham soal PPG. Saya memang tidak mengambil program itu. Karena menurut saya mubadzir toh akhirnya passion saya bukan menjadi guru. Saya lebih cocok ngerjain proyek-proyek kecebong yang duitnya cepet, tidak beban etika moral seperti guru, tidak mumet mengisi form asesmen dan evaluasi siswa tapi pada akhirnya mereka harus diuji serentak dengan batas nilai minimal di akhir pendidikan mereka.

Menurut saya, setiap anak didik adalah unik. Jika ia masuk sekolah harus menjalani asesmen untuk mengetahui kebutuhan dan potensinya seharusnya ketika lulus tolok ukurnya adalah keberhasilan program sesuai dengan kondisinya dari asesmenkan, Pak? Bukan di pukul rata dengan teman sekelasnya. Apalagi dengan teman sebayanya yang ada di kota atau di tritis perbatasan.

Saya kaget, Pak. Bapak mengusulkan sekolah “full day.” Kalau tidak salah artinya belajar penuh di sekolah ya, Pak. Dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore. Usulan bapak ini karena mempertimbangkan agar anak dalam pengawasan karena orang tua sedang sibuk di kantor. Bapak juga berpendapat dengan sekolah penuh waktu, anak bisa belajar mengaji di sekolah dan mengerjakan PR.

Saya yakin Bapak sangat memahami kebutuhan dan hak tumbuh kembang anak. Tidak mungkin kalau bapak tidak memahami. Mantan Rektor dan juga memahami islam berkemajuan. Tapi, Pak, anak didik di Indonesia ini tidak semua orang tuanya pekerja kantoran, lho. Di desa yang sunyi, di tritisan negeri, orangtua mereka masih membutuhkan bantuan anak-anaknya untuk mengais rejeki dengan membantu pekerjaan rumah seperti mengurus ternak atau ladang mereka.

Pak, saya juga pernah belajar full day di sekolah sewaktu SMP-SMA, dari jam 6 (jam ke 0) sampai jam 4 sore. Rasanya le…laa….h sekali. Untung sekolah saya hanya berjarak 5 km saat SMP dan 1 km saat SMA. Jadi dibanding teman saya yang tinggal dipelosok, saya masih cukup beruntung. kelelahan fisik bagi saya tidak sebanding dengan mereka yang harus mandi saat subuh lantas melakukan perjalanan ke daerah kabupaten untuk belajar.

Waktu istirahat yang hanya 15-30 menit kala itu tidak cukup bagi kami untuk bercanda dengan teman. Otak kami hanya dijejali tentang pelajaran. Meski desain pembelajaran menggunakan metode diskusi dan kerja kelompok, bagi saya pribadi tidak cukup untuk membagun sosialisasi positif secara maksimal. Otak kami adanya hanya kompetisi antar kelompok.

Belum lagi, beban PR saya banyak. Pulang sore itu sudah lelah, biasanya tidur sebentar, mandi, makan, dan masuk kamar untuk belajar. Bercanda dengan adek/kakak atau curhat dengan orang tua menjadi hal yang langka. Stres di usia dini jadinya. Termasuk saya. Saya menjadi pribadi yang tidak akrab dengan keluarga. Lebih senang menyimpan perasaan dan kalau ada waktu bicara dengan buku diary.

Sebenarnya yang sibuk itu orang tua atau anak sekolah, ya, Pak?

Jadi begini, Pak. Saya rasa usulan full day itu perlu kajian ulang agar tepat sasaran dan efektif untuk mencapai tujuan pengawasan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Setelah saya menjadi dewasa, kecerdasan sosial emosional itu ternyata sangat penting dibanding kecerdasan intelektual. Kecerdasan Sosial emosional itu tidak dipelajari hanya dengan teori tapi dengan jam terbang yang tinggi. Apalagi, rakyat Indonesia ini berbagai macam suku, etnis, budaya dan hidup bertetangga. Saya rasa meski tetangga mereka juga tidak lantas belajar di sekolah yang sama.

Saya kok khawatir, ya, Pak. Kalau sekolah full day ini dilakukan, sikap egois, kompetisi yang tidak sportif, intoleran, mengendap di diri adik-adik nanti. Khawatir… sekali. Tolong, ya, Pak. Jangan buru-buru diresmikan. Nuwun.

Wassalamu’alaikum WR, WB

Share

Pagiku di Omah Kopi Kenteng Jaya

Temanggung, sebuah kota yang memiliki bentang alam berupa gunung, pegunungan, dan dataran. Komoditas tembakau menjadi salah satu unggulan. Tahukah kalian, kota tembakau ini ternyata surga kopi?

Akhir pekan ini, Temanggung menjadi tujuan piknikku. Pertama aku memilih bermalam di Omah Kopi Mukidi, Jambon, Wonotirto, Bulu, Temanggung. Malam ke dua aku berkesempatan bermalam di Omah Kopi Kenteng Jaya, Kemloko, Soborejo, Pringsurat, Temanggung. Butuh 1 jam menyusuri hutan untuk sampai di daerah itu di bawah cahya purnama. Read More

Share

Ganjaran Secangkir Robusta Organik

Piknik Gila! Demi apa coba aku rela 3 jam duduk di atas jeruk mandarin (nama motor scorpioku yang berwarna oranye). Jarak 75,5 km ditemani hujan lebat dan sesekali petir menyapa untuk sampai di sebuah rumah seorang petani kopi yang tak pernah aku kenal.

Seandainya, semalam aku tidak bertemu dengan Boim dan bicara soal desa dan pendampingan mungkin aku tidak akan sampai di Dusun Jambon, Gandurejo, Bulu, Temanggung, Jawa Tengah. “Aku besok akan ke Temanggung, kalau kamu ada waktu bisa gabung. Di sana ada pendampingan,” kata Boim setelah menyesap kopi wamena.

Aku ragu untuk mengiyakan karena belum pernah pergi ke sana sendiri dan mengendarai motor. Pernah sebelumnya melintas Temanggung saat perjalanan ke Semarang mengendari mobil setahun lalu. Boim melanjutkan tawarannya dengan memberikan iming-iming, “kalau mau minum kopi banyak, pilih jenis kopi, ngobrol sampai pagi, langsung ketemu petani, ya, besok berangkat saja,” telingaku menangkap jelas kalimat ini meski tuturnya pelan tapi mengalahkan berisik obrolan pengunjung kedai kopi malam itu.

“Ok, tapi aku naik motor sendiri, ya? Aduh ini pertama kalinya dan aku belum pernah ke sana?” aku masih ragu meski niatku sudah lebih tebal dari sebelumnya.

“Cobalah, berangkat sendiri pulang sendiri,” tantang Boim.

Ini nih, dia sudah mulai menyerang kelemahanku. Tantangan ini harus aku ladeni. Aku memulai perjalanan tepat jam 14.30 WIB dari kost, Kricak, Jogja. Mendung sudah menggantung di sisi barat dan ternyata tumpah tepat jam 15.00 WIB. Sial, aku tidak membawa jas hujan dan belum mengambil uang di ATM. Jam 16.00 aku baru sampai di jalan Magelang Km 17 tepat di sebuah SPBU dan berkesempatan mengambil uang di ATM kemudian aku membeli jas hujan.

Perjalanan terus berlanjut, aku tak peduli hujan. Semakin lama aku di perjalanan semakin gelap aku sampai Temanggung. Jam 16.30 aku sampai di sebuah SPBU sebelum Armada, Magelang. Hujan reda. Aku melepas sepatu boots kemudian menggantungnya di ujung jok mengarah ke bawah agar air di dalamnya keluar. Bekal sandal jepit aku pakai.

Jam 16.53 WIB gerimis di pertigaan Jalan Kranggan Lor. Aku berhenti di toko 24 jam kiri jalan untuk mengecek informasi terbaru dari Boim. Entah apa yang menjadi alasan Tuhan mengirim hujan lebat lagi sampai di depan RS. Ngesti Waluya Parakan. Berhentilah aku di toko 24 jam lagi ternyata tinggal 8 menit aku sampai di tujuan.

Langit gelap, rumah-rumah mulai jarang, gerimis masih enggan pergi. Kabut mulai menyergap. Aku harus berhenti 4 kali untuk bertanya kepada penduduk di mana rumah Pak Mukidi. Dua kali bertanya aku masih disarankan untuk melanjutkan perjalanan. Sesampainya di penduduk ke tiga ternyata aku sudah kebablasan. Turun lagi. Mengikuti arahan penduduk itu. Eh, masih juga salah. Penduduk ke empat ternyata rumahnya di depan Pak Mukidi tapi aku harus melewati 2 rumah jika mau jalan kaki dan meninggalkan jeruk di halaman rumah penduduk ke empat.

Putar arah lagi menyusuri gang kecil yang licin. Jalanan gang ini terbuat dari susunan batu bata. Sedangkan hujan belum juga reda. Cocok sekali dengan ban jerukku yang sudah mulai gundul bukan. Akhirnya aku melihat lambaian tangan dari arah kiri. Ada 4 orang di teras sebuah rumah, aku menuju ke sana.

“Demi apa coba aku rela menembus hujan sejauh ini,” ucapku setelah bertemu boim yang sedang bercengkrama dengan lelaki entah siapa. Eh, ada mas Joyo juga sih. Aku sampai di Omah Kopi Mukidi, Coy! Aku melihat Kang Denden di dalam rumah sedang sibuk dengan kemasan dan kopi, lalu Parkir lalu menyalami satu per satu lelaki di rumah itu. Singkat cerita aku mandi dan ganti baju.

“Mau kopi apa?” tawar seorang bapak berperawakan kecil kurus, hitam, tinggi. Kang Denden memanggilnya Pak Mus.

“Robusta organik,” jawabku.

Kopi Robusta Organik Roasted by Kopi Mukidi pict- elzha

“Secangkir kopi, sejuta cerita, banyak saudara penuh cinta,”  Mukidi

Kalimat sambutan yang hangat dan bikin baper dari Pak Mukidi saat aku meyesap secangkir robusta organik hasil dari seorang barista bernama Mustofa yang akrab dipanggil Pak Mus. Jarak 75,5 km yang ku tempuh 3 jam karena hujan lebat dari jogja hingga Dusun Jambon, Temanggung tak ada apa-apanya. Kenangan menyakitkan pun amblas. Alah.

Kanan ke kiri: Pak Mukidi, Elzha, Pak Mus, kang Denden by Kadon
Kanan ke kiri: Pak Mukidi, Elzha, Pak Mus, kang Denden
by Kadon

Ganjaran secangkir kopi ini betul-betul membawa sejuta cerita, banyak saudara dan penuh cinta. Apa buktinya? Oh, tenang sabar… Aku sudah kepo ke Pak Mukidi tentang beberapa hal dan akan aku tulis di blog ini salah satunya adalah postingan ini.

kalian punya cerita seru tentang secangkir kopi kalian? bisa dong berbagi denganku di kolom komentar. Terima kasih sudah menyempatkan.

Share

Malam Minggu tanpamu

Sore ini jogja basah ketika Asya memutuskan untuk pulang.

“Ah, doanya para jomblo terkabulkan,” gumam Asya sambil membanting setir ke kiri menyusuri Jalan Pasar Kembang.

“Mungkin memang benar, jomlo sepertiku lebih baik di rumah ketika malam Minggu begini, karna bikin macet.”

“Ini gak adil, lihat saja mereka yang boncengan, pelan-pelan sekali mengendarai motornya.”

Tinnn…. tiiiinnnn. “Ini juga, Woi!” tetap saja suaranya gak mungkin tembus ke luar. Read More

Share