Remuk Semalam

Ada yang remuk semalam.

Setelah kedatangannya, aku harus benar-benar melepasmu.
“Tetaplah untuk ku, Sayang,” bisikmu tengah malam. Mengeratkan tanganmu yang melingkar di perutku.

Aku tak lagi kenal rayuan itu. Bahkan pelukan itu. Malam yang basah benar-benar lebih berkuasa. Baju hangat dan syal di leher berhasil di tembusnya.

“Kembalilah padanya,” lalu hanya angin basah yang lebih riuh saat bibirku menemui bibirmu.

Ruang sepetak itu tak akan lagi menjadi sangkar.
Aku pergi dengan berantakan.

Share

Melipat Malam bersama A

Pada saatnya, janji tak akan aji.
Akan kalah dengan kabar yang belum pernah diumbar. Tiba-tiba di depan mata dan ada tawa yang lega.

Jadi ingat kata temanku yang baru saja melahirkan anak pertamanya sebulan lalu, “jodoh tak pernah disangka dan dinyana. Dia akan tiba pada waktunya yang tak pernah kau duga.”

Tapi, ini bukan soal seserius itu. Hanya soal janji. Ya, janji yang ternyata didahului sahabatnya sendirišŸ˜‚ .
Ia, Aku, dan Dia berkomunitas skala nasional. Dengan Dia belum sama sekali semeja, bicara, apalagi mengasapi diri dengan bakaran tembakau yang terselip di jemari kami. Sama sekali belum. Kecuali aku amnesia ringan. Ingatku, aku pernah menyaksikannya bermusikalisasi puisi.

Sedangkan Ia, membakar tembakau berlinting-linting sambil membicarakan data, dana negara, hingga perundang-undangan. Berjanji Ia padaku, Januari menghampiri kota-ku.

Namun, malam tadi sebuah pesan mampir lewat telegram, “Jogja nihh,” dan akhirnya kami memutuskan bersua.

“Aku ingin ngopi,” inginnya sederhana.
“Kiri, kita menuju kedai kopi sesuai minatmu,” abaku padanya.

Aku mengenalnya sebagai seorang barista dari poto profil telegram dan beberapa potret dirinya di akun instagram.

Tak hanya membakar tembakau, menyesap kopi, meretas kenangan, hingga membicarakan pergerakan, dan sesekali Kami menertawakan diri sendiri. Kami lakukan untuk melipat malam.

Kota-mu – Madura – Jogja – Kota-mu. Ada aku dan kopi di sela perjalananmu. .
Jadi, urip mung mampir ngopi itu benar adanya? Jika tak ada hasrat ngopi, kau tak akan pernah tertawa bersamaku meretas malam dan masa lalu.

Jogja, 2-3 Januari 2018
Melipat malam bersama A
Foto milik A

Share

Januari 2018

Jogja, 01 Januari 2018

 

Semesta,
Jika harus ada air mata, itu hanya untuk membasahi kornea.
Agar aku masih bisa memandangnya dengan sempurna.
Jika harus ada marah, itu hanya untuk melatih jantungku memompa.
Agar aku masih bisa menerima kejutan-kejutan dunia.
Jika harus ada tawa, itu hanya untuk melatih otot pipi dan jadi bahagia.
Agar aku masih bisa menjalani 2018 selayaknya manusia.

Tahun yang diramalkan akan ada sosok baru dan pencapaian.
Januari 2018 pergantian usiaku.
Januari 2018, bagiku sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya.
Aku harus berani menaiki tangga yang lebih tinggi,
dengan atau tanpamu bagiku tak begitu berarti.
Jika esok aku sudah pada titik itu dan kamu akan kembali mungkin aku akan pikir-pikir lagi.

Januari 2018 tak ada resolusi.
Ya, aku akan lebih menikmati pencapaian selama ini.
Lebih tepat untuk istirahat bukan berarti tak berbuat.
Masih dengan konten-konten sosial dan pariwisata.

2018 akan diawali dengan MC tidak?
MC adalah rekreasi, ada atau tidak bukan hal yang mengganggu.
2018 akankah banyak piknik?
Oh, tampaknya memang akan selalu begitu.
Menulis, MC, Komunitas, Piknik, danĀ Jaringan baru.

Share

Rahasiaku Bersama Qwords

#HUTQwords12– Usia yang tak lagi muda membuatku salalu memutar isi kepala. Bagaimana tidak, pencapaian dan nilai sukses di masyarakat terhadap seorang yang dewasa adalah pekerjaan yang mapan. Sehingga, jenis pekerjaan, keuangan, dan taraf kesejahteraan terukur oleh mata telanjang. Pun orang tuaku. Mereka menginginkan aku duduk di sebuah ruang kelas dan menyampaikan pembelajaran.

Bagaimana pun juga jiwaku bukan tipe yang mencintai sebuah rutinitas dan terjerat peraturan. Lebih mencintai tantangan dan bergulat dengan alam. Setahun pertama setelah meraih gelar sarjana, aku bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada advokasi difabel di Jogja. Satu tahun berikutnya aku memutuskan tersesat di jalan yang benar. Read More

Share

Sehatea Kunci sebuah Persahabatan

Keluarga kami hidup di tengah-tengah masyarakat yang beragam. Baik dari suku, agama, dan tentunya adat istiadat. Sejak kecil, orang tuaku selalu berpesan; bertemanlah dengan siapa pun tapi kamu harus berjarak. Tak heran jika aku punya banyak teman yang beragam baik dari usia, kebiasanaan, pekerjaan, latar belakang dan tentunya jenis kelamin. Aturan ini tidak berlaku untuk mengangkat seseorang menjadi sebuah sahabat.

Sahabat adalah orang terdekat kedua setelah keluarga. Mencari sahabat bagiku tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menyambut sebuah perkenalan. Aku butuh berproses dalam waktu yang tidak bisa ditentukan untuk mengangkat seorang teman menjadi sahabat. Itu sebabnya mengapaĀ  aku hanya punya segelintir sahabat. Kali ini aku akan berbagi cerita dengan sahabat kata tentang seorangĀ sahabatku.Ā  Read More

Share

Presenter Tv di Jogja; Pengalaman Perdana di Depan Kamera

Presenter Tv Jogja

Sebab naik kelas itu perlu! ~@mbokdhe_ijemz .
“Bu, di Jogja TV kan ada presenternya,” ucapku ketika diminta membawakan acara Serap Aspirasi di Jogja TV.
“Saya maunya Mbak Elzha,” Bu Ririn kekeh.

Aku sedikit tidak PeDe dengan tawaran ini meski sesungguhnya aku bahagia. Hampir setiap hari aku berlatih bicara di kamar mandi, perjalanan, dan bahkan mau tidur pun.

Salam Indonesia, selamat sore hadir kembali Dialog hari ini
bersama saya Elizhabet Elzha….. Read More

Share

Curhat Mantan Calon Guru tentang Sekolah Penuh Waktu

Assalamu’alaikum W.R W.B

Selamat Sore, Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru. Pertama saya ucapkan selamat atas pencapaian karir panjenengan, menjadi orang nomor satu di dunia pendidikan Indonesia.

Perkenalkan, saya salah satu mantan calon guruĀ di Indonesia. Dulu selama 4,9 tahun saya belajar menjadi calon guru di salah satu perguruan tinggi negeri Yogyakarta. Tepatnya, saya belajar di jurusan Pendidikan Luar Biasa. Iya, tepat sekali kampusnya di pinggir Jalan Efendi, Yogyakarta. Read More

Share