Bukan Begini Caranya

Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun darimu. Supaya kamu tahu aku yang sebenarnya. Kamu pernah bilang bahwa kita memulainya dari awal. Tidak perlu disembunyikan.

Aku juga tak pernah melarangmu berteman pada siapa pun. Tak pernah marah kamu kencan dengan siapa pun. Aku patuh pada janjiku. Tak boleh cemburu padamu.

Aku tak pernah memaksamu untuk selalu denganku. Tapi sebulan sekali aku ingin merasakan bersama mu perlu menggores kecewa lebih dulu. Katamu itu pelajaran untukku. Okay kalau itu pembelajaran, tapi apa iya untuk membangun kepercayaan untuk membangun hubungan yang lebih serius kita harus selalu menelan kecewa?

Aku memang tak bisa menahan ekspresi mukaku. Itu kelemahanku. Tapi apa iya aku terus berlarut-larut bermuka masam di hadapanmu?

Sayang, masih berapa lama lagi aku harus menunggumu menghabiskan harta dan hatiku kemudian aku tagih janjimu. Kamu baling aku harus menerimamu dalam kondisi nol. Tapi sepertinya justru kamu yang task siap dengan rencanamu.

Kekasihku, kamu selalu bilang padaku “belajarlah,” sepertinya orang juga tahu apa yang sudah aku lakukan untukmu. Aku berusaha berproses untukmu tapi apa yang sudah kamu proses untukku dan dirimu?

Aku sungguh merasa kamu tak ingin melanjutkan semuanya. Tapi bukan begini caranya. Bicaralah dan kita selesaikan bersama.

Share

BERPROSES untuk DIRIKU dan HARAPANMU

Selamat pagi, Sayang.

Semoga kamu baik2 saja. Aamiin. Bukannya aku tak mau belajar dari yang kamu sebut “kesalahan”. Bukan aku tak bisa mengalahkan “keegoisan” ketika kamu bilang semua tidak harus sekarang. Dan bukan aku tak “bersabar” ketika kamu akan mengabulkannya lain kesempatan.

Aku yang tak mudah menyimpan ekspresiku, yang tak pandai menjaga perasaanmu, dan yang kasar dalam ucapku, hingga kamu sering mengalah untukku. Bukan tak mau belajar dan memilih stag yang kamu bilang “monoton.”

Bicaralah padaku sebuah alasan kenapa aku tak boleh ini itu di AWAL, seperti yang sering kamu ajarkan padaku. “Kita mau kemana?” dan kamu menanti paparanku.

Tapi, Sayang. Kadang sebuah kebutuhan itu datang bersamaan, saat aku benar-benar membutuhkanmu dan kamu sudah ada “kontrak” dengan teman-temanmu kadang menjadi pelik bagiku.

Insha Allah kalau kamu menjelaskan, “Tidak usah ikut ya, aku sudah janji memboncengkan temanku Si B, karena motornya rusak. Perjalanannya juga jauh. nanti kamu capek dan kamu kan mau belajar bersama Mas Bayu.”

Aku bisa menahan keinginanku.
Aku tidak ingin menuntutmu yang macam-macam kesepakatan di awal masih kuingat lekat2. Dan aku selalu menahan mulutku untuk TIDAK MENGAKUMULASIKAN MASA LALU. Aku harap kamu juga begitu.

Aku yang terus BERPROSES untuk DIRIKU dan HARAPANMU. Tidak ingin menjadi diri sendiri karena belum tentu baik dan memilih untuk menjadi pribadi yang baik. Jaga kesehatan, ya. jangan sampai telat makan.

Share

Pesanmu Keramat

Dua bulan yang lalu, aku berjanji padanya akan menemani ke rumah sakit. Sampai detik ini belum juga aku mendampinginya. Ia adalah lelaki milenium yang tak pernah pipis dari anunya. Nah, malam ini adalah malam ke dua ia mengirimkan pesan permintaan padaku setelah dua bulan yang lalu ia menginginkan namanya disebut di puncak Prahu. Senin, 20 Juli 2015 ia mengirim pesan via BBM Read More

Share

Purnama ke-9

Selamat siang, kekasihku. Ternyata kita sudah menapaki purnama ke sembilan. Banyak yang sudah aku dapatkan dan aku pelajari dari karaktermu.

Aku telah mengambil banyak risiko dalam hubungan ini termasuk yang sudah aku pelajari saat kita masih menjadi teman. Tapi bukan aku, lari dari sebuah risiko. Meski kesakitan, meski menangis semalaman, atau harus lari malam-malam.

bukan salahmu, karena kamu pernah berpesan, “di depan nanti kamu pasti kecewa denganku,” begitu kamu mewanti-wantiku untuk bisa selangkah mengendur. Pun, “kamu akan susah meninggalkanku.”

Suatu saat jika memang kamu tak bisa melihat ketulusanku, aku akan lebih kencang berlari bukan untuk mundur tapi maju untuk meninggalkanmu. Mari kita buktikan.

Kesakitan-kesakitan yang berkoloni dan meminta perhatian kemarin cukup memberiku pelajaran. Betapa dirimu tak perduli lagi pada perasaanku meski kamu sering bilang padaku. “Mereka tak perlu kau hiraukan,” begitu selalu kamu meiyakinkanku.

baik lah, untuk saat ini aku bisa menyembuhkan semua karna kamu bilang, “bahagia itu kita yang menciptakan,” tapi apakah kamu tidak pernah berpikir jika kebahagiaan itu juga dapat muncul dan tenggelam karena orang sekitar? karna kita tidak bisa hidup sendirian. Mungkin maksudmu adalah untuk egois. lain hal.

Ah, itu hanya penilaianku ketika aku marah padamu.

Mari kita buka dengan kepala dingin, bahwa akar masalahnya adalah pada diriku sendiri. Mengambil banyak risiko dan berharap banyak kamu akan memperhatikanku ketika aku sempoyongan membawa dan menyelesaikannya. tapi ternyata nihil. Pernah sekali aku marah padamu. Menuduhmu bahwa aku adalah pacar figuranmu. Itu rasaku hampir sebulan benar-benar aku merasakan jijik padamu.

inginku marah dan mengatakan pada dunia, aku mengendap. untuk apa? pikirku ulang. Semoga cukup aku yang menjadi perasa. dan perempuan selanjutnya bisa lebih tegar dan memang kamu membalas setimpal perasaannya.

Share