Jual Rumah Murah Kediri Bonus Toko

Jual rumah murah kediri- dijual cepat rumah sertifikat hak milik dengan spesifikasi:

Luas tanah: 330 m2 (11 x 30)
Luas bangunan: 231 m2 (11×21)
Bangunan menghadap: Barat, 1 lantai

jual rumah murah kediri
Tampak depan

Jual rumah murah Kediri selain bonus toko juga tanah pekarangan yang masih bisa dibangun atau digunakan untuk bercocok tanam. Telah terbangun:

  • Toko 3×3 meter di bagian depan rumah
  • Ada taman di dalam rumah bagian belakang (1,5 x 3 meter)
  • Tanah kosong belakang rumah 4 x 11 meter
  • Tanah kosong depan rumah 5 x 8 meter
  • Tanah kosong samping kanan rumah 7 x 9 meter
  • Jalan depan rumah aspal (lebar 7 meter)
jual rumah murah kediri
Kamar mandi

Fasilitas yang  ada : Kamar tidur: 5, Kamar pembantu: 1, Kamar mandi: 2, Ruang Tamu, dan Ruang makan, dapur (basah dan kering), garasi ukuran 3x5m, dan 1 carport. Sudah terpasang 1 line telpon, Listrik: 1500 watt, Sumber air: Sumur, Mobil masuk, dan Bebas banjir

Jual rumah murah kediri
Taman belakang

 

jual rumah murah kediri
Garasi

 

Jual Rumah Kediri
Dapur kering

 

jual rumah murah kediri
Ruang makan

 

Ruang tamu kiri

 

Halaman belakang rumah

 

Jual rumah murah kediri
Sisa tanah samping kanan rumah

Lokasi Strategis:

Lokasi dekat dengan Sekolahan, Rumah Ibdah Umat Islam, Pasar, Kantor Kecamatan, Kantor keluarahan, SPBU.  Alamat: Gurah, Kediri, Jawa Timur.

Harga jual rumah murah kediri bonus toko dan bonus ++ lainnya hanya Rp 700.000.000,- Nego. Lingkungan masih memiliki nuansa asri dan sosial yang tinggi. Meski begitu letaknya termasuk ring 1 dengan fasilitas Kota Kediri :

5 menit ke Simpang lima Gumul dan Waterboom,

10 menit ke pusat kota –Mall Sri Ratu, Golden, Ketos–,

10 menit ke Stasiun Kota, Makam Auliya Syekh Wasil, Kantor Pos, Perpustakaan Kota,

10 menit ke kantor Imigrasi, kantor Kabupaten

15 menit ke Terminal Pusat Kota Kediri,

20 menit ke STAIN Kediri, UNP Kediri, Tribakri Kediri

25 menit ke Kampung Inggris Pare,

30 menit ke Pariwisata Gua Silomangkleng,

40 menit ke Pariwisata Gunung Kelud,

Serius untuk membeli rumah murah kediri bonus toko dan bonus++ bisa hubungi: 082243920723 (elzha-WA)

 

Share

Bonggol Jagung, From The Trash to The Gold

Siapa sangka, janggel jagung/bonggol jagung yang telah tua bisa diubah menjadi hiasan dinding dan kap lampu nan cantik bernilai seni tinggi di tangan seorang Stefanus Indri Sujatmiko, S.E. Lelaki yang sehari-hari membudidayakan Ikan Gurameh di Desa Sendangagung ini sudah 8 bulan menyulap limbah bonggol jagung menjadi berbagai bentuk handycraft seperti kap lampu, lampion, tempat tisu, tatatkan gelas, dan lain sebagainya.

Awalnya, Indri sapaan akrabnya, ide itu muncul dari tumpukan bonggol jagung yang telah 2 bulan tidak membusuk di sawah milik tetangganya. Menurutnya timbunan bonggol jagung itu justru dapat merusak kesuburan tanah. Mulailah ia berpikir cara mengubah limbah bonggol jagung menjadi barang yang bermanfaat. Tutur Indri saat saya temui di lapak pameran Gelar Budaya Desa Sendangagung Sabtu (1/10) lalu.

“Bonggol jagung, jika diolah dengan tepat ia akan tahan rayap, rengat, tidak dimakan tikus, dan tentunya bisa menjadi barang yang bermanfaat,” tuturnya. Indri, bersama teman-temannya seorang arsitektur, tukang las, Kriya, dan tukang kayu bekerja bersama untuk bisa menghasilkan olahan kerajinan limbah bonggol jagung ini menjadi bernilai ratusan ribu rupiah.

Satu bentuk yang menarik bagi saya untuk menyambangi lapak pameran Indri adalah Menara Eiffel. “Setiap saya pameran yang laku hanya Menara Eiffel, ini, orang mampir ke lapak saya tidak beli tapi hanya ingin berfoto dengan bonggol jagung ini,” paparnya sembari mengenang para tamu lapak pamerannya. Ia juga menambahkan sempat di tanya oleh pengunjung dan pendamping UMKM Dinas Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta, kenapa tidak membuat ciri khas Yogyakarta saja, Tugu Golong Gilig. Menurutnya, Tugu memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. Untuk membangun satu menara eiffel saja dia membutuhkan waktu selama 3 bulan.

Menara Eiffel dari Bonggol Jagung
Menara Eiffel dari Bonggol Jagung

Bergabung menjadi bagian dari Usaha Mikro Kecil Mandiri Dinas Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Kulon Progo Ia mulai mengembangkan usaha Bonggol Jagungnya. Indri mulai menata usahanya dari membuat master desain, HAKI, pemasaran, dan pengemasan. Indri merasa kesusahan untuk menjual produk kerajinan seharga 100-400 ribu ini. Padahal jika diperhatikan, hasil karya Indri menjawab kebutuhan hotel, restoran, dan tempat-tempat umum yang memerlukan desain interior bernilai seni tinggi. Inovasi dan kreativitas Indri juga kurang maksimal karena pengerjaannya berdasarkan order saja.

Indri melakukan inovasi dan kreasi pada kerajinannya dengan menggabungkan antara bonggol jagung, agel (tali lilitan, berbahan enceng gondok,gedebog pisang, atau mendong), kulit kayu, kayu, dan klobot jagung. Untuk menjaga ketahanan pola, Ia menggunakan mika dan kawat galvanis (kawat anti karat) sekaligus sebagai rangka hasil kerajinannya. Finishing produk kerajinan bonggol jagung ini menggunakan melanin berbasis minyak untuk memberikan kesan mengkilap.

Meski baru 8 bulan merintis kerajinan berbahan dasar bonggol jagung, Indri sudah mulai menerima tawaran untuk membawa produknya di pasar ekspor. Ia mulai membuat inovasi untuk packaging batik yang dikirim dari Bali untuk negara Abudabi dan Eropa. Namun ia lebih berharap produknya dapat diterima dan menembus pasar lokal lebih dahulu.

Selama ini, Indri menggunakan bonggol jagung yang berasal dari daerah Bligo (perbatasan Sleman dengan Magelang) dengan karakteristik bonggol jagung kecil dan kokoh. Kadang ia juga menggunakan bonggol jagung yang berasal dari daerah Klaten dengan karakteristik bonggol besar dan sedikit lebih rapuh dibanding bonggol Bligo.

“Kita ini hidup untuk apa? Kalau masalah rejeki dan uang itu adalah dampak semua sudah ada yang mengatu,” ungkapnya dalam akhir pertemuan kami. Saat ini ia masih bertujuan untuk mengedukasi masyarakat atas inovasi dan kreasinya terhadap limbah bonggol jagung ini. Bahkan ia menawarkan diri untuk bisa melatih dan melibatkan kaum difabel untuk bisa mengolah limbah bonggol jagung ini. “Besok senin, saya akan memberikan pelatihan pada anak difabel dari SLB Minggir untuk pembuatan kap lampu sederhana ini (sambil menunjuk kap lampu berbentuk tabung),” pungkasnya.

Bagi Sahabat Kata yang ingin memesan kerajinan Bapak Indri dapat menghubungi 087849375397 (WA), 512EAC92 (Pin BBM), atau Stefanus73@gmail.com. Ingin belajar dan melihat langsung cara pembuatan kerajinan bonggol jagung di Minggir II, RT 01 RW 03, Sendangagung, Minggir, Sleman, Yogyakarta.

Share

Gelar Budaya Desa Sendangagung

Sabtu (1/10) tepat 51 tahun lalu diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Hari ini, di Desa Sendangagung, Minggir, Sleman telah terlaksana rangkaian acara Gelar Budaya Desa Sendangagung. Terdiri dari 78 Rt, 33 RW, 15 pedukuhan Desa Sendangagung memiliki jumlah penduduk 7.900 jiwa. Desa yang berada di pinggiran bantaran Sungai Progo merupakan desa paling ujung di Kabupaten Sleman berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo.

Selain potensi jumlah penduduk yang banyak, Sendangagung juga memiliki potensi kerajinan, kuliner, tradisi, dan budaya yang masih dilestarikan hingga kini. Terbukti, Setiap pedukuhan hari ini mampu menampilkan setiap potensi yang mereka miliki. Potensi-potensi tersebut disajikan oleh lintas generasi, laki-laki maupun perempuan.

Bertempat di Lapangan Desa Sendangagung, sebuah panggung berdiri menghadap ke timur lengkap dengan peralatan pertunjukan wayang. Tepat di depan panggung berdiri tenda untuk para tamu undangan di apit dengan tenda pameran kuliner dan kerajinan yang ada di Desa Sendangagung. Tepat pukul 13.00 WIB, acara dibuka oleh pembawa acara. Langit tampak cerah udara semakin panas, namun hujan datang tanpa permisi di tengah acara. Tanah becek pun tak dapat terhindarkan.

Seni Sholawatan
Seni Sholawatan

Penonton, tamu undangan, dan pemain pertunjukan saling merapat mencari keteduhan. Hujan mulai deras lapangan makin padat penonton bahkan ada yang rela berdiri di luar tenda dengan payung. Ini adalah bukti, bahwa seni, tradisi dan budaya belum mati. Mungkin hatimu saja yang mati, kak, tak mengerti desa yang terus bergairah dengan seni, tadisi, dan budaya. #eh.

Tari Jeber Jues
Tari Jeber Jues

Seluruh sajian pertunjukan dan pameran dalam Gelar Budaya Desa Sendangagung diperlombakan. Terlibat langsung dalam penjurian, para pendamping budaya Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Ibu Tri, Bapak Susilo, dan Romo Yud, Dosen Widya Mataram. Adapun kriteria yang dinilai dalam perlombaan ini adalah kesesuaian antara pertunjukan, properti, dan kesesuaian sejarah untuk seni, tradisi, dan budaya. Kriterian kemasan, pelabelan, identitas produsen, dan kesesuaian asal-usul daerah dengan kuliner yang diproduksi.

Berbagai sajian kuliner yang dipamerkan dalam Gelar Budaya Desa Sendangagung antara lain wingko, cap jaek, olahan wader (ikan sungai), Keripik talas, Telor Asin, dan Moci. Pameran kerajinan tak kalah hebat ada kerajinan berbahan dasar janggel jagung yang dibuat menjadi hiasan dinding dan lampu duduk. Kerajinan janggel ini ternyata sudah menembus pasar ekspor. Batik Shiboria dalam bentuk kain lembaran, kemeja, kaos, celana, kantong pensil, tas, dan jilbab. Kerajinan bambu dan mendong berbentuk keranjang hias, keranjang buah, topi, serta wadah-wadah serba guna untuk rumah tangga. Seni tradisi wayang kulit yang memang dilestarikan di Desa Sendangagung ini ternyata juga diikuti dengan lestarinya pengrajin wayang kulit.

Kemeriahan Panggung Gelar Budaya Desa Sendangagung dipandu oleh MC yang berdandan seperti bagong dan seorang dalang yang memerankan Semar. Seluruh Seni, tradisi dan budaya yang ada di Desa Sendangagung tampil satu persatu. Pertunjukan Seni antara lain Sholawatan, Jathilan, macapat, Kethoprak Bocah, dan Dolanan Bocah. Pertunjukan tradis antara lain nyadran, wiwitan, dan kunthulan. Pertunjukan budaya antara lain wayang kulit, jeber jues dan badui sekaligus menutup acara pada sesi pertama Gelar Budaya Desa Sendangagung.

Tepat pukul 16.00 WIB, Dewan Juri yang berasal dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Romo Yud melakukan rapat evaluasi kegiatan. Para juri memberikan masukan dan koreksi untuk keberlangsungan dan kelestarian seni, tradisi, dan budaya yang telah ada. Lebih banyak menyampaikan Romo Yud, bahwa kesesuaian busana, pertunjukan, dan properti yang digunakan masih perlu banyak diperhatikan agar kesesuaian sejarah dan nilai budaya daerah benar-benar utuh dipahami oleh warga.

Share

Listrik PLN Mensejahterakan atau Menyengsarakan?

Solar Cell atau panel surya adalah teknologi yang mengubah cahaya surya menjadi energi listrik. Wah, kalau Indonesia musim penghujan cadangan listrik kita nol, donk? Tidak begitu juga, karena energi yang digunakan adalah sinar surya bukan panas surya. Meski kondisi mendung, sinar surya tetap sampai ke bumi dan energinya bisa tertangkap oleh solar cell.

Tulisan kali ini masih bagian dari oleh-oleh saya Minggu (11/9) lalu. Saya akan menyampaikan beberapa hal yang mendasari pentingnya saya berbagi tentang solar cell home system. Panel surya atau solar cell  bukan barang baru lagi di Indonesia. Solar cell ada sejak orde baru telah melanggengkan Kakek Suharto di era 70’an. Empat puluh enam tahun lalu, solar cell ini memang masih menjadi barang mewah. Wong cilik hanya bisa ngimpi untuk menggunakannya.

Tapi mari kita tilik jaman itu, peralatan elektronik rumah tangga masih menggunakan baterai dan tenaga diesel. Aliran listrik belum bisa rata di seluruh Pulau Jawa. Ingat betul kata mamaku, jaman itu kalau mau belajar hanya pakai “dian” atau “petromak.” Penggunaan “dian” ini rata digunakan oleh wong cilik kebanyakan. Paginya ia akan menemui jelaga hitam di hidung akibat semalaman dekat-dekat “dian” untuk belajar. Tidak ada PLN, tidak ada tiang listrik, dan tidak ada rentangan kabel-kabel di jalan. Pasti Indonesia indah kala itu. Bersih dan tidak semrawut.

Instalasi kabel listrik PLN di sebuah dusun
Instalasi kabel listrik PLN di sebuah dusun

Kali ini, saya menemukan hal itu dengan teknologi lebih maju, Dandin solar cell home system di sebuah rumah kawasan jalan lingkar utara Wonosari. Posisi rumahnya tepat di tengah-tengah kawasan ladang jagung. Satu-satunya rumah di dunia, kata tetangganya yang juga memiliki posisi-mirip. Tidak ada sehelai kabel pun terpancang dari tiang listrik di ujung lorong menuju rumah itu. Tiap malam lampunya menyala, TV tidak pernah mati sepanjang hari. Listrik tidak beli. Semua barang elektronik dan yang membutuhkan aliran listrik bisa menyala cuma karena dijemur.

Sejak kebijakan orde baru dengan program listrik untuk rakyat, lahirlah PLN. Sejak itu alat-alat elektronik yang bisa menyala menggunakan baterai atau diesel berubah. Perlu diketahui barang elektronik itu bisa menyala dengan arus DC (arus searah), sedangkan setelah PLN hadir barang-barang elektronik di Indonesia berubah memerlukan arus AC (arus bolak-balik). Arus AC ini hanya pas masuk saja dari sumber listrik dan akan diubah menjadi arus DC oleh rangkaian konventer arus dalam alat elektronik.

Lahirnya PLN siapa yang diuntungkan? Ya, kapitalis dan korporasi. Bagaimana tidak, jika saat itu solar cell diproduksi masal maka harga bisa turun dan terjangkau oleh rakyat. Tapi pemerintah lebih memilih memancangkan tiang-tiang dan merentangkan ribuan kilometer kabel dari gardu listrik hingga ke pelosok. Akibatnya, anggaran negara naik untuk pengadaan alat-alat itu belum lagi kalau terjadi bencana. PLN tak jarang lumpuh, biaya perawatan mahal. Rakyat harus sabar jika alirannya diputus untuk sementara waktu dengan alasan perawatan atau event-event tertentu pada jam-jam produktif. Pengalaman Yudan yang hidup di Gunung Kidul tahu betul perilaku PLN ini.

“Contohnya saja jika ada kegiatan terjun payung di Kodim Wonosari, aliran listrik PLN ini diputus sampai acara selesai demi keamanan si penerjun. Siapa yang rugi? Jam-jam produktif rakyat harus bayar listrik untuk usaha tapi listrik dimatikan. Usaha tidak jalan,” ucap Yudan penuh keprihatinan.

Dalih pemerataan sumber daya alam dan energi, PLN bisa kita anggap sebuah pemborosan. “Analoginya seperti ini, kebutuhan lampu (hemat energi), barang elektronik itu sebenarnya butuh arus DC. Tapi, Arus DC itu seperti aliran air makin jauh jangkauannya makin sedikit tegangan yang tersisa. Tapi kalau arus AC kerjanya bolak balik, tegangannya stabil. Tapi arus AC butuh media penghantar yaitu kabel.”

Bapak yang sekarang telah berusia 41 tahun ini berharap, “Apa tidak sebaiknya, PLN itu menyediakan solar sel sebanyak 1000 lembar dan dibagikan kepada 1000 rumah. PLN tidak perlu memasang tiang listrik, memancang ribuan kilometer kabel, dan personil PLN tidak kualahan dalam memberikan pelayanan dan perawatan. Biaya makin murah.”

Saya sepakat dengan pemikirannya, kalau mau boros ya boros sekalian tapi pada energi yang memang melimpah. Energi sinar surya tidak akan habis sepanjang usia pakai kita. Semua hanya akan dikembalikan pada kita dan komitmen pemerintah. Mau mensejahterakan atau justru menyengsarakan rakyat.

Praktik-praktik solar cell saat ini sudah digunakan untuk lampu apill, lampu jalan raya, dan beberapa perusahaan yang sadar akan penghematan energi. Tapi kapan hal ini bisa dipraktikkan sampai di pelosok negeri agar saudara kita juga bisa menikmati informasi yang disiarkan melalui alat komunikasi seperti radio, TV, dan signal internet. Demi Indonesia yang bebas jebakan jerat kabel.

Share

Solar Cell Home System Agar Anak Tidak Takut Gelap

Minggu (11/9) kemarin, yang katanya termasuk long weekend saya tetap bekerja. Karena seminggu sebelumnya saya sudah ada janji dengan seseorang untuk urusan terapi diet menurunkan obesitas di daerah Wonosari, Gunung Kidul. Waktu yang saya gunakan untuk pekerjaan itu hanya berlangsung 2 jam. Sisanya saya piknik.

Piknik bukan sembarang piknik. Setelah urusan pertama selesai saya bergeser ke Wonosari Kota untuk silaturahmi dengan teman lama. Sekiranya sudah setahun kami tidak bersua. Kabar yang saya dengar dia telah menghabiskan uang lebih 100 juta untuk hal gila. “Kalau dibilang satu mobil ava*** ya dapet, Cha,” begitu tuturnya pada saya. “Saya lebih memilih lembaran-lembaran ini daripada membetulkan 4 biji drone,” sambungnya sambil mengajak saya naik ke loteng yang setengah jadi.

Drone, tahu kan? Kamera terbang yang banyak digunakan oleh production house. Iya, dia punya 4 biji dan sedang perlu perawatan. Dzolim bukan, dia biarkan itu parkir di tempat penyimpanan dan menghabiskan ratusan juta demi lembaran-lembaran yang hanya dipasang di atas atap.

Lelaki yang biasa saya panggil Om Yudan ini sehari-hari resmi sebagai bagian dari Pegawai Pengadilan Negeri Bantul, yang tidak resmi mengecoh sana sini dengan hal-hal gilanya. Di antaranya adalah merintis Disaster Risk Reduction (DRR) Gunung kidul, Hanacaraka FM, dan Solar Cell Home System. Ayah dari dua lelaki kecil ini mengembangkan solar cell home system sejak 2005 silam.

Berawal dari keprihartinannya tentang kondisi aliran listrik yang sering mati tengah malam di Dusun Jeruk, Kepek, Wonosari, Gunung Kidul. Salah satu rumah di dusun tersebut adalah tempat tinggal Om Yudan dan keluarga kecilnya. Anaknya, yang kala itu masih kecil takut akan gelap mendorong dirinya untuk membuat jalan keluar. Ia mencari-cari energi yang murah namun tetap bisa memberikan penerangan untuk rumahnya. Ketemulah dengan solar cell di internet.

Om Yudan tidak lantas membuat solar cell home system dengan berlembar-lembar solar cell. Ia mengawalinya dengan selembar solar cell searga 750 ribu untuk menghasilkan daya 50 watt. Waktu itu digunakan untuk penjaga kegelapan saat aliran listrik PLN putus.

baca juga: PLN Mensejahterakan atau menyengsarakan?

Kini, rumah barunya yang berada di sekitar lingkar utara Wonosari full menggunakan solar cell home system untuk penghasil energi listrik. Tidak tanggung-tanggung sekitar 34 lembar solar cell ukuran 1m2 ia pasang di atap rumahnya. Namun, karena keperluannya untuk rumah tangga ia hanya mengaktifkan 17 lembar solar cell.

Ibarat listrik PLN ini adalah meteran foto koleksi Awab Yudan
Ibarat listrik PLN ini adalah meteran
foto koleksi Awab Yudan

Hanya dengan 17 lembar solar cell ia mampu mengisi 2 drum bak penampungan air berukuran 1000m3 dengan pompa air besar, submersible berdaya 1300 watt. Gilaaaa, njepluk iya. Mana ada daya listrik rumah tangga segini? FYI: kedalaman sumur di rumah Om Yudan sekitar 40 m. Belum lagi, daya sisanya masih digunakan untuk penerangan, menanak nasi, setrika, TV LED, alat pertukkangan, dan mesin cuci.

14222257_1172284376169812_1895043217322538143_n
Saklar Pompa Air foto koleksi Awab Yudan

Semua alat yang saya sebutkan di atas saya tes langsung. Wow, listrik aman-aman saja. Dua jagoan tetap asyik nonton TV. Saya asyik nunggu air sampai penuh dan mengucur sebagai tanda penuh. Alat pertukangan, bor, nyala. Penghangat nasi juga nangkring di meja dalam kondisi menyala.

14291729_1173139996084250_7351457904019061005_n
Ini Rice cooker yang pada posisi warm foto koleksi Awab Yudan

Apa yang membuatnya nekat dan melakukan hal gila ini?

“Saya tidak mampu pasang meteran listrik PLN,” jawabnya.

Perlu diketahui bersama, pasang listrik PLN berdaya 1300 watt itu sekitar 5 juta selamanya. Tapi dengan solar cell dia habiskan ratusan juta.

“Energi surya itu melimpah, kenapa tidak digunakan? Listrik tidak beli, kita bisa menikmati sepanjang kita mau,” imbuhnya.

Menurutnya, semua tergantung bagaimana individu menyikapi tentang energi yang melimpah ini (energi surya). Energi yang tidak perlu dibeli dan ramah lingkungan. Jika seseorang berpikir jangka panjang dan berkomitmen serius untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit tabungannya, pasti bisa.

Share

Desa Bawak Bentuk Koperasi Dawet Lestari

Saya muda, pengalaman alakadarnya. Alumni jurusan pendidikan luar biasa. Saat ini memberanikan diri pulang ke desa. Bawa apa? Ndak bawa apa-apa. Mencalonkan diri jadi tim hore di desa. Laiya, mau apa lagi, bertani cuma bisa pakai polibek/botol bekas, beternak cuma bisa giring kambing dari lapangan sampai ke kandang. Ilmu keuangan cuma bisa membelanjakan. Paling pinter cuma usul ini itu. Jadi kamu bawa apa bulang ke desa, zha? Bawa suara.

Kamis (8/9) lalu, saya diminta ketua PKK, Sri Suhartini untuk berbagi pengalaman dalam peran aktif perempuan di desa. Kebetulan saat itu dalam rangka pembagian modal UMKM, program dari bupati periode sebelumnya. Judulnya adalah Bantuan UMKM pengusaha dawet. Modalnya berwujud sepasang gentong dan tempat duduknya, termos es, serta uang tunai 300 ribu.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Desa Bawak, Bapak Ponidi didampingi bendahara desa. Bertempat di Balai Desa Bawak, Cawas, Klaten, beliau berharap agar apa yang telah diterima ini bisa dimanfaatkan bersama. “Jika sudah memiliki usaha, ya bagaimana caranya biar alat ini tidak hanya nongkrong di rumah. Entah disewakan atau bagaimana,” tuturnya.

Jpeg
Penyerahan Modal Tunai oleh Kepala Desa Bawak

Awalnya saya sedikit pesimis. La jelas, bantuan ini tidak tepat sasaran. 27 peserta penerima bantuan ini semua mendapat modal yang sama. Padahal satu kecamatan ada 500 orang yang mendapatkan bantuan sama persis, termasuk desa kami.

Tapi apa iya kita akan menolaknya? Selesai sudah kalau kami menyerah. Ibu-ibu kader Posyandu yang kebetulan mendapat rejeki nomplok ini berbagi pengalaman tentang cara menjadi pengusah yang awalnya tentu berat. Berbagi strategi penjualan dan lain sebagainya. Sesekali kami bercanda. Nah, karena secara otomatis 27 peserta ini adalah kelompok calon pengusaha dawet, maka saat itu juga mereka membentuk koperasi.

Ibu Sri Lestari berbagi Pengalaman menjadi Pedagang
Ibu Sri Lestari berbagi Pengalaman menjadi Pedagang

Koperasi ini disepakati bernama Koperasi Dawet Lestari. Lestari berasal dari nama pengurus yang secara voting terpillih. Ketua, Ibu Sri Lestari. Sekretaris, Ibu Rini Lestari, dan Bendahara Ibu Wiji Lestari. Kami hanya berharap semoga ini langkah awal untuk lestari. Karena aku hanya sebagai tim hore, maka aku hanya bertugas mencatat dan mendengarkan rencana-renacan pendekar Desa ini.

Ibu Wiji Lestari sedang mencatat Iuran Wajib Anggota Koperasi
Ibu Wiji Lestari sedang mencatat Iuran Wajib Anggota Koperasi Lestari

Selanjutnya, koperasi ini digunakan sebagai tempat untuk bertemu dan berbagi pengalaman para pengusaha dawet. Koprasi ini juga akan mengelola keuangan yang ada di dalamnya. Jangan tanya soal cara pengelolaan keuangan di desa ini. Ibu-ibu desa ini cukup jeli memutar uang kemudian digunakan untuk membantu para pengusaha kecil yang kekurangan modal. Hal ini terbukti dari jumlah tabungan PKK dan Posyandu yang sudah ada. Sebagai tim hore saya merasa tidak perlu ubet banyak tinggal mengikuti saja ritme pendekar-pendekar ini.

Share