Yamaha Aerox 155 VVA

Yamaha Aerox 155 VVA Sporty Scooter Premium Buat Mbak-Mbak Tomboy

Yamaha Aerox 155 VVA-Setelah berhasil merebut pangsa pasar konsumen luxury di Jogja dengan NMX, Yamaha tak hentinya berinovasi untuk memanjakan konsumenya. Yamaha Aerox 155 VVA, satu-satunya the real sporty scooter premium. Buat kalian yg suka petualang.

Yamaha Aerox 155 VVA  itu macam robot, guys! Semua teknologi sentuh. keyless. Mesin 155cc. Tanpa bunyi karena ada fitur stop&start system. Jangan khawatir mati di tanjakan karena lengkap dg VVA sistem. Bagasi 25 liter dg tangki bbm 4,6 liter. Tenggang 5 detik mati.
Read More

Share
yamaha xabre

Yamaha Xabre Bikin Wisata Makin Asyik

Yamaha Xabre- Mengendarai motor sport seperti menemukan jiwaku. Kira-kira sudah setahun aku tidak mengendarai Yamaha Scorpioku akibat politik keluarga yang berakhir pada penyitaan dengan alasan aku perempuan. Tapi apa salahnya? Iya itu hanya politik keluargaku. Kerinduan untuk memelintir gas dengan mesin besar sungguh terus membara. Hingga akhirnya aku bisa merasakan one day touring naik Yamaha Xabre. Meski kapasitas mesin hanya 150 cc yang tidak sebesar Scorpioku yang memiliki 225 cc cukup memberikan ruang pembakaran rindu. Read More

Share
wisata asyik naik yamaha

25 Blogger dan Vlogger Wisata Asyik Naik Yamaha

Wisata asyik naik yamaha-Sukses menggandeng 35 Blogger dan Vlogger dalam acara Safety Riding Education at Homebase Yamaha Riding Academy Jogja Nopember 2016. Kini Yamaha gandeng 25 Blogger dan Vlogger Jogja-Jateng untuk wisata asyik naik Yamaha ke Pantai Sepanjang, Gunung Kidul. Sabtu (14/1) lalu terdiri dari 8 Blogger, 1 Vlogger perempuan dan 5 Vlogger serta 11 Blogger laki-laki. Berangkat dari Dealer Yamaha Kalasan, Jogja mereka dilepas dan dikawal langsung oleh Herdyan Tri Kuncoro dari pihak Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM). Read More

Share
yamaha

Aku, Papa dan Yamaha

Sejak usia 8 tahun, Papa sudah memperkenalkan sepeda motor padaku. Ingat sekali waktu itu kami masih tinggal di kampung yang cukup padat penduduk di sekitar Jalan Kaliurang Km 10, Yogyakarta. Seminggu sekali, Papa mengajakku keliling dusun melalui jalan aspal yang lumayan baru menggunakan motor Yamaha Alfa warna hitam. Kakiku memang belum sampai ke tanah, memaksa jinjit pun tak sampai. Namun kakiku bisa menginjak postep. Papa duduk dibelakangku. Hal pertama yang ku pelajari adalah memahami isi stang motor (saklar starter, lampu, klakson, rem),  mengatur gas dan memindahkan gigi, waktu menekan saklar sein, membelok, dan etika menyebrang serta mengerem.

Sejak mengerti cara mengendarai motor, justru papa tidak mengizinkan aku bepergian sendiri tanpa pengawasannya. Papa juga tidak membelikan helm khusus untukku, ini alasan kuatnya agar aku tidak pergi sendirian menggunakan motor. Barulah SMP kelas satu, Papa menyuruhku mengendarai Yamaha F1, motor kurus 2 tak yang sudah menggunakan kopling. Masha Allah, empat tak saja belum pernah mengendarai secara rutin tapi sudah langsung disuruh membawa motor kopling. Kali ini papa bilang, “caranya sama, saat gas kamu tarik kopling kamu lepaskan perlahan, jika dirasa gas mau habis tarik lagi koplingnya dan ulangi,” apa yang terjadi? Motor gak jalan-jalan. Lepas kopling ya mati, nyalain lagi, begitu seterusnya sampai kakiku kaku karena double starter gak hidup.

Belajar menggunakan motor bagiku bisa disebut otodidak, bagaimana tidak papa hanya seperti buku teks. Tapi papa selalu berpesan, “mengendarai motor itu mudah, tapi menjaga keamanan diri dan pengendara lain di jalanan itu susah. Kita sudah berhati-hati, tapi yang lain belum tentu.” Sejak itu papa betul-betul mengizinkan aku mengendarai di jalan raya pada saat usia 16 tahun. Kali pertama aku dibiarkan menembus dinginnya subuh dari Jogja menuju Sragen. Saat itu aku dan mama harus tinggal di Sragen sedangkan Papa masih di Jogja karena tugas negara. Inilah awal dari kebiasaan menempuh rute Sragen, Solo, Klaten, Karanganyar, Jogja, Magelang, Gunung Kidul, Kulon Progo sendirian.

Yamaha Mio Sporty ini sudah turun tahta pada adikku yang masih SMA
Yamaha Mio Sporty ini sudah turun tahta pada adikku yang masih SMA

Tahun 2009 aku kembali ke jogja. Aku berkesempatan kuliah di UNY jurusan PLB. Papa membelikan Mio Sporty warna putih untukku. Aku menamainya Pedhet (anak sapi). Gak bertahan lama, hanya 2 tahun aku mengendarainya. Bukan apa-apa, gesit memang dan cocok jika digunakan untuk aktivitas di dalam kota. Tapi aku merasa gagu dan gagal feminin dengan mio. Akhirnya mio itu untuk adik perempuanku.

Papa mengendarai Yamaha RX-King saat itu. Beberapa kali aku disuruhnya mengendari motor yang tanpa anak kunci itu. Tapi hanya dipakai untuk ke warung dan di dalam kampung. Jika berada di jalan raya aku hanya diizinkan membonceng. Tepat tahun 2010, Om ku memberikan Yamaha Scorpio Z padaku. Aku menamainya Jeruk mandarin karena warnanya oranye. Inilah motor paling setia yang sudah menemaniku naik gunung, turun ke pantai, mengelilingi kota, dan mempertemukanku dengan banyak saudara, serta berbagai cuaca. Darinya aku belajar memperhatikan banyak komponen yang tidak pernah ku mengerti. Aku jadi rajin kebengkel untuk servis, mencuci motor sendiri, dan memperhatikan hal-hal kecil seperti lampu yang mulai redup serta tekanan ban tiap hari.

Istirahat perjalanan menuju Pantai Jungwok, Gunung Kidul. 2015
Istirahat perjalanan menuju Pantai Jungwok, Gunung Kidul. 2015

Jeruk mandarin sudah sepert pacarku sendiri. Kemana-mana aku bersamanya. Rute terakhir yang pernah kami tuju adalah Jogja-Temanggung. Saat itu aku berangkat dari Jogja jam 15.00 mendung sudah menggantung di langit. Benar saja baru sampai Jombor hujan turun dengan lebatnya. Beruntung, aku membawa jas hujan. Aku nekat memacu Jeruk Mandarin. Tujuan kami adalah Rumah Kopi Mukidi melalui jalur Kendal. Rute yang sama sekali belum pernah aku lalui. Hanya mengandalkan papan rambu-rambu warna hijau dan GPS (gunakan penduduk setempat).

Rute Jogja-Temanggung itu naik turun, dan berkelok. Sama seperti rute Jogja-Wonosari, Jogja-Wanasobo, Jogja-Semarang. Yamaha Scorpio Z ku ini sudah terbiasa dengan rute itu. Aku modal bensin dan Yakin, tersesat karena salah jalur bagiku adalah bonus yang harus dinikmati. Sekitar pukul 20.00 aku baru tiba di Rumah Kopi Mukidi, alhamdulillah Yamaha Scorpio Z ku tetep tegar dan tidak ngambek. Tapi aku, yang akhirnya sedikit flu. Esoknya, kami harus pindah ke Kenteng Jaya, perbatasan Temanggung dan Semarang. Masih demi kopi dan silaturahmi.

Hadiah Sepatu PDL dari Papa. Menemaniku Jogja Temanggung. 2016.
Hadiah Sepatu PDL dari Papa. Menemaniku Jogja Temanggung. 2016.

Tapi sekarang kemesraanku dengan Yamaha Scorpio Z hanya bisa dinikmati dari tulisan ini. Sudah 6 bulan lalu setelah papa menghadiahi sepatu PDLnya padaku untuk perjalanan Jogja-Temanggung. Papaku menarik Yamaha Scorpio Z ku dengan alasan yang menurutku kurang bermutu. Hanya karena aku perempuan dan tidak pantas mengendarai motor laki yang justru keluar dari mulut tetanggaku. Akhirnya, aku ngambeg dan tidak mau mengendarai motor matic yang disiapkan untukku. Meski begitu bukan berari aku betul-betul bebas dari motor laki. Hahahaha.

Sejak aku kenal dengan Komunitas Yamaha Riding Academy (YRA) Yogyakarta, aku masih bisa mencicipi berbagai seri motor laki. Hihihihi. Tiap hari minggu mereka mengadakan latihan bersama di Hombase YRA, Sayap Barat Stadion Maguwoharjo, Jogja yang dibuka untuk umum. Nah, di situlah aku melampiaskan naik motor sport lagi. Selain didampingi para instruktur profesional aku juga berkesempatan mencoba produk-produk motor sport Yamaha seperti Xaber, R15 dan R25. Mengendarai Yamaha R25 awalnya sih biasa saja, merasa tarikannya tak jauh beda dengan Yamaha Scorpio Z yang semakin ngebut makin enteng. Setelah tahu, baru sadar ternyata mimpi naik motor 250 cc diwujudkan bareng Yamaha.

Yamaha R15, lokasi Home Base YRA Yogyakarta. 2016
Yamaha R25, lokasi Home Base YRA Yogyakarta. 2016

Terima kasih, Papa dan Yamaha. Tanpa kalian kenangan dan sekarang tidak pernah ada. Ini pengalamanku bareng Yamaha, mana pengalamanmu?

Share