Suatu hari aku bertanya pada diriku, kapan terakhir aku tersenyum lepas dan merasakan kepala dan tubuhku terasa ringan? Ingatanku sulit merangkak ke belakang, entah kapan terakhir aku bisa merasakan itu. Aku hanya ingat bahwa hari-hariku penuh sandiwara dan tenggat kerja.

Lalu aku bertanya kembali kepada diriku, kapan terakhir aku memberikan kepunyaanku untuk orang lain? Aku menghelas napas, rasa-rasanya hariku sudah terampas dan aku lupa akan hari untuk diriku sendiri.

Aku masih terus bertanya kepada diriku, kapan terakhir aku membaca buku-bukuku, mengelapnya, dan sekedar menata ulang  file yang hadir beberapa bulan terakhir? Rasanya semua sudah seperti sangkar burung, bahkan aku tak ingat lagi dari mana hadirnya file-file baru itu.

Aku butuh piknik! Bukan sembarang piknik!

Tampaknya jiwaku sudah mulai kosong. Akhir-akhir ini telingaku terlalu bising sebab pesanan dari kanan kiri. Tubuhkku bak robot yang selalu diberi pelumas agar luwes bergerak. Hingga suatu ketika aku memutuskan untuk mengambil napas dan sesaat mengabaikan ratusan notifikasi dari 10 group WA. Tapi entah, satu WA pribadi mampir dan rasanya memang perlu segera aku tanggapi.

Ternyata WA dari Mas Herdyan Yamaha Jogja. Beliau memberi kabar bahwa Yamaha mengundang sekitar 30 blogger untuk berbuka bersama dan berbagi buku untuk anak yatim. Aku pun menyambut antusias. Seirama denganku ternyata teman-teman yang tergabung dalam group WA Blogger untuk Yamaha juga antusias. Bahkan beberapa dari mereka membawa lebih dari satu buku untuk didonasikan.

Penyerahan donasi buku secara simbolis dari Bloger dan Vlogger. Dok. Yamaha

Bertempat di Goebok Resto, 11 Juni 2017 lalu; aku, Gondes motovlog, dan Setra mewakili teman-teman menyampaikan donasi buku kepada perwakilan Panti Asuhan Putra Islam Giwangan. Lalu dilanjutkan Tali Kasih dari pihak Yamaha. Bonus di acara itu adalah pengetahuan tentang sistem blue core yang dimiliki oleh Yamaha dan buka bersama tentunya. Ye… anak kost dapat makan gratisan. Wkkkk.

Sedikit tentang blue core, nih sahabat kata. Ini merupakan desain teknologi terbaru dari Yamaha untuk menepis bahwa motor yang irit bahan bakar pasti lambat pun sebaliknya. Teknologi blue core ini telah diterapkan pada produk-produk yamaha seperti mio, aerox, dan produk matic baru lainnya. Kunci dari teknologi blue core ini adalah menjaga stabilitas suhu dan mengurangi gesekan sehingga memaksimalkan performa mesin. Jaminannya adalah mesin matic terbaru milik yamaha ini lebih kuat, awet, dan ringan.

Ceria di Bulan Ramadan bersama Yamaha sesi pertama

Foto Bersama Bloger dan Vlogger Yamaha. Dok. Yamaha

Kembali bertanya pada diri sendiri; sudahkah aku merasa lebih baik? Setidaknya bisa bertemu dengan teman-teman motovlog dan blogger dalam acara buka bersama teman-teman panti asuhan serta sedikit memberikan beberapa buku kepada mereka cukup membuatku lebih baik. Setelah acara aku tak langsung pulang tapi justru menginap di rumah Dimas; salah satu bloger yang baru saja jadi ayah. Ya, Ramadhan ini aku jadi budhe dari anaknya Dimas. Hihihihi.

Baca juga: aerox dan wisata asik bersama yamaha xabre

Ramadan tahun ini sungguh terasa cepat sekali, mungkin karena banyak pekerjaan sehingga lupa. Aku beraktivitas seperti biasa, survey lapangan, liputan, bahkan begadang dan menyelesaikan tumpukan pesanan (menulis). Salah satu pekerjaan yang menyita waktu, menguras emosi, dan tenaga tentunya mempersiapkan liputan bersama bloger, fotografer, dan videografer di Mangunan. Setres lagi, deh. Pasti. Aku harus survey dan memastikan seluruh persiapan untuk liputan ke sana beres dan tanpa kendala yang berarti.

Ceria di Bulan Ramadan bersama Yamaha sesi kedua

Tahukan Mangunan, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta? Salah satu daerah perbukitan yang sejalur dengan pegunungan sewu dengan kuliner khas-tiwul. Iya, saat ini Mangunan meraih dua nominasi sebagai Surga tersembunyi terpopuler dan Desa adat terpopuler dalam Anugerah Pesona Indonesia. Sebagai Ketua Bidang Konten dalam kepanitiaan liputan, aku harus melakukan survey lapangan di seluruh destinasi wisata yang ada di mangunan. Naik apa? Ya, jelas naik Yamaha Mio Z, tapi bonceng.

Alhamdulillah menempuh jalanan yang berliku, tanjakan, dan turunan yang curam Si Mio Z ini kuat sambil membawaku. Menurut pemiliknya, medan ini juga sebagai uji coba ketangguhan dan keiritan motor barunya ini. Ternyata, boleh juga katanya. Kalau aku sih percaya, sebab aku pernah bonceng varian Mio GT saat membelah Jogja-Kedung Pedut di pagi buta demi sebuah liputan sunrise di sana.

Survey ke Mangunan ini semua sama-sama diuntungkan. Kok bisa? Iya, tugasku kelar, kami dapat konten dan temanku itu berhasil menguji ketangguhan motor barunya dengan beban hidup seberat 62 kg, yaitu aku. Hihihi. Oh, iya aku belum memperkenalkan temanku itu. Sebut saja dia; lelaki gondrong.

Ceria di Bulan Ramadan bersama Yamaha sesi ketiga

Ini adalah cerita terakhir menjelang Syawal. Bagiku berbagi ceria selama Bulan Ramadhan itu banyak cara. Salah satunya dengan berkunjung di salah satu destinasi wisata tanpa terikat waktu. Kali ini aku bersama lelaki gondrong berkunjung ke mercusuar Pantai Baron yang lagi hitz di Jogja. Letaknya hanya di bukit sebelah kiri Pantai Baron. Jika dari pertigaan setelah TPR, mercusuar yang baru diresmikan tahun 2014 ini tampak putih menjulang sejajar dengan BTS disekitarnya.

 

Mercusuar Pantai Baron dari pintu gerbang. dokpri

 

Lagi-lagi, lelaki gondrong memilih jalur yang tidak biasa. Jalur yang kami lalui dari Jogja, Giwangan, Mangunan, Playen, Pantai Baron, pokoknya medan naik turun dibarengi dengan desir darah ke seluruh tubuh. Jalur paling parah justru dari pintu masuk menuju mercusuar yang masih bebatuan dan tajam. Kami butuh waktu 1,5 jam kalau tidak salah sebab rasanya pantatku sudah cukup panas selama perjalanan. Belum lagi matahari saat itu tepat di atas kepala.

 

Lelaki Gondrong sedang mengumpulkan konten

 

Ohya, untuk masuk ke mercusuar ini per orang membayar 10.000 di TPR, 2.000 parkir motor, dan 5.000 untuk naik ke puncak mercusuar. Jika ingin coba ke sana, siap-siap dengan kondisi badan yang sehat ya, sebab sahabat kata harus menaiki tangga putar sebanyak 8 dan satu tangga tegak untuk sampai puncak. Tepat pukul 12.00 kami berdua sampai di atas.

Huwow, anginya Vroh, kuenceng pol. Kakiku serasa bergetar. Tapi semua terbayar lanskap alam yang sungguh memesona. Sisi kiri dapat melihat Pantai Kukup, Krakal dan seterusnya sedangkan dari sisi kanan dapat melihat baron hingga Baron Teknopark.

 

Aku butuh piknik! Bukan sembarang piknik! Ternyata sudah cukup. hehehe

Dari ketiga perjalananku selama Bulan Ramadan yang cukup padat ini aku menemukan sebuah formulasi. Kebaikan Jiwa dan raga ini hanya bisa kita ciptakan sendiri, meski pemenuhannya akan melibatkan orang lain. Kita tak perlu rumit, sebab hidup ini sudah cukup pelik.

Banyak cara sederhana untuk menciptakan kebahagiaan dan keceriaan. Salah satunya berbagi, baik berbagi kesempatan, pengetahuan, bahkan keceriaan bersama sama. Bentuknya? Ya seperti tiga peristiwa di atas. Bay the way, sebentar lagi syawal. Elzha ucapkan Selamat Lebara, Minal ‘Aidzin wal fa Idzin, Mohon maaf lahir dan batin.

 

 

Artikel Juara 1, Lomba Blog&Vlog Yamaha periode 1-30 Juni 2017:

Share

2 thoughts on “Cara Sederhana Berbagi Ceria di Bulan Ramadan bersama Yamaha

    1. Kan udah masuk liburan Vi, tapi hati2 dan cermat membaca situasi.
      semua jalur lalin diubah selama arus mudik dan balik ya…
      aku tunggu cderita liburannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*