Assalamu’alaikum W.R W.B

Selamat Sore, Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru. Pertama saya ucapkan selamat atas pencapaian karir panjenengan, menjadi orang nomor satu di dunia pendidikan Indonesia.

Perkenalkan, saya salah satu mantan calon guru di Indonesia. Dulu selama 4,9 tahun saya belajar menjadi calon guru di salah satu perguruan tinggi negeri Yogyakarta. Tepatnya, saya belajar di jurusan Pendidikan Luar Biasa. Iya, tepat sekali kampusnya di pinggir Jalan Efendi, Yogyakarta.

Saya pribadi memilih jurusan ini dengan kesadaran dan sepenuh hati. Bahkan saya membuka kelas privat di rumah. Tahun 2011-2012 saya punya anak didik sebanyak 24 orang. Persebarannya dari kelas persiapan TK hingga persiapan UN SMP. Karakteristik dan kebutuhan siswa beragam. Mulai dari yang dibilang guru kelas “ketinggalan dari teman sebaya” hingga anak yang berwawasan luas melebihi teman sebayanya.

Bisa dibayangkan betapa kualahannya saya dalam sehari bertemu dengan kelas berbeda, kemampuan berbeda, dan pelajaran yang berbeda pula. Memasuki awal 2013 saya menutup kelas privat karena harus mempersiapkan skripsi. Meskipun, skripsi saya terpending satu smester berikutnya karena saya harus menyelesaikan festival film pendidikan.

Lantas, saya juga mahasiswa yang melaksanakan seluruh rangkaian belajar di kampus termasuk program KKN. Saya juga merasakan mengajar langsung secara semi profesional menjadi guru di sekolah luar biasa bagian E. Itu spesifikasi untuk difabel laras, Pak. Anak dengan gangguan perilaku dan emosi lebih tepatnya. Namun di sekolah itu juga ada anak dengan difabel mental intelektual. Macam-macam, ya, Pak. Saya yakin, Bapak pasti sangat mengerti dengan kondisi lapangan seperti itu.

Selain sebagai mantan calon guru, saya juga pernah menjadi anak didik, Pak. Yaiyalah, mana bisa jadi calon guru kalau tidak sekolah. Betulkan, Pak? Waktu SD saya mengalami sistem penilaian triwulan dan semesteran sampai pada tingkat SMA. Lantas di SMA saya mengalami kurikulum pembelajaran KTSP. Waktu itu saya dan teman-teman menjadi pencicip sistem anyar itu. Lantas dua tahun kemudian ganti lagi dan seterusnya hingga K 13 ini.

Jujur, Pak. Saya tidak mengikuti banyak soal perkembangan kurikulum dan bagaimana persyaratan menjadi guru yang kompeten menurut sistem pendidikan kita. La bagaimana tidak, saya lihat teman-teman guru lain banyak keluahan ini itu soal sertifikasi, pelaporan penilaian, dan beban pekerjaan lainnya. Saya sendiri juga eneg lihat matakuliah kompetensi guru yang isinya sudah sangat melelahkan untuk dibaca.

Selain itu saya juga tidak paham soal PPG. Saya memang tidak mengambil program itu. Karena menurut saya mubadzir toh akhirnya passion saya bukan menjadi guru. Saya lebih cocok ngerjain proyek-proyek kecebong yang duitnya cepet, tidak beban etika moral seperti guru, tidak mumet mengisi form asesmen dan evaluasi siswa tapi pada akhirnya mereka harus diuji serentak dengan batas nilai minimal di akhir pendidikan mereka.

Menurut saya, setiap anak didik adalah unik. Jika ia masuk sekolah harus menjalani asesmen untuk mengetahui kebutuhan dan potensinya seharusnya ketika lulus tolok ukurnya adalah keberhasilan program sesuai dengan kondisinya dari asesmenkan, Pak? Bukan di pukul rata dengan teman sekelasnya. Apalagi dengan teman sebayanya yang ada di kota atau di tritis perbatasan.

Saya kaget, Pak. Bapak mengusulkan sekolah “full day.” Kalau tidak salah artinya belajar penuh di sekolah ya, Pak. Dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore. Usulan bapak ini karena mempertimbangkan agar anak dalam pengawasan karena orang tua sedang sibuk di kantor. Bapak juga berpendapat dengan sekolah penuh waktu, anak bisa belajar mengaji di sekolah dan mengerjakan PR.

Saya yakin Bapak sangat memahami kebutuhan dan hak tumbuh kembang anak. Tidak mungkin kalau bapak tidak memahami. Mantan Rektor dan juga memahami islam berkemajuan. Tapi, Pak, anak didik di Indonesia ini tidak semua orang tuanya pekerja kantoran, lho. Di desa yang sunyi, di tritisan negeri, orangtua mereka masih membutuhkan bantuan anak-anaknya untuk mengais rejeki dengan membantu pekerjaan rumah seperti mengurus ternak atau ladang mereka.

Pak, saya juga pernah belajar full day di sekolah sewaktu SMP-SMA, dari jam 6 (jam ke 0) sampai jam 4 sore. Rasanya le…laa….h sekali. Untung sekolah saya hanya berjarak 5 km saat SMP dan 1 km saat SMA. Jadi dibanding teman saya yang tinggal dipelosok, saya masih cukup beruntung. kelelahan fisik bagi saya tidak sebanding dengan mereka yang harus mandi saat subuh lantas melakukan perjalanan ke daerah kabupaten untuk belajar.

Waktu istirahat yang hanya 15-30 menit kala itu tidak cukup bagi kami untuk bercanda dengan teman. Otak kami hanya dijejali tentang pelajaran. Meski desain pembelajaran menggunakan metode diskusi dan kerja kelompok, bagi saya pribadi tidak cukup untuk membagun sosialisasi positif secara maksimal. Otak kami adanya hanya kompetisi antar kelompok.

Belum lagi, beban PR saya banyak. Pulang sore itu sudah lelah, biasanya tidur sebentar, mandi, makan, dan masuk kamar untuk belajar. Bercanda dengan adek/kakak atau curhat dengan orang tua menjadi hal yang langka. Stres di usia dini jadinya. Termasuk saya. Saya menjadi pribadi yang tidak akrab dengan keluarga. Lebih senang menyimpan perasaan dan kalau ada waktu bicara dengan buku diary.

Sebenarnya yang sibuk itu orang tua atau anak sekolah, ya, Pak?

Jadi begini, Pak. Saya rasa usulan full day itu perlu kajian ulang agar tepat sasaran dan efektif untuk mencapai tujuan pengawasan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Setelah saya menjadi dewasa, kecerdasan sosial emosional itu ternyata sangat penting dibanding kecerdasan intelektual. Kecerdasan Sosial emosional itu tidak dipelajari hanya dengan teori tapi dengan jam terbang yang tinggi. Apalagi, rakyat Indonesia ini berbagai macam suku, etnis, budaya dan hidup bertetangga. Saya rasa meski tetangga mereka juga tidak lantas belajar di sekolah yang sama.

Saya kok khawatir, ya, Pak. Kalau sekolah full day ini dilakukan, sikap egois, kompetisi yang tidak sportif, intoleran, mengendap di diri adik-adik nanti. Khawatir… sekali. Tolong, ya, Pak. Jangan buru-buru diresmikan. Nuwun.

Wassalamu’alaikum WR, WB

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*