Keberagaman adalah keniscayaan di Indonesia. Menjaga keberadaannya sebagai kekayaan Indonesia paling mutlak jadi kerja bersama. Komunitas merupakan komponen kecil di dalam sebuah mega organisasi yang disebut negara. Bisa juga sebagai miniatur keberagamannya. Sekelompok warga net muda punya komitmen sama, bergerak untuk perdamaian bangsa, sebut saja duta damai dunia maya.

Berada di Jogja sebagai salah satu komunitas Duta Damai Dunia Maya yang selalu bersinergi dengan BNPT melalui Pusat Media Damai akan berbagi pengalaman tentang merawat keberagaman, bertahan, dan bergerak bersama. Sejak 21 Juli 2016 Duta Damai berkerja, kami menyebutnya denyut sinergitas di Jogja untuk Indonesia.

Denyut berarti hidup, adalah takaran berfungsinya jantung pada tubuh manusia. Berkat denyut jantung seluruh tubuh menerima aliran darah beserta nutrisinya sehingga tubuh bekerja maksimal. Pun pergerakan pemuda suatu bangsa dan negara adalah barometer sebuah harapan majunya sebuah peradaban.

Denyut itu ada di dunia maya, seperti namanya duta damai dunia maya. Tujuan dibentuk untuk memproduksi konten-konten positif kontra propaganda terorisme dan radikalisme. Saya bagian di dalamnya. Enam bulan pertama ternyata kiprah duta damai di dunia maya belum tampak.

Sadar bahwa konten-konten radikalisme dan terorisme seperti gelombang tsunami yang tidak bisa ditangani sendiri. Kami berembuk dan memutar otak. Bertemulah pada satu kesepakatan, bahwa pelaku di dunia maya adalah manusia-produsen meski pun proses distribusinya melibatkan mesin di Internet.

Duta Damai perlu merajut sinergitas dengan berbagai pihak

Maka dari itu bekerja di “awang-awang” atau online perlu diimbangi dengan bekerja secara offline. “Mewarnai Indonesia” merupakan gagasan program kegiatan yang telah berjalan sejak Februari 2017 hingga kini. Sebuah perjalanan dari pintu ke pintu untuk mengajak secara langsung Masyarakat Jogja agar aktif memproduksi konten positif dan cerdas di dunia maya. Harapannya, warga net dan masyarakat Jogja tidak terjerumus pada isu radikal dan terorisme.

Baru saja, bulan kemerdekaan berlalu. Duta Damai pun memanfaatkan momentum, bahwa ini saatnya mengulang sejarah untuk menorehkan sejarah. Selama dua hari menyelenggaakan Camp Pesona Kebhinnekaan pada 16-17 Agustus 2017 Duta Damai Jogja mengajak 50 pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang berkumpul di Selo Langit, Gedhang Atas, Sambirejo Prambanan.

Hasil Tracking Hashtag Tranding Topik Indonesia

Seluruh peserta pada hari pertama belajar tentang geoharitage bersama Dr. Didit Hari Barianto  seorang geolog UGM,  memproduksi dan memviralkan konten positif di dunia maya bersama Eko Nuryono Founder Masyarakat Digital Jogja dan Ketua Genpi Jogja, kenduri, sarasehan kebhinekaan bersama Allisa Wahid, Romo Teguh Santosa, Pr, dan Hairus Salim dari LkiS.

 

 

Hari kedua, berburu sunrise, kerja bakti, upacara 17 Agustus dan menyaksikan seni pertunjukan jathilan. Tak hanya itu, Senin, 21 Agustus 2017 berkerja bersama untuk memviralkan kegiatan di dunia maya dan menembus Tranding Topic Indonesia dengan #Pesonakebhinnekaan mengalahkan #KawalUangRakyat.

 

Produksi konten positif sebanyak-banyaknya

Gelombang tsunami konten propaganda tak cukup dilawan oleh segerombolan warga net di dunia maya. Satu-satunya jalan adalah dengan memproduksi konten positif sebanyak-banyaknya di dunia maya. Niscaya, saat warga net aktif membuat konten, maka konten-konten propaganda ini hanya menyasar ruang-ruang kosong di dunia maya. Energi-energi warganet terkuras habis untuk melakukan literasi dan produksi konten positif.

Konten positif sesungguhnya telah tersedia di lingkkungan kita. Hanya saja sebab memakai kacamata kuda, kita lupa. Sudah semestinya, mengangkat semua hal yang bermanfaat untuk khalayak di dunia maya. Media sosial bukan untuk menjauhkan yang dekat bukan pula untuk mengobarkan api permusuhan dan memberangus persatuan.

Bersama geolog, komunitas pariwisata (Genpi) dan berbagai komunitas lainnya mencoba mengangkat beberapa konten positif tentang geoheritage, pariwisata, kenduri (adat/tradisi), kebhinnekaan, serta seni tradisi masyarakat.

Denyut Sinergitas di Jogja untuk Indonesia

Sebulan lalu, saya mendapat kiriman buku karena lolos menjadi partisipan kuis yang diadakan oleh Aku.dutadamai.id bekerja sama dengan PARA Syndicate berjudul Ekologi Demokrasi, sebuah buku alih bahasa The Ecology of Democracy: Finding Ways to Have a Stronger Hand in Shaping Our Future  karangan David Mathews. Sebuah kutipan saya sepakati:

“jangan pernah meragukan bahwa sekelompok kecil warga yang berkomitmen dapat mengubah dunia; itulah yang selama ini terjadi,”- Diatributkan ke Margaret Mead (Mathews David, 2017: 29).

Duta Damai Jogja dengan anggota aktif  15 orang. Pengalaman membuat Tranding Topic Indonesia #PesonaKebhinnekaan di bulan lalu adalah sebuah pencapaian kerja bersama kami. Bahwa memviralkan sebuah konten tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu adanya kerja bersama antara pemilik konten (geolog, warga masyarakat-pelaku seni tradisi), kreator konten sebagai produsen kkonten, dan buzzer sebagai penyebar konten.

Semua dilakukan berdasarkan rencana, jika salah satu komponen di atas tidak ada, maka tidak akan mungkin terjadi penyebarluasan konten positif. Pun mengangkatnya di dunia maya perlu momen dan start secara bersamaan.

Lalu sipakah yang diuntungkan dalam kerja bersama saat itu? Semua mendapat dampak dan impact sesuai dengan porsinya:

  1. Peserta, mereka mendapat ilmu baru dalam teknik memproduksi dan memviralkan konten positif di dunia maya.
  2. Penyelenggara sukses dalam programnya menyentuh warga net untuk memproduksi konten positif.
  3. Warga setempat (lokasi-kebetulan destinasi baru) menjadi lebih dikenal di dunia maya sehingga dapat meningkatkan jumlah pengunjung.
  4. Pendukung acara seperti dinas Pariwisata DIY, Dinas Pariwisata Kab Sleman terbantu dalam melakukan promosi destinasi wisata.

Selama terjadi timbal balik, maka sinergitas terwujud dan kerja bersama adalah kuncinya. Semoga semakin banyak warga net yang sadar bahwa dirinya harus aktif dan produktif melakukan kontra propaganda terorisme dengan mengangkat isu-isu positif melalui akun media sosial mereka.

 

 

*Tulisan ini menang sebagai tulisan favorit pilihan Dewan Juri. Tulisan yang dikirim 30 menit sebelum batas penutupan.

Denyut Sinergitas di Jogja untuk Indonesia

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*