Saya muda, pengalaman alakadarnya. Alumni jurusan pendidikan luar biasa. Saat ini memberanikan diri pulang ke desa. Bawa apa? Ndak bawa apa-apa. Mencalonkan diri jadi tim hore di desa. Laiya, mau apa lagi, bertani cuma bisa pakai polibek/botol bekas, beternak cuma bisa giring kambing dari lapangan sampai ke kandang. Ilmu keuangan cuma bisa membelanjakan. Paling pinter cuma usul ini itu. Jadi kamu bawa apa bulang ke desa, zha? Bawa suara.

Kamis (8/9) lalu, saya diminta ketua PKK, Sri Suhartini untuk berbagi pengalaman dalam peran aktif perempuan di desa. Kebetulan saat itu dalam rangka pembagian modal UMKM, program dari bupati periode sebelumnya. Judulnya adalah Bantuan UMKM pengusaha dawet. Modalnya berwujud sepasang gentong dan tempat duduknya, termos es, serta uang tunai 300 ribu.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Desa Bawak, Bapak Ponidi didampingi bendahara desa. Bertempat di Balai Desa Bawak, Cawas, Klaten, beliau berharap agar apa yang telah diterima ini bisa dimanfaatkan bersama. “Jika sudah memiliki usaha, ya bagaimana caranya biar alat ini tidak hanya nongkrong di rumah. Entah disewakan atau bagaimana,” tuturnya.

Jpeg
Penyerahan Modal Tunai oleh Kepala Desa Bawak

Awalnya saya sedikit pesimis. La jelas, bantuan ini tidak tepat sasaran. 27 peserta penerima bantuan ini semua mendapat modal yang sama. Padahal satu kecamatan ada 500 orang yang mendapatkan bantuan sama persis, termasuk desa kami.

Tapi apa iya kita akan menolaknya? Selesai sudah kalau kami menyerah. Ibu-ibu kader Posyandu yang kebetulan mendapat rejeki nomplok ini berbagi pengalaman tentang cara menjadi pengusah yang awalnya tentu berat. Berbagi strategi penjualan dan lain sebagainya. Sesekali kami bercanda. Nah, karena secara otomatis 27 peserta ini adalah kelompok calon pengusaha dawet, maka saat itu juga mereka membentuk koperasi.

Ibu Sri Lestari berbagi Pengalaman menjadi Pedagang
Ibu Sri Lestari berbagi Pengalaman menjadi Pedagang

Koperasi ini disepakati bernama Koperasi Dawet Lestari. Lestari berasal dari nama pengurus yang secara voting terpillih. Ketua, Ibu Sri Lestari. Sekretaris, Ibu Rini Lestari, dan Bendahara Ibu Wiji Lestari. Kami hanya berharap semoga ini langkah awal untuk lestari. Karena aku hanya sebagai tim hore, maka aku hanya bertugas mencatat dan mendengarkan rencana-renacan pendekar Desa ini.

Ibu Wiji Lestari sedang mencatat Iuran Wajib Anggota Koperasi
Ibu Wiji Lestari sedang mencatat Iuran Wajib Anggota Koperasi Lestari

Selanjutnya, koperasi ini digunakan sebagai tempat untuk bertemu dan berbagi pengalaman para pengusaha dawet. Koprasi ini juga akan mengelola keuangan yang ada di dalamnya. Jangan tanya soal cara pengelolaan keuangan di desa ini. Ibu-ibu desa ini cukup jeli memutar uang kemudian digunakan untuk membantu para pengusaha kecil yang kekurangan modal. Hal ini terbukti dari jumlah tabungan PKK dan Posyandu yang sudah ada. Sebagai tim hore saya merasa tidak perlu ubet banyak tinggal mengikuti saja ritme pendekar-pendekar ini.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*