Sebagai perempuan katanya harus pandai merencanakan masa depan. Seperti falsafah jawa, “Wong wedok iku daringan” maksudnya, perempuan adalah penyaring, tahu bagaimana membelanjakan uang. Apalagi dizaman now yang semua kebutuhan itu mahal. Jika tak pandai mengatur keuangan bisa-bisa terjebak hutang.

 

Aku, perempuan yang hampir memasuki usia 30 tahun. Sebagai seorang freelancer, besar tantanganku untuk bisa memperoleh, menyimpan, dan membelanjakan penghasilan. Tak sedikit teman-temanku bertanya tentang caraku mengatur keuangan.

 

FYI, Sahabat Kata. Pekerjaanku full freelancer dan hidup-menghidupi komunitas. Aku hidup bermodal diri dan peralatan elektronik yang harganya gak murah. Semua peralatan itu aku beli dengan keringatku sendiri. Betul-betul dari nol. Bisa membayangkan?

Beruntung Tuhan membekaliku dengan kemampuan komunikasi yang lumayan sehingga aku bisa cari peruntungan dengan menjadi pembawa acara, kemampuan menulis sehingga aku bisa bekerja sebagai bloger dan juga penulis untuk broker naskah, dan kemampuan lain untuk mengurusi orang lain alias pengorganisir. Betul banget dengan begini hidupku selalu dalam ketidakpastian baik secara kesehatan dan finansial.

Jajan boleh, tapi ingat menabung

Aku masih punya satu pekerjaan lain, yang aku anggap sebagai identitas sosial. Tahu sendirikan, kalau di kampung pasti ditanya sudah kerja, di mana? Maka aku mengambil kesempatan disebuah organisasi milik Pemda DIY dengan status pekerja paruh waktu. Se-enggak-nya aku punya penghasilan bulanan yang justru pendapatannya lebih kecil dengan bayaranku sekali membawakan acara seminar atau gathering. Hidup emang selucu itu.

 

 

Sumber Penghasilan dan skala prioritas

Langkah pertama saat aku mulai mengimani jalan sebagai freelancer ini, aku harus membagi pekerjaanku menjadi tiga kelompok. Aku harus punya pekerjaan dengan gaji bulanan, mingguan, dan harian. Gak mungkin kan dapat penghasilan harian kecuali buka toko di rumah. Akhirnya aku mengubah menjadi pekerjaan dengan penghasilan bulanan, dua mingguan, dan dadakan. Hahahaha.

  1. Penghasilan bulanan aku pilih dengan bekerja di salah satu organisasi Pemda DIY. Gajinya aku pakai sebagai jaminan membeli macbook. Keputusan ini aku ambil karena alat tersebut adalah kantorku.
  2. Penghasilan dua mingguan aku pilih dengan bekerja sebagai bloger dan penulis. Keputusan ini mengalami penurunan setelah setahun lalu aku meletakkannya di tumpuan pertama. Nge-blog kalau luang dan memang ada tawaran. Fee-nya bisa aku pakai untuk bayar sewa kamar, menabung, investasi, beli pulsa, dan makan.
  3. Penghasilan dadakan aku pilih dengan menjadi MC dan narasumber bila ada permintaan. Paling tidak dengan memaksimalkan fungsi web pribadiku, tawaran menjadi MC bisa masuk paling enggak 1-3 kali dan sekali untuk jadi narasumber. Karena ketidakpastian itu, penghasilan dari pekerjaan ini aku manfaatkan untuk upgrade diri. Aku pakai untuk ke salon, beli baju, make up, dan kebutuhan membeli buku.

 

Menabung dan Investasi

Bicara soal menabung nih, aku juga punya langkah-langkah. Hahaha. Ini ilmu dari Alm. Papa dan Mama. Prinsip tidak boleh menyimpan uang pada satu tempat/dompet. Sedangkan investasi pun aku juga membaginya dengan berbagai metode.

  1. Tabungan, aku membaginya menjadi cara purba (celengan) dan cara modern (di bank). Penggunaan celengan pun aku perhatikan. Aku lebih suka menggunakan kaleng bekas kue untuk uang pecahan puluhan ribu dan bok untuk receh logam atau uang kertas lima ribuan. Sedangkan bank aku pakai untuk menyisihkan 20% dari penghasilanku sebelum aku gunakan untuk keperluan lain.
  2. Investasi, aku membaginya menjadi investasi emas batangan dan perhiasan.

 

Ternyata, setelah menjalani metode ini, aku tetap memiliki risiko terhadap kesehatanku dan juga kekayaanku (heh, kekayaan yang cuma seupil). Aku baru sadar, ketika ada metode yang lebih simple untuk membantu mengatur masa depanku bersama Prudential Indonesia.

 

Jadi, ceritanya begini. Aku dapat undangan dari teman Blogger, Pak Khun namanya untuk mengikuti peluncuran produk baru. Waktu itu belum tahu siapa yang mengundang. Kejutan gitu, deh ternyata Prudential Indonesia. Bertempat di Mezzanine Eatery & Coffee pada Rabu, 26 Oktober 2018 lalu, aku tercerahkan dengan peluncuran produk asuransi dan investasi (unit link) terbarunya, yaitu Prulink generasi baru  & Prulink syariah generasi baru.

Launching Prulink Generasi Baru dan Prulink Syariah Generasi Baru

Peluncuran produk terbaru ini, menurut Luskito Hambali, Chief Marketing Officer Prudential Indonesia, merupakan hasil dari mendengarkan dan memahami beragam kebutuhan nasabah serta kebutuhan masyarakat di Indonesia akan pentingnya perlindungan jiwa yang mapan, aman dan nyaman.

”Tren di industri menunjukkan produk unit link terus diminati masyarakat dan menjadi pendorong pertumbuhan industri asuransi jiwa,” kata Luskito Hambali saat meluncurkan produk terbaru Prudential yaitu Prulink syariah dan Prulink generasi baru di Jogja, Rabu (26/9).

Luskito sangat bersyukur, karena Prudential terus mendapat kepercayaan masyarakat serta dipercaya sebagai pemimpin pasar melalui produk-produk asuransi jiwa unit link. Kepercayaan masyarakat ini, akan terus dipegang dan ditingkatkan, agar Prudential tetap mendapat hati di masyarakat.

”Kami akan terus meningkatkan keahlian kami, dan kali ini menawarkan kepada para nasabah dua inovasi produk unit link terbaru Prudential, yaitu Prulink Generasi Baru dan Prulink Syariah Generasi Baru,” katanya.

Prulink Generasi Baru dan Prulink Syariah Generasi Baru, menawarkan fitur-fitur utama yang inovatif dan menjadi unggulan. Seperti PRUbooster investasi, yang pertama kali di pasar, dimana nasabah akan mendapatkan tambahan alokasi investasi setiap tahunnya.

Sedangkan PRUbooster proteksi, nasabah dapat memilih agar uang pertanggungannya meningkat setiap tahun, secara otomatis tanpa perlu pernyataan kesehatan. Selain itu, alokasi investasi terbentuk sejak hari pertama. Dan apabila tertanggung meninggal dunia akibat kecelakaan maka akan mendapatkan 2x nilai uang pertanggungan.

Gratis biaya administrasi apabila menggunakan transaksi elektronik:  e-policy, e-transaction statement dan auto debet rekening bank, sesuai syarat dan ketentuan. Yang jelas, kata dia, banyak beragam pilihan manfaat tambahan (rider) termasuk dua rider terbaru, yaitu: PRUtotal Permanent Disablement dan PRUcritical Hospital Cover yang keduanya memiliki opsi konvensional maupun syariah, serta dana investasi sesuai toleransi resiko nasabah.

Sebab, katanya lagi, berdasarkan survey para nasabah, Prudential melihat mayoritas konsumen menekankan pada kebutuhan, seperti mempersiapkan masa pensiun, biaya rumah sakit, pendidikan anak serta perlindungan sakit kritis sebagai alasan utama dalam memiliki produk unit link.

”Masyarakat perlu memahami betul apa kebutuhan masa depan mereka, rencana keuangan jangka panjang dan toleransi mereka terhadap resiko, serta mempelajari jenis-jenis produk asuransi jiwa mana yang sesuai dengan kebutuhan perlindungan mereka sebelum memilih,” jelas Luskito.

Ehmmm, sepertinya memang harus mlipir ke sini biar dikasih lebih. Bagaimana Sahabat Kata, Setuju?

 

#PRUlinkGenerasiBaru #PRUlinkSyariahGenerasiBaru #PastiDikasihLebih

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*