Masdjo

Masdjo-Tidak mudah bergabung dalam jaringan ini. Saya pribadi harus melalui tahap-tahap diskusi.
Ketika pertemuan awal, saya ditanya mulai dari:

“Kesibukanmu apa, Zha?”
“Aku penulis. Aktif di banyak komunitas.”
“Komunitasmu apa aja?
“Salah satunya duta damai dunia maya,” sambil berbisik aku mengatakannya.
“Itu bentukan siapa?”
“Kerjanya ngapain?”
“Di Jogja orang-orangnya siapa aja?”
dan seterusnya dan seterusnya.

Saya tergabung di Masdjo sebagai wakil dari Duta Damai Dunia Maya Regional Jogja. Duta Damai ini kerjanya di belakang gawai, memproduksi konten positif, gerakannya bergerilya. Jika salah langkah bisa saja jadi sasaran teroris dan kelompok radikal termasuk Isis.

Mungkin kalian tidak pernah tahu akun pribadi kami sering diretas, kami diserang lewat komentar bahkan pesan pribadi. Itu hal biasa. Ternyata perjuangan membanjiri konten positif di Dunia Maya ini cocok dengan Visi Masdjo. Loloslah saya mewakili Duta Damai Dunia Maya menjadi jaringan Masdjo.

Langkahnya pun tidak semalam jadi.
Saya harus melewati malam-malam diskusi baru dipercaya untuk ikut acara sana-sini. Kami diskusi secara nomaden karena masdjo belum punya markas. Pindah dari warkop satu ke warkop lain,
dari komunitas satu ke komunitas lain, dari kantor satu ke kantor lain.

Masdjo ini milik pemerintah?
Bukan! sama sekali bukan!

Masdjo merupakan sekumpulan orang gelisah terhadap kondisi sosial Jogja. Kami merupakan jaringan pegiat dunia maya, di dalamnya ada Paguyuban Akun Info Jogjakarta, bloger, vloger, content creator, praktisi media, duta damai dunia maya, serta beberapa komunitas di Jogja. Jaringan kami terseleksi, harus melalui penyamaan visi dan misi.

Orientasi kami bukan materi. Kami sering ngopi-ngopi tapi tidak ada yang bayari.

Mengapa bertahan? Kurang kerjaan?

Kami melihat intangible-benefit bahasa kerennya adalah keuntungan non-bendawi/bukan materi. Tidak berorientasi atau sering menghindari harapan untuk bekerjasama secara transaksional, baik dengan pemerintah atau komunitas lain. Tapi berorientasi pada keuntungan jaringan yang tidak bisa dinilai dengan rupiah. Nilai yang tak terbatas.

Tulisan ini sebagai perkenalan tentang Masdjo yang belum punya jalur pribadi untuk dihubungi. Belum punya akun media sosial apalagi web. Karena kami kerja nyata sampai kami ditimbali Ngarso Dalem (20/2/17).

Kami masih apa adanya, polosan. Umur kami baru 5 bulan.
Lalu, bagaimana kami memperkenalkan diri?
Ya satu-satu, sesuai apa yang mereka wakili-namanya juga jaringan.

Mengutip ucapan Pendiri Info Cegatan Jogja (ICJ), “bukan kerja sama, tapi sama-sama bekerja.”

Bekerja sesuai dengan pos, karakter, kapasitas masing-masing tanpa melepas baju karakter. Terpenting adalah memiliki tujuan sama.

Kami bukan kelompok Hura-hura.
Kami kerja nyata untuk Jogja.
Padahal sebagian dari kami bukan orang-orang Jogja.
Atas nama cinta tanpa diminta membangun citra Jogja menjadi positif baik di dunia nyata maupun Maya.

Kami sering rerasan (mempergunjingkan) soal pemerintah di media sosial. Tapi juga sumbut (berani) memberikan usulan solusi. Tidak asal solusi, karena Jogja ini Istimewa. Akibat rerasan yang tidak membabi buta inilah kami ditimbali (dipanggil) Ngarso Dalem.

“Yogyakarta ya Yogyakarta,” Sri Sultan HB X.

 

Karakternya tidak akan pernah sama dengan daerah mana pun dan tidak akan menjadi sama dengan daerah manapun termasuk Leiden!

Tulisan ini ditujukan kepada seluruh khalayak yang secara tiba-tiba DM/komentar ingin dimasukkan jadi jaringan Masdjo
setelah melihat berita tentang keberadaan kami.
Silakan pikir-pikir lagi karena syarat utama adalah kesamaan frekuensi.

Apa kerja nyata Masdjo?
Salah satunya membuat tranding topik tentang:

#geositenglanggeran kerja bersama Dinas Pariwisata DIY. Terbagi menjadi dua kegiatan (1) Pada 24 Januari 2017 yaitu explore geosite nglanggeran, (2) bedah konten pada 31 Januari 2017.

#internetGembira kerja  bersama dengan AIESEC UPN, safari di 7 sekolah (SMP, SMA, SMK) se-DIY tentang aktivitas berinternet selama Februari-Maret 2017.

#CumaDiJogja  #kangenjamandulu kerja bersama Paijo yang berhasil tranding topik selama 2 hari berturut-turut. Dan beberapa tagar lainnya seperti: #socmedagawegutub #pedestrianmalioboro, #preinangjogja #sugengwarsaenggal #6jamdijogja #jagonganmalioboro #pariwisatajogja .

#PolisiJogjaIstimewa kerja bersama POLDA DIY berhasil tranding topik selama 13 jam pada 21 Februari 2017.

#MewarnaiIndonesia kerja bersama Duta Damai Dunia Maya Regional Jogja (1) Seri Kelas menulis dan blogging bagi pemula pada 22 Februari 2017, (2) Seri Perlindungan Data Pribadi dan Media Sosial pada 18 Maret 2017.

#kratonjogjaid kerja bersama Tepas Tandha Yekti-Keraton Yogyakarta dalam peluncuran potal resmi Keraton pada 7 Maret 2017.

#JogjaMemangIstimewa kerja bersama dalam acara penerbitan buku Jogja Memang Istimewa karya Bambang Yudoyono di Grhatama Pustaka pada 13 Maret 2017.

Axic-Avanza Xenia Indonesia Club jaringan baru kami yang mempertemukan para member club dengan para pegiat media sosial untuk mengingkatkan branding usaha masing-masing membernya pada 16 Maret 2017.

#JogjaIstimewa kerja bersama Gubernur DIY pada 20 Maret 2017.

 

Tapi kalau mau kenalan dengan kami boleh, lho!
Lewat saya atau salah satu dari yang ada di dalam foto di atas. Foto milik Humas DIY.

Share

11 thoughts on “Masyarakat Digital Jogja Biasa dikenal Masdjo

    1. Halo Manda, hasilnya banyak antara lain isu parkir, premanisme, cctv dan akhirnya semua permasalahn itu akan ditangani langsung oleh SKPD terkait.

      Ojek Oline seperti yang kita bahas kemarin, bahwa di undang-undang itu tidak mengatur tentang ojek online hanya kerja sama teknologi antara perusahaan penyedia teknologi dengan perusahan penyedia armada dan driver.

      beberapa tulisan bisa lihat di pojok(dot)dutadamai(dot)id postingan terbaru
      dan di kompasiana(dot)com(slesh)elzha postingan kemarin

  1. Salut, selalu eksis dimana tempat kesempatan untuk berbuat kebaikan itu ada, semoga lancar, selalu dimudahkan, dijauhkan dari marabahaya dan segala kesulitan, Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*