Mataram Culture Festival-Tak ada yang memungkiri, Malioboro makin hari makin memukau. Pedestrian semakin ramah untuk pejalan kaki dan difabel, ruang terbuka semakin luas, bersih, banyak tempat duduk, tempat sampah, dan tentunya pedagang kaki lima pun makin rapi. Sebagai Warga Yogyakarta, kondisi ini membuat penulis tak punya alasan untuk pergi ke luar kota terlalu lama.

Program Revitalisasi Malioboro Pemerintah Daerah DIY sejak 2016 ini direspon baik oleh Dinas Pariwisata Daerah DIY, salah satunya dengan Mataram Culture Festival. Berbeda dengan tahun lalu, Mataram Culture Festival 2 ini digelar secara terbuka di sepanjang Pedestrian Malioboro pada Sabtu, 15 Juli 2017 .

Acara pun terbagi menjadi dua, yaitu Parade Dolanan Bocah yang digelar dari halaman Kantor Dinas Pariwisata Daerah DIY pada jam 14.00 WIB dan berakhir pada pukul 17.00 WIB di Serangan Umum  1 Maret, titik 0 km. Mataram Art Perfomance menjadi puncak acara Mataram Culture Festival 2 di halaman Serangan Umum 1 maret pukul  18.30-20.30 WIB.

Aria Nugrahadi selaku Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Daerah DIY mengatakan, “Seiring program revitalisasi Pedestrian Malioboro  agenda ini (ingin) memberikan daya tarik lebih dari pedestrian melalui dolanan bocah,” ungkapnya kepada penulis saat ditemui sebelum acara di mulai.

 

Megenalkan dolanan bocah melalui interaksi wisatawan

Menurut Aria Nugrahadi acara Mataram culture Festival 2 ini salah satu strategi untuk mengingatkan kepada bangsa ini khususnya para wisatawan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki warisan budaya berupa dolanan bocah yang perlu dilestarikan, dicintai, dan dikenali kembali melalui atraksi dolanan bocah sepanjang Pedestrian Malioboro. Lebih lanjut Aria Nugrahadi menyampaikan, “Ruang di Malioboro ini tidak hanya sebagai ruang wisata tetapi juga sebagai teras budaya sekaligus wisatawan dapat mengenali, dapat berinteraksi dengan dolanan bocah ini.”

 

Interaksi Wisatawan Mancanegara dalam Parade Dolanan Anak. Dokpri

Terbagi di tujuh titik Pedestrian Malioboro, adik-adik memainkan egrang di depan Kantor Dinas Pariwisata Daerah DIY, Bathok di Depan kantor DPRD DIY, Lompat Bambu di depan Malioboro Mall, Jamuran di depan Hotel Mutiara, Lompat Tali di depan Kepatihan, Dakon di depan Ramayana, dan Icipili Mitirimin di depan Pasar Beringharjo.

Seorang pemain dolanan memberikan propertinya kepada pengunjung. Dokpri

Filosifi anak-anak menjadi strategi  panitia Mataram Culture Festival 2 untuk membangun interaksi wisatawan. Secara teknis, anak-anak ini akan menunggu giliran bermain saat penampil pertama, yaitu setelah egrang selesai beratraksi akan mengunjungi titik permainan bathok dan begitu seterusnya sampai permainan terakhir. Seperti halnya anak-anak saat pulang sekolah saling mengunjungi teman sebaya untuk bermain bersama.

Penulis berusaha mengenal lebih dekat salah satu kelompok lompat tali dolanan bocah. Berasal dari Kampung Langenastran di bawah asuhan Ibu Puntodewo, anak-anak ini ternyata sering memainkan dolanan anak. Bahkan lebih serius bersama anggota PKK, Ibu Puntodewo berusaha melestarikan dolanan anak. Ibu Puntodewo menanggapi kegiatan seperti ini dapat melatih mental keberanian anak-anak untuk menampilkan budayanya sendiri. Selengkapnya…

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*