Libatkan seniman berbakat

Lopis dan jajanan pasar, kudapan untuk penonton Mataram Culture Festival 2. Dokpri

Puncak acara Mataram Culture Festival 2 ditutup secara memukau oleh tiga group penari kontemporer, yaitu Tarian Tangan Prajurit Estri, PinKavaleri, dan Anterdans. Dari ketiga penampil ini menyajikan nilai-nilai luhur Budaya Mataram secara atraktif dan modern.

Tarian Tangan Prajurit Estri menyampaikan pesan keterlibatan perempuan yang tak hanya sebagai “kanca wingking” namun juga turut berlga di medan pertempuran. Pinkavaleri menyajikan tarian kreasi kuda lumping dengan membawa properti kuda dan senapan. Anterdans menutup dengan Matar Mitos.

Matar Mitos, Derap-derap genderang benderap. Utara tinggi tegak menjulang. Selatan hamparan luas mengalun. Barat mangulon, Timur mawetan. Tengah mekar dan mewangi. Senyawa, sayekti, nyawiji. Menjaga adab di setiap peradaban. Matar Mitos, dari tlatah Mataram. (sinopsis pertunjukan Matar Mitos)

Sebanyak 19 penari dan 6 pemain musik menyajikan Matar Mitos di penghujung Mataram Culture Festival. Anterdans mencoba menyajikan tradisi, modernitas, dan kontemporer dengan memunculkan tokoh mitos kanjeng ratu kidul (ditarikan oleh perempuan dengan mahkota di sisi kanan panggung), Semar, Buta, dan isi alam semesta seperti manusia, tumbuhan, dan hewan. Seluruh unsur ini harus hidup berdampingan.

 

 (Anter Asmorotedjo)

Anter Asmorotedjo selaku sutradara sekaligus koreografer Matar Mitos berusaha merangkum kehidupan Mataram untuk bisa ditilik dan dipahami kembali oleh masyarakat masa kini.

“Jawa ini sangat toleran, menerima dan mempersilakan paham asing masuk. Tapi malah menggusur budaya asli, itulah keprihatinan kita. Mitos salah satu unsur yang perlu kita percaya, karena keberadaannya sungguh ada hanya saja berbagai kepentingan nilai-nilai itu digeser bahkan dihilangkan,” ucap Lelaki yang pernah mendapat Penghargaan Grand Asian Culture Council, International Coreographer Residency di  Amerika tahun 2007.

 

Kolaborasi digital gaungkan Mataram Culture Festival 2

Dinas Pariwisata Daerah Istimewa juga menangkap peluang dari pergeseran kerja analog menuju digital. Demi menggaungkan nilai tradisi dan budaya yang telah dikemas dalam acara Mataram Culture Festival 2, Panitia acara mengajak kolaborasi para kreator konten seperti bloger, fotografer, vloger dan pelaku media sosial melalui lomba melalui hastag MataramCultureFestival.

Lomba Fotografi dilaksanakan lebih dulu dengan tanpa tema pada pukul 09.00-17.00 WIB. Para fotografer dibiarkan eksplorasi Pedestrian Malioboro dan Pasar beringharjo. Menurut Antok selaku ketua panitia acara, para fotografer ini datang dari Jakarta, Wonosobo, Klaten, Yogyakarta, dan berbagai daerah lain sehingga pemenang pun langsung diumumkan malam itu juga.

Juara Fotografi Favorit 1,2,3 berturut-turut adalah Wartono, Ahmad hadiri, Damar Aji. Juara Harapan 1,2,3, diraih oleh Azhari Faisal, Noval Ilham, dan Yudhi Irawan. Juara 1,2, 3 disabet oleh Haryanto Subekti, Iswara Pramidana, dan Julius Pram. Serta lomba blog reportase kreatif tentang Mataram Culture Festival setelah acara.

“Harapannya, hasil kegiatan ini  dapat diperluaskan melalui kaya fotografer dan bloger yang diunggah di medsos atau jejaring mereka, sehingga kegiatan ini tidak hanya dapat dinikmati oleh masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke malioboro, juga diharapkan bisa dirasakan oleh teman-teman yang tidak berkesempatan langsung berkunjung di malioboro,” papar Aria Nugrahadi.

Impresi media sosial menunjukkan:

Analisa #matamculturefestival. Dokpri

Analisa ini dilakukan pada jam 16.42 WIB, artinya  dalam waktu dua jam sekitar 4.364.984 akun twitter tahu ada kegiatan Mataram Culture Festival. Hal ini menunjukkan kolaborasi digital berhasil dilakukan antara penyelenggara dengan masyarakat untuk memviralkan kegiatan di dunia maya.

Aris Riyanta selaku Kepala Dinas Pariwisata DIY menyampaikan bahwa acara seperti ini penting diselenggarakan selain untuk mengingat kembali dolanan anak yang mulai ditinggalkan juga dimaksudkan agar memajukan pariwisata Yogyakarta.

Mataram Culture Festival ini merupakan usaha untuk menggugah kembali bahwa Yogyakarta sebagai rahim dari  Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aspek kebhinekaan di Daerah Istimewa Yogyakarta budaya menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan mayarakat,” Pungkas Aria Nugrahadi kepada penulis.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*