Pada saatnya, janji tak akan aji.
Akan kalah dengan kabar yang belum pernah diumbar. Tiba-tiba di depan mata dan ada tawa yang lega.

Jadi ingat kata temanku yang baru saja melahirkan anak pertamanya sebulan lalu, “jodoh tak pernah disangka dan dinyana. Dia akan tiba pada waktunya yang tak pernah kau duga.”

Tapi, ini bukan soal seserius itu. Hanya soal janji. Ya, janji yang ternyata didahului sahabatnya sendirišŸ˜‚ .
Ia, Aku, dan Dia berkomunitas skala nasional. Dengan Dia belum sama sekali semeja, bicara, apalagi mengasapi diri dengan bakaran tembakau yang terselip di jemari kami. Sama sekali belum. Kecuali aku amnesia ringan. Ingatku, aku pernah menyaksikannya bermusikalisasi puisi.

Sedangkan Ia, membakar tembakau berlinting-linting sambil membicarakan data, dana negara, hingga perundang-undangan. Berjanji Ia padaku, Januari menghampiri kota-ku.

Namun, malam tadi sebuah pesan mampir lewat telegram, “Jogja nihh,” dan akhirnya kami memutuskan bersua.

“Aku ingin ngopi,” inginnya sederhana.
“Kiri, kita menuju kedai kopi sesuai minatmu,” abaku padanya.

Aku mengenalnya sebagai seorang barista dari poto profil telegram dan beberapa potret dirinya di akun instagram.

Tak hanya membakar tembakau, menyesap kopi, meretas kenangan, hingga membicarakan pergerakan, dan sesekali Kami menertawakan diri sendiri. Kami lakukan untuk melipat malam.

Kota-mu – Madura – Jogja – Kota-mu. Ada aku dan kopi di sela perjalananmu. .
Jadi, urip mung mampir ngopi itu benar adanya? Jika tak ada hasrat ngopi, kau tak akan pernah tertawa bersamaku meretas malam dan masa lalu.

Jogja, 2-3 Januari 2018
Melipat malam bersama A
Foto milik A

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*