Perempuan Indonesia-Artikel ini terinspirasi dari kehidupan pribadiku dan teman sebayaku. Saat ini kami sama-sama masih jomlo dan bekerja. Pekerjaan kami tidak memungkinkan untuk membatasi interaksi dengan laki-laki. Aku sebagai pekerja lapangan sedangan temanku sebagai seorang dokter umum. Kami berteman sudah cukup lama sejak TK, sekitar 22 tahun. Berkisahlah dia sebut pada saya, tepat di perayaan #womensday #womensmarch

Sebagai perempuan jomlo kita selalu jadi sorotan. Padahal tidak melakukan apa-apa. Sesuai dengan etika yang ada. Kadang laki-laki itu menganggapnya becanda. Misalnya begini ini sungguh-sungguh terjadi, dia dokter seniorku di Rumah Sakit terdahulu. Misal di dalam grup WA dia bilang ada rencana visit dengan kalimat; “hari ini siapa yang jaga saya mau visit,” kalau aku yang jaga dia bisa bilang, “wah kalau Rere (nama samaran) yang jaga saya jadi semangat.” Pernah juga dia tiba-tiba memelukku di depan banyak koas, aku reflek menonjoknya dan keesokan harinya aku memutuskan resign.”

Lahir sebagai Perempuan Indonesia adalah sebuah kebanggan bagiku. Sebagai Perempuan aku mendapatkan ruang berbendapat, menyampaikan ide, dan berkarya. Indonesia juga memberikan jaminan hukum kepada perempuan sama seperti kepada laki-laki. Lapangan pekerjaan, sekolah, dan jaminan hidup lainnya. Hal ini tampak jelas tertuang pada Pasal 27 ayat (1) menentukan, “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

Tapi kadang, sebagaian perempuan di luar sana tidak mengerti betapa strategisnya sebuah posisi perempuan di negeri yang luas dan kaya ini. Persamaan ekonomi dalam prinsip demokrasi dan jaminan hak warga negara, perempuan memiliki peran penting. Ekonomi rumah tangga misalnya.

Mereka tak mau tahu atau pura-pura tak tahu bahwa urusan harga lombok yang melambung itu bisa diselesaikan oleh mereka tanpa dengan susah payah. Cukup sebar biji cabai kering di atas wadah yang berisi tanah basah. Hanya tiga menit lantas 3 bulan kemudian sudah panen. Bisa jadi jika seluruh perempuan Indonesia lebih banyak bekerja daripada mengeluh. Pasti, Indonesia makin kaya.

Ini hanya satu sudut keikutsertaan perempuan Indonesia dalam bernegara. Persaamaan ekonomi laki-laki dan perempuan pun diatur sedemikian rupa agar perempuan dapat berkarya sesuai potensinya. Namun, kadang terlahir menjadi #PerempuanIndonesia yang bekerja bersama banyak lelaki dan berstatus masih jomlo tidak selamanya nyaman. Meski peraturan hukum menjamin keberadaannya. Gosip-gosip pun datang dan pergi. Tuduhan miring dan berisiko menjadi korban pelecehan pun kadang susah dihindari. Contohnya seperti cuplikan kisah Rere.

Tapi, sebagai perempuan independen dan mandiri, Perempuan Indonesia harus bisa menjaga diri. Semua risiko yang terjadi terhadap perempuan atau pun laki-laki dalam menjalin sebuah hubungan adalah kebutuhan bicara. Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dan bertukar informasi untuk membagun sebuah pengetahuan.

Pola komunikasi itu pasti melalui tahapan perkenalan, persahabatan, keakraban dan keintiman, suami-isteri, orang tua-anak, serta persaudaraan. Jika perempuan telah memutuskan untuk tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan serta berusaha mencegah diri sendiri untuk tidak menjadi pelaku dan atau pun korban pelecehan, berikut tips menghindari fitnah sebagai perempuan jomlo:

  1. Jalin hubungan sewajarnya dengan lawan jenis. Tunjukkan profesionalitas kerja dan beri batasan jelas. Hal yang bisa dilakuakn oleh sahabat kata adalah menghindari curhat pribadi kepada lawan jenis yang sudah memiliki pasangan. Witing tresno jalaran saka kulino (Jawa: Cinta tumbuh karena terbiasa) hal ini tidak terlepas dari aktifnya rasa empati seseorang akibat komunikasi yang intensif. Jika komunikasi terus berlangsung empati akan berubah menjadi simpati.
  2. Berkenalan dengan pasangan (istri/pacar) teman sejawat untuk menghindari curiga. Jika perlu saling akrab. Karena perempuan disosialisasikan untuk menjadi perhatian, mendukung, dan masalah-masalah tertentu mungkin timbul dalam hubungan mereka. Meski pasangan (istri/pacar) dari teman sejawat tidak memiliki keterkaitan pekerjaan menjalin hubungan pertemanan itu perlu untuk membangun kepercayaan bahwa teman suaminya ini tidak akan melanggar jalur privasi.
  3. Tidak bercanda melalui pesan pribadi atau ngobrol berdua (bertatap muka) dengan durasi lama. Cukupkan komunikasi jika maksud telah tersampaikan dengan bahasa yang wajar dan tidak menimbulkan maksud-maksud keintiman. Bahasa tubuh yang timbul saat bertatap muka juga mempengaruhi persepsi lawan bicara. Hati-hati dalam mengolah gerakan tubuh.
  4. Berbudaya, berwawasan dan berprinsip, agar tidak mudah tertipu. Perempuan selain berisiko menjadi korban juga berisiko menjadi pelaku. Hal ini terjadi jika perempuan tidak berpegangan pada norma yang berlaku di masyarakat. Perempuan Indonesia harus cerdas dan dapat meminimalisir ancama-ancaman atau kode-kode yang bisa merugikan dirinya sendiri. Memegang kepala, pundak, memeluk, cium pipi, dan bergandengan tangan menjadi pintu masuk sebuah perkara.

Sahabat kata, jika 5 hal di atas telah dilakukan namun teman sejawat kita masih terus berupaya untuk menjalin sebuah kedekatan yang lebih. Ambillah sikap tegas. Bahwa masuk sebagai orang baru dalam sebuah hubungan itu bukan hal yang membanggakan. Lebih baik kehilangan pekerjaan dari pada kehilanagn harga diri.

Inner by @tiranahouse
Photo by Arif Lukman Hakim
#womensmarch #internationalwomenday

View on Path

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*