Ada yang remuk semalam.

Setelah kedatangannya, aku harus benar-benar melepasmu.
“Tetaplah untuk ku, Sayang,” bisikmu tengah malam. Mengeratkan tanganmu yang melingkar di perutku.

Aku tak lagi kenal rayuan itu. Bahkan pelukan itu. Malam yang basah benar-benar lebih berkuasa. Baju hangat dan syal di leher berhasil di tembusnya.

“Kembalilah padanya,” lalu hanya angin basah yang lebih riuh saat bibirku menemui bibirmu.

Ruang sepetak itu tak akan lagi menjadi sangkar.
Aku pergi dengan berantakan.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*