Keluarga kami hidup di tengah-tengah masyarakat yang beragam. Baik dari suku, agama, dan tentunya adat istiadat. Sejak kecil, orang tuaku selalu berpesan; bertemanlah dengan siapa pun tapi kamu harus berjarak. Tak heran jika aku punya banyak teman yang beragam baik dari usia, kebiasanaan, pekerjaan, latar belakang dan tentunya jenis kelamin. Aturan ini tidak berlaku untuk mengangkat seseorang menjadi sebuah sahabat.

Sahabat adalah orang terdekat kedua setelah keluarga. Mencari sahabat bagiku tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menyambut sebuah perkenalan. Aku butuh berproses dalam waktu yang tidak bisa ditentukan untuk mengangkat seorang teman menjadi sahabat. Itu sebabnya mengapa  aku hanya punya segelintir sahabat. Kali ini aku akan berbagi cerita dengan sahabat kata tentang seorang sahabatku. 

“Kamu harus tahu, kabar itu datang dari siapa dan kepadanya akan kembali.
Semesta.”

Hukum alam itu selalu berlaku selama kita masih berada di semesta raya. Berteman atau pun bersahabat pasti akan memiliki masa. Aku tak pernah bisa menolak kuasa frekuensi yang selalu menimbulkan resonansi. Saat itu terjadi, aku dengan penuh keyakinan bahwa dialah orang yang sehati, sepemikiran, dan sepola denganku.

“Ryan,” begitu aku dengar ia menyebut nama ketika pertama kali kami berkenalan. Sebab mukanya yang awet muda aku tertipu akan usianya yang terlamapau 2 tahun lebih tua dariku. Ia besar dari Keluarga Katholik sedangkan aku besar dari Keluarga Muslim. Kami berkenalan setahun lalu karena tergabung dalam komunitas duta damai dunia maya BNPT Regional Yogyakarta. Namun, baru bulan Mei 2017 kami menjadi akrab dan beresonansi.

Bisa dibilang, kedekatan kami karena kebutuhan komunitas. Ia, lelaki yang belum tuntas dalam studi akutansi dengan kemampuan foto dan videografi yang cukup mumpuni. Sedangkan aku, seorang penulis. Aku masih ingat betul bagaimana ia meminta tolong padaku untuk membuatkan sebuah tor kegiatan. Hahaha. Jawabanku saat itu bukan lantas bilang, Iya. Tapi aku justru balik bertanya. Bukan sok jual mahal, tapi aku ingin dia juga belajar.

 

 

Rumus 5W +1 H aku lempar di dalam group WA dan dia mulai menjawab satu per satu pertanyaan. Tugasku menjahit jawabannya menjadi sebuah TOR kegiatan  lantas mengembalikan padanya sambil berkata,”pantas saja kamu gak lulus-lulus, Kak. Sama pikiranmu sendiri saja kamu tak bisa menuangkan dalam tulisan,” begitulah jika kami belajar bersama.

Sejak kami menyadari bahwa satu frekuensi, beberapa pekerjaan sudah pernah kami lalui dan kerjakan bersama. Seiring dengan itu kini pun dia sudah lebih pandai membuat TOR kegiatan bahkan Proposal. Sebulan terakhir, kami sempat begadang bersama selama satu minggu untuk membuat proposal berskala nasional. Pada pertengahan minggu kondisi kesehatanku menurun tapi proposal harus segera jadi. Akhirnya aku memutuskan untuk menginap di rumahnya meski sambil tiduran tapi bisa memantau perkembangan proposal. Kondisi ini justru membuat teman-teman lain datang dan ikut menginap untuk membantu terselesaikannya proposal.

Setiap pagi, selama di rumahnya selalu tersedia teh hangat setelah sarapan yang disediakan oleh ibunya. Sesungguhnya aku tidak terbiasa minum teh, karena sudah dibuatkan maka aku pun habiskan. Untungnya hanya secangkir kecil. Hihihi. Saat pertama kali minum teh setelah sarapan, aku merasakan rasa teh yang beda. Aku pun penasaran, saat ke dapur aku perhatikan tempat penyimpanan teh yang berada di samping kanan dapur. Emm, Ternyata ibunya penggemar teh hijau dari Kepala Djenggot. 

 

 

Minum teh di pagi hari adalah rutinitas di keluarga Ryan. Katanya sih demi kesehatan, sehatea kalau aku bilang. Sehat dengan tea (teh). Teh hijau ini ternyata memiliki khasiat yang baik untuk kesehatan. Aku percaya? Percaya sih, soalnya Ibu Ryan mantan perawat. Beliau tidak mungkin sembarangan memberikan asupan gizi pada keluarganya. Aku pun googling untuk menambah referensi mencari tahu spesialnya teh hijau dan manfaatnya bagi kesehatan.

Teh hijau berasal dari jenis tumbuhan Camellia sinensis yang berasal dari Tiongkok. Teh hijau bisa disajikan dalam keadaan panas, dingin, dicampur madu, atau dijadikan teh tubruk tanpa gula. Oleh orang Tiongkok, Teh hijau menjadi rahasia awet muda dan panjang umur.

 

Apa Kandungan Teh Hijau

Selain rasanya yang emm…nikmat sekali, teh hijau mengandung antioksidan yang tinggi. Fungsinya melawan radikal bebas yang berkeliaran dalam tubuh. Radikal bebas ini berbahaya karena dapat merusak bahkan membunuh sel-sel tubuh, sehingga bisa menyebabkan penuaan dini, kanker, dan penyakit-penyakit lain.

Teh hijau mengandung senyawa katekin yang memiliki kekuatan berlipat dibanding vitamin C dan vitamin E dalam menghentikan kerusakan oksidatif pada sel-sel tubuh. Selain itu teh hijau juga mengandung vitamin B, asam folat, mangan, kalium, magnesium, dan kafein.

 

Manfaat Teh Hijau bagi Kesehatan

Berkat berbagai kandungannya, teh hijau mampu menurunkan kolesterol tinggi dan risiko penyakit jantung, melawan sel kanker, mencegah diabetes, menurunkan berat badan, menstabilkan tekanan darah,  dan melindungi hati.

Kesehatan tubuh tidak bisa dijaga dengan satu cara ya, sahabat kata. Kita harus mengimbangi dengan pola hidup yang sehat pula. Jangan lupa olah raga dan makan dengan gizi berimbang. Tapi yang pasti sahabat kata. Teh hijau adalah penghangat persahabatan. Sebab sambil menghabiskan teh hijau setelah sarapan kami jadi punya alasan untuk saling bicara di pagi hari meski hanya seminggu. Hehehe.

Aku yakin, kalian punya konsep yang berbeda dan lebih unik untuk menjaga hubungan persahabatan dan kesehatan. Sekarang giliran Sahabat Kata untuk berbagi cerita #sehatea mu. Kalian bisa menuliskannya di kolom komentar, mengenai persahabatanmu dengan teman/rekan yang “berbeda namun sehatea” atau tulis di blog pribadi kalian. Jangan lupa kabari aku untuk membacanya.

 

Sumber: http://www.alodokter.com/memetik-manfaat-teh-hijau-untuk-kesehatan, diakses Sabtu, 17 Juni 2017 jam 9.48

Share

6 thoughts on “Sehatea Kunci sebuah Persahabatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*