Hai, kamu yang pernah bersepakat hidup denganku. Apa kabarmu?

Beberapa hari lalu wajahmu menyapa malam-malamku. Apakah kau sedang merinduku? Aku berharap iya, karena aku pun. Ketika aku menulis ini berharap kamu merasa perlu untuk kepo akun sosmedku (biasanya juga selalu memonitorku, kan?). Lalu bertemu dengan surat ini.

Kamu pasti tahu, bahwa aku hanya akan bercerita. Iya, aku masih seperti dulu. Sebenarnya tulisan ini mewakili rinduku yang tak lagi bisa kutahan terhadapmu. Sejak kamu memutuskan menghilang dari hidupku, aku merasa ragu. Bisakah aku menyimpan cerita-ceritaku, memilih orang baru, berdiskusi ala bersamamu, dan tetap menjaga rindu. Ternyata susah. Aku menyerah.

Sempat beberapa orang baru menghampiriku. Setipe denganmu: cerdas, tidak tampan, hitam, tinggi, dan seiman, kantongnya pun tebal. Tapi, mereka hanya mampir untuk menemaniku menghalau rindu padamu.

Kamu yang membersamaiku empat tahun lalu. Masih ingatkah mimpi-mimpi kita?

Aku yakin kamu pengingat luar biasa. Memorimu tertata. Sering aku tertawa, mengingat semua. Berangan-angan bersama tapi tak juga bisa dan berakhir duka. Sejak perpisahan kita, hanya kamu yang tidak pernah kuhina. Mungkin karena aku terlalu cinta, atau terlalu bodoh melogika. Kamu harus tahu, belum ada yang bisa menggantikan pribadimu.

Akhir-akhir ini aku selo, dan ingin beradu argumen seperti dulu. Malam-malam menunggu telponmu kemudian salah satu antara kita ketiduran karena mendengarkan penjelasan. Membawa telepon ke kamar mandi demi kwalitas komunikasi. Karena bisa jadi berhari-hari tak saling mengabari. Kemudian kau bilang, “Abi kan cuma kuli, Mi. Tolong ngerti.”

Aku senyum-senyum sendiri.

Bi, eh, mas. Hehehe, sekarang aku suka ngopi. Selain itu aku juga sudah kesampaian mendaki, pergi ke pantai menikmati purnama, pergi ke luar Jawa, dan sekarang aku memilih jalan menjadi penulis. Ia, kamu ingatkan kalau kita marahan. SMS atau chat kita seperti orang berbalas puisi atau bisa jadi narasi. Rasanya geli. Oh, ya. Kamu masih menyimpan potoku, kah? Iya tidak mengapa. Aku pun.

Hai, kamu yang pernah mengurungku di hatimu, Meski hubungan kita seperti jalan tol yang searah dariku. Aku tetap berterima kasih padamu. Berkatmu sekarang aku jadi lebih tahu membaca kondisi dan tidak mudah dibohongi. Kamu benar membatasi diri berinteraksi dengan lawan jenis itu sangat perlu. Tidak untuk siapa-siapa tapi jaga diri.

“Abi lebih suka umi yang bilang daripada dengar dari orang,” sampai saat ini masih ku jaga.

Sekarang aku jadi tahu, dulu setiap orang memakimu tapi aku tahu ternyata mereka tak lebih baik darimu. Maafkan aku yang sudah lelah menunggumu. Aku baru mengerti dari apa yang kau sebut sabar menunggu.

Em, kalau kamu membaca tulisan ini, sudilah menghubungiku. Aku rindu berdiskusi denganmu.

Aku, yang pernah berangan bersamamu.

Share

4 thoughts on “Surat Terbuka untuk Masa Lalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*