Bonggol Jagung, From The Trash to The Gold

Siapa sangka, janggel jagung/bonggol jagung yang telah tua bisa diubah menjadi hiasan dinding dan kap lampu nan cantik bernilai seni tinggi di tangan seorang Stefanus Indri Sujatmiko, S.E. Lelaki yang sehari-hari membudidayakan Ikan Gurameh di Desa Sendangagung ini sudah 8 bulan menyulap limbah bonggol jagung menjadi berbagai bentuk handycraft seperti kap lampu, lampion, tempat tisu, tatatkan gelas, dan lain sebagainya.

Awalnya, Indri sapaan akrabnya, ide itu muncul dari tumpukan bonggol jagung yang telah 2 bulan tidak membusuk di sawah milik tetangganya. Menurutnya timbunan bonggol jagung itu justru dapat merusak kesuburan tanah. Mulailah ia berpikir cara mengubah limbah bonggol jagung menjadi barang yang bermanfaat. Tutur Indri saat saya temui di lapak pameran Gelar Budaya Desa Sendangagung Sabtu (1/10) lalu.

“Bonggol jagung, jika diolah dengan tepat ia akan tahan rayap, rengat, tidak dimakan tikus, dan tentunya bisa menjadi barang yang bermanfaat,” tuturnya. Indri, bersama teman-temannya seorang arsitektur, tukang las, Kriya, dan tukang kayu bekerja bersama untuk bisa menghasilkan olahan kerajinan limbah bonggol jagung ini menjadi bernilai ratusan ribu rupiah.

Satu bentuk yang menarik bagi saya untuk menyambangi lapak pameran Indri adalah Menara Eiffel. “Setiap saya pameran yang laku hanya Menara Eiffel, ini, orang mampir ke lapak saya tidak beli tapi hanya ingin berfoto dengan bonggol jagung ini,” paparnya sembari mengenang para tamu lapak pamerannya. Ia juga menambahkan sempat di tanya oleh pengunjung dan pendamping UMKM Dinas Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta, kenapa tidak membuat ciri khas Yogyakarta saja, Tugu Golong Gilig. Menurutnya, Tugu memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. Untuk membangun satu menara eiffel saja dia membutuhkan waktu selama 3 bulan.

Menara Eiffel dari Bonggol Jagung
Menara Eiffel dari Bonggol Jagung

Bergabung menjadi bagian dari Usaha Mikro Kecil Mandiri Dinas Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Kulon Progo Ia mulai mengembangkan usaha Bonggol Jagungnya. Indri mulai menata usahanya dari membuat master desain, HAKI, pemasaran, dan pengemasan. Indri merasa kesusahan untuk menjual produk kerajinan seharga 100-400 ribu ini. Padahal jika diperhatikan, hasil karya Indri menjawab kebutuhan hotel, restoran, dan tempat-tempat umum yang memerlukan desain interior bernilai seni tinggi. Inovasi dan kreativitas Indri juga kurang maksimal karena pengerjaannya berdasarkan order saja.

Indri melakukan inovasi dan kreasi pada kerajinannya dengan menggabungkan antara bonggol jagung, agel (tali lilitan, berbahan enceng gondok,gedebog pisang, atau mendong), kulit kayu, kayu, dan klobot jagung. Untuk menjaga ketahanan pola, Ia menggunakan mika dan kawat galvanis (kawat anti karat) sekaligus sebagai rangka hasil kerajinannya. Finishing produk kerajinan bonggol jagung ini menggunakan melanin berbasis minyak untuk memberikan kesan mengkilap.

Meski baru 8 bulan merintis kerajinan berbahan dasar bonggol jagung, Indri sudah mulai menerima tawaran untuk membawa produknya di pasar ekspor. Ia mulai membuat inovasi untuk packaging batik yang dikirim dari Bali untuk negara Abudabi dan Eropa. Namun ia lebih berharap produknya dapat diterima dan menembus pasar lokal lebih dahulu.

Selama ini, Indri menggunakan bonggol jagung yang berasal dari daerah Bligo (perbatasan Sleman dengan Magelang) dengan karakteristik bonggol jagung kecil dan kokoh. Kadang ia juga menggunakan bonggol jagung yang berasal dari daerah Klaten dengan karakteristik bonggol besar dan sedikit lebih rapuh dibanding bonggol Bligo.

“Kita ini hidup untuk apa? Kalau masalah rejeki dan uang itu adalah dampak semua sudah ada yang mengatu,” ungkapnya dalam akhir pertemuan kami. Saat ini ia masih bertujuan untuk mengedukasi masyarakat atas inovasi dan kreasinya terhadap limbah bonggol jagung ini. Bahkan ia menawarkan diri untuk bisa melatih dan melibatkan kaum difabel untuk bisa mengolah limbah bonggol jagung ini. “Besok senin, saya akan memberikan pelatihan pada anak difabel dari SLB Minggir untuk pembuatan kap lampu sederhana ini (sambil menunjuk kap lampu berbentuk tabung),” pungkasnya.

Bagi Sahabat Kata yang ingin memesan kerajinan Bapak Indri dapat menghubungi 087849375397 (WA), 512EAC92 (Pin BBM), atau Stefanus73@gmail.com. Ingin belajar dan melihat langsung cara pembuatan kerajinan bonggol jagung di Minggir II, RT 01 RW 03, Sendangagung, Minggir, Sleman, Yogyakarta.

Share