Gelar Budaya Desa Sendangagung

Sabtu (1/10) tepat 51 tahun lalu diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Hari ini, di Desa Sendangagung, Minggir, Sleman telah terlaksana rangkaian acara Gelar Budaya Desa Sendangagung. Terdiri dari 78 Rt, 33 RW, 15 pedukuhan Desa Sendangagung memiliki jumlah penduduk 7.900 jiwa. Desa yang berada di pinggiran bantaran Sungai Progo merupakan desa paling ujung di Kabupaten Sleman berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo.

Selain potensi jumlah penduduk yang banyak, Sendangagung juga memiliki potensi kerajinan, kuliner, tradisi, dan budaya yang masih dilestarikan hingga kini. Terbukti, Setiap pedukuhan hari ini mampu menampilkan setiap potensi yang mereka miliki. Potensi-potensi tersebut disajikan oleh lintas generasi, laki-laki maupun perempuan.

Bertempat di Lapangan Desa Sendangagung, sebuah panggung berdiri menghadap ke timur lengkap dengan peralatan pertunjukan wayang. Tepat di depan panggung berdiri tenda untuk para tamu undangan di apit dengan tenda pameran kuliner dan kerajinan yang ada di Desa Sendangagung. Tepat pukul 13.00 WIB, acara dibuka oleh pembawa acara. Langit tampak cerah udara semakin panas, namun hujan datang tanpa permisi di tengah acara. Tanah becek pun tak dapat terhindarkan.

Seni Sholawatan
Seni Sholawatan

Penonton, tamu undangan, dan pemain pertunjukan saling merapat mencari keteduhan. Hujan mulai deras lapangan makin padat penonton bahkan ada yang rela berdiri di luar tenda dengan payung. Ini adalah bukti, bahwa seni, tradisi dan budaya belum mati. Mungkin hatimu saja yang mati, kak, tak mengerti desa yang terus bergairah dengan seni, tadisi, dan budaya. #eh.

Tari Jeber Jues
Tari Jeber Jues

Seluruh sajian pertunjukan dan pameran dalam Gelar Budaya Desa Sendangagung diperlombakan. Terlibat langsung dalam penjurian, para pendamping budaya Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Ibu Tri, Bapak Susilo, dan Romo Yud, Dosen Widya Mataram. Adapun kriteria yang dinilai dalam perlombaan ini adalah kesesuaian antara pertunjukan, properti, dan kesesuaian sejarah untuk seni, tradisi, dan budaya. Kriterian kemasan, pelabelan, identitas produsen, dan kesesuaian asal-usul daerah dengan kuliner yang diproduksi.

Berbagai sajian kuliner yang dipamerkan dalam Gelar Budaya Desa Sendangagung antara lain wingko, cap jaek, olahan wader (ikan sungai), Keripik talas, Telor Asin, dan Moci. Pameran kerajinan tak kalah hebat ada kerajinan berbahan dasar janggel jagung yang dibuat menjadi hiasan dinding dan lampu duduk. Kerajinan janggel ini ternyata sudah menembus pasar ekspor. Batik Shiboria dalam bentuk kain lembaran, kemeja, kaos, celana, kantong pensil, tas, dan jilbab. Kerajinan bambu dan mendong berbentuk keranjang hias, keranjang buah, topi, serta wadah-wadah serba guna untuk rumah tangga. Seni tradisi wayang kulit yang memang dilestarikan di Desa Sendangagung ini ternyata juga diikuti dengan lestarinya pengrajin wayang kulit.

Kemeriahan Panggung Gelar Budaya Desa Sendangagung dipandu oleh MC yang berdandan seperti bagong dan seorang dalang yang memerankan Semar. Seluruh Seni, tradisi dan budaya yang ada di Desa Sendangagung tampil satu persatu. Pertunjukan Seni antara lain Sholawatan, Jathilan, macapat, Kethoprak Bocah, dan Dolanan Bocah. Pertunjukan tradis antara lain nyadran, wiwitan, dan kunthulan. Pertunjukan budaya antara lain wayang kulit, jeber jues dan badui sekaligus menutup acara pada sesi pertama Gelar Budaya Desa Sendangagung.

Tepat pukul 16.00 WIB, Dewan Juri yang berasal dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Romo Yud melakukan rapat evaluasi kegiatan. Para juri memberikan masukan dan koreksi untuk keberlangsungan dan kelestarian seni, tradisi, dan budaya yang telah ada. Lebih banyak menyampaikan Romo Yud, bahwa kesesuaian busana, pertunjukan, dan properti yang digunakan masih perlu banyak diperhatikan agar kesesuaian sejarah dan nilai budaya daerah benar-benar utuh dipahami oleh warga.

Share