Solar Cell Home System Agar Anak Tidak Takut Gelap

Minggu (11/9) kemarin, yang katanya termasuk long weekend saya tetap bekerja. Karena seminggu sebelumnya saya sudah ada janji dengan seseorang untuk urusan terapi diet menurunkan obesitas di daerah Wonosari, Gunung Kidul. Waktu yang saya gunakan untuk pekerjaan itu hanya berlangsung 2 jam. Sisanya saya piknik.

Piknik bukan sembarang piknik. Setelah urusan pertama selesai saya bergeser ke Wonosari Kota untuk silaturahmi dengan teman lama. Sekiranya sudah setahun kami tidak bersua. Kabar yang saya dengar dia telah menghabiskan uang lebih 100 juta untuk hal gila. “Kalau dibilang satu mobil ava*** ya dapet, Cha,” begitu tuturnya pada saya. “Saya lebih memilih lembaran-lembaran ini daripada membetulkan 4 biji drone,” sambungnya sambil mengajak saya naik ke loteng yang setengah jadi.

Drone, tahu kan? Kamera terbang yang banyak digunakan oleh production house. Iya, dia punya 4 biji dan sedang perlu perawatan. Dzolim bukan, dia biarkan itu parkir di tempat penyimpanan dan menghabiskan ratusan juta demi lembaran-lembaran yang hanya dipasang di atas atap.

Lelaki yang biasa saya panggil Om Yudan ini sehari-hari resmi sebagai bagian dari Pegawai Pengadilan Negeri Bantul, yang tidak resmi mengecoh sana sini dengan hal-hal gilanya. Di antaranya adalah merintis Disaster Risk Reduction (DRR) Gunung kidul, Hanacaraka FM, dan Solar Cell Home System. Ayah dari dua lelaki kecil ini mengembangkan solar cell home system sejak 2005 silam.

Berawal dari keprihartinannya tentang kondisi aliran listrik yang sering mati tengah malam di Dusun Jeruk, Kepek, Wonosari, Gunung Kidul. Salah satu rumah di dusun tersebut adalah tempat tinggal Om Yudan dan keluarga kecilnya. Anaknya, yang kala itu masih kecil takut akan gelap mendorong dirinya untuk membuat jalan keluar. Ia mencari-cari energi yang murah namun tetap bisa memberikan penerangan untuk rumahnya. Ketemulah dengan solar cell di internet.

Om Yudan tidak lantas membuat solar cell home system dengan berlembar-lembar solar cell. Ia mengawalinya dengan selembar solar cell searga 750 ribu untuk menghasilkan daya 50 watt. Waktu itu digunakan untuk penjaga kegelapan saat aliran listrik PLN putus.

baca juga: PLN Mensejahterakan atau menyengsarakan?

Kini, rumah barunya yang berada di sekitar lingkar utara Wonosari full menggunakan solar cell home system untuk penghasil energi listrik. Tidak tanggung-tanggung sekitar 34 lembar solar cell ukuran 1m2 ia pasang di atap rumahnya. Namun, karena keperluannya untuk rumah tangga ia hanya mengaktifkan 17 lembar solar cell.

Ibarat listrik PLN ini adalah meteran foto koleksi Awab Yudan
Ibarat listrik PLN ini adalah meteran
foto koleksi Awab Yudan

Hanya dengan 17 lembar solar cell ia mampu mengisi 2 drum bak penampungan air berukuran 1000m3 dengan pompa air besar, submersible berdaya 1300 watt. Gilaaaa, njepluk iya. Mana ada daya listrik rumah tangga segini? FYI: kedalaman sumur di rumah Om Yudan sekitar 40 m. Belum lagi, daya sisanya masih digunakan untuk penerangan, menanak nasi, setrika, TV LED, alat pertukkangan, dan mesin cuci.

14222257_1172284376169812_1895043217322538143_n
Saklar Pompa Air foto koleksi Awab Yudan

Semua alat yang saya sebutkan di atas saya tes langsung. Wow, listrik aman-aman saja. Dua jagoan tetap asyik nonton TV. Saya asyik nunggu air sampai penuh dan mengucur sebagai tanda penuh. Alat pertukangan, bor, nyala. Penghangat nasi juga nangkring di meja dalam kondisi menyala.

14291729_1173139996084250_7351457904019061005_n
Ini Rice cooker yang pada posisi warm foto koleksi Awab Yudan

Apa yang membuatnya nekat dan melakukan hal gila ini?

“Saya tidak mampu pasang meteran listrik PLN,” jawabnya.

Perlu diketahui bersama, pasang listrik PLN berdaya 1300 watt itu sekitar 5 juta selamanya. Tapi dengan solar cell dia habiskan ratusan juta.

“Energi surya itu melimpah, kenapa tidak digunakan? Listrik tidak beli, kita bisa menikmati sepanjang kita mau,” imbuhnya.

Menurutnya, semua tergantung bagaimana individu menyikapi tentang energi yang melimpah ini (energi surya). Energi yang tidak perlu dibeli dan ramah lingkungan. Jika seseorang berpikir jangka panjang dan berkomitmen serius untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit tabungannya, pasti bisa.

Share