Listrik PLN Mensejahterakan atau Menyengsarakan?

Solar Cell atau panel surya adalah teknologi yang mengubah cahaya surya menjadi energi listrik. Wah, kalau Indonesia musim penghujan cadangan listrik kita nol, donk? Tidak begitu juga, karena energi yang digunakan adalah sinar surya bukan panas surya. Meski kondisi mendung, sinar surya tetap sampai ke bumi dan energinya bisa tertangkap oleh solar cell.

Tulisan kali ini masih bagian dari oleh-oleh saya Minggu (11/9) lalu. Saya akan menyampaikan beberapa hal yang mendasari pentingnya saya berbagi tentang solar cell home system. Panel surya atau solar cell  bukan barang baru lagi di Indonesia. Solar cell ada sejak orde baru telah melanggengkan Kakek Suharto di era 70’an. Empat puluh enam tahun lalu, solar cell ini memang masih menjadi barang mewah. Wong cilik hanya bisa ngimpi untuk menggunakannya.

Tapi mari kita tilik jaman itu, peralatan elektronik rumah tangga masih menggunakan baterai dan tenaga diesel. Aliran listrik belum bisa rata di seluruh Pulau Jawa. Ingat betul kata mamaku, jaman itu kalau mau belajar hanya pakai “dian” atau “petromak.” Penggunaan “dian” ini rata digunakan oleh wong cilik kebanyakan. Paginya ia akan menemui jelaga hitam di hidung akibat semalaman dekat-dekat “dian” untuk belajar. Tidak ada PLN, tidak ada tiang listrik, dan tidak ada rentangan kabel-kabel di jalan. Pasti Indonesia indah kala itu. Bersih dan tidak semrawut.

Instalasi kabel listrik PLN di sebuah dusun
Instalasi kabel listrik PLN di sebuah dusun

Kali ini, saya menemukan hal itu dengan teknologi lebih maju, Dandin solar cell home system di sebuah rumah kawasan jalan lingkar utara Wonosari. Posisi rumahnya tepat di tengah-tengah kawasan ladang jagung. Satu-satunya rumah di dunia, kata tetangganya yang juga memiliki posisi-mirip. Tidak ada sehelai kabel pun terpancang dari tiang listrik di ujung lorong menuju rumah itu. Tiap malam lampunya menyala, TV tidak pernah mati sepanjang hari. Listrik tidak beli. Semua barang elektronik dan yang membutuhkan aliran listrik bisa menyala cuma karena dijemur.

Sejak kebijakan orde baru dengan program listrik untuk rakyat, lahirlah PLN. Sejak itu alat-alat elektronik yang bisa menyala menggunakan baterai atau diesel berubah. Perlu diketahui barang elektronik itu bisa menyala dengan arus DC (arus searah), sedangkan setelah PLN hadir barang-barang elektronik di Indonesia berubah memerlukan arus AC (arus bolak-balik). Arus AC ini hanya pas masuk saja dari sumber listrik dan akan diubah menjadi arus DC oleh rangkaian konventer arus dalam alat elektronik.

Lahirnya PLN siapa yang diuntungkan? Ya, kapitalis dan korporasi. Bagaimana tidak, jika saat itu solar cell diproduksi masal maka harga bisa turun dan terjangkau oleh rakyat. Tapi pemerintah lebih memilih memancangkan tiang-tiang dan merentangkan ribuan kilometer kabel dari gardu listrik hingga ke pelosok. Akibatnya, anggaran negara naik untuk pengadaan alat-alat itu belum lagi kalau terjadi bencana. PLN tak jarang lumpuh, biaya perawatan mahal. Rakyat harus sabar jika alirannya diputus untuk sementara waktu dengan alasan perawatan atau event-event tertentu pada jam-jam produktif. Pengalaman Yudan yang hidup di Gunung Kidul tahu betul perilaku PLN ini.

“Contohnya saja jika ada kegiatan terjun payung di Kodim Wonosari, aliran listrik PLN ini diputus sampai acara selesai demi keamanan si penerjun. Siapa yang rugi? Jam-jam produktif rakyat harus bayar listrik untuk usaha tapi listrik dimatikan. Usaha tidak jalan,” ucap Yudan penuh keprihatinan.

Dalih pemerataan sumber daya alam dan energi, PLN bisa kita anggap sebuah pemborosan. “Analoginya seperti ini, kebutuhan lampu (hemat energi), barang elektronik itu sebenarnya butuh arus DC. Tapi, Arus DC itu seperti aliran air makin jauh jangkauannya makin sedikit tegangan yang tersisa. Tapi kalau arus AC kerjanya bolak balik, tegangannya stabil. Tapi arus AC butuh media penghantar yaitu kabel.”

Bapak yang sekarang telah berusia 41 tahun ini berharap, “Apa tidak sebaiknya, PLN itu menyediakan solar sel sebanyak 1000 lembar dan dibagikan kepada 1000 rumah. PLN tidak perlu memasang tiang listrik, memancang ribuan kilometer kabel, dan personil PLN tidak kualahan dalam memberikan pelayanan dan perawatan. Biaya makin murah.”

Saya sepakat dengan pemikirannya, kalau mau boros ya boros sekalian tapi pada energi yang memang melimpah. Energi sinar surya tidak akan habis sepanjang usia pakai kita. Semua hanya akan dikembalikan pada kita dan komitmen pemerintah. Mau mensejahterakan atau justru menyengsarakan rakyat.

Praktik-praktik solar cell saat ini sudah digunakan untuk lampu apill, lampu jalan raya, dan beberapa perusahaan yang sadar akan penghematan energi. Tapi kapan hal ini bisa dipraktikkan sampai di pelosok negeri agar saudara kita juga bisa menikmati informasi yang disiarkan melalui alat komunikasi seperti radio, TV, dan signal internet. Demi Indonesia yang bebas jebakan jerat kabel.

Share