Tisu Basah Samlah
Tisu Basah Samlah

Ini adalah sebuah janji yang aku sampaikan kepada Tikah Kumala. Si cantik penulis cerpen ini baru saja menerbitkan himpunan cerpen yang telah ia tulis sepanjang tahun 2011-2016. Ada 16 cerpen dalam buku ke dua yang menggunakan nama aslinya ini.

Tisu Basah Samlah, sebuah rangkaian dari dua judul cerpen di dalamnya. Tisu Basah bisa diartikan tisu yang memang basah atau tisu yang basah karena air mata dalam cerpen ini mengandung arti yang ke dua. Samlah adalah sebuah nama. Dari judulnya saja, aku mengira bahawa ini akan bercerita soal kepedihan seseorang.

Pada sampul belakang buku ini,

“Bisa kau bayangkan betapa mengerikannya perempuan yang menangis itu? Hanya dalam hitungan jam, air matanya sudah menenggelamkan tubuhku sebatas leher”

(Trans Tisu Basah)

Kutipan di atas adalah penguat kedua. Tak sabar rasanya untuk menyelami cerpen-cerpen Tikah Kumala. Cerpen pembuka dengan judul Lajang mewakili setiap perempuan yang dikejar deadline pernikahan. Trans Tisu Basah, penyambung Lajang dan Perempuan yang Menunggu berbicara soal isu-isu sosial lain. Begitu seterusnya hingga Ia menulis soal impian, kematian, perselingkuhan, dan keegoisan.

Ini adalah kecanggihan sang suami sekaligus editornya, Fairuzul Mumtaz yang membangun sajian cerpen-cerpen istrinya sedemikian rupa. Ia memberikan runtutan cerita yang rapat. Sebagai penulis anyaran, buku Tisu Basah Samlah ini kujadikan referensi dan penguat karena bahasanya yang lugas dan jujur.

Sahabat kata, berikut pengalaman yang bisa aku bagikan dari Tisu Basah Samlah:

Persoalan perempuan dewasa di antaranya adalah pernikahan. Tidak perlu gegabah untuk memutuskan, bisa saja bermuara pada kekecewaan. Namun, perempuan tidak perlu ragu mengungkap cinta daripada didahului kematian. Rasa terpendam hanya sebuah kesia-siaan. Perempuan dengan deadline pernikahan.

Akhirnya Cinta yang salah tempat, cacian yang tak tahu tempat menjadi lebih dekat.  Semua soal lambe (mulut). Sembunyi bukan solusi pun memaksa lupa justru mempertajam luka. Karena komunikasi adalah pintu pembuka.

Sahabat kata, beruntunglah aku yang telah memiliki Tisu Basah Samlah dengan nomor urut 22 karena dicetak terbatas. Buruan bagi kalian yang ingin mendapatkan buku ini bisa menghubungi warung arsip.

Identitas buku:

Editor: Fairuzul Mumtaz

Pemeriksa Akhir: Lisbet Ikawati

Penata Letak: Taman Air

Desain Sampul: Jaqueleto

Ilustrasi Sampul: MonD

Penerbit: Radio Buku

Buku ini hanya dibandrol dengan harga 40,000 rupiah. Bagaiamana murahkan? Iya, karena hadiah buku lebih murah dan berkesan. Selamat Hari Buku Nasional.

Share

3 thoughts on “Tisu Basah Samlah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*