yamaha xabre

Yamaha Xabre- Mengendarai motor sport seperti menemukan jiwaku. Kira-kira sudah setahun aku tidak mengendarai Yamaha Scorpioku akibat politik keluarga yang berakhir pada penyitaan dengan alasan aku perempuan. Tapi apa salahnya? Iya itu hanya politik keluargaku. Kerinduan untuk memelintir gas dengan mesin besar sungguh terus membara. Hingga akhirnya aku bisa merasakan one day touring naik Yamaha Xabre. Meski kapasitas mesin hanya 150 cc yang tidak sebesar Scorpioku yang memiliki 225 cc cukup memberikan ruang pembakaran rindu.

Sabtu (14/1) aku berkesempatan test ride Yamaha Xabre 150 cc dari Dealer Yamaha Kalasan, Sleman menuju Pantai Sepanjang, Gunung Kidul dalam rangka Wisata Asyik Naik Yamaha bersama Blogger dan Vlogger Jogja. Sebanyak 25 orang, kami berangkat iring-iringan jam 09.00-10.45 WIB. Kendaraan sudah dipastikan layak dan aman oleh para mekanik Yamaha pada hari sebelumnya. Sebelum melipat jalanan Jogja-Gunung Kidul, kami mengisi bensin lebih dahulu.

Namanya juga tes-tes, liter bensin pun juga harus di tes. Aku berspekulasi dengan mengisi Rp 20.000 pertamax. Iya, aku mengisi pertamax. Pada spidometer menunjukkan 2 strip + 1 strip kedip-kedip (sisa bahan bakar sebelumnya) indikator bahan bakar. Aku percaya, tidak akan isi bensin lagi karena Yamaha Xabre 150cc sudah fuel injection. Jadi, sistem pengabutan bahan bakar lebih irit.

Dimensi Yamaha Xabre 150 cc standar pabrik: 1.959 x 795 x 1.065  mm; tinggi jok 770mm, tinggi terendah 164 mm, berat 135 kg, dan kapasitas tanki 10,2 liter. Bayangkan, tes-tes kala itu semua pakai ukuran limit. Mulai dari tinggi badanku yang cuma 158 cm, berat badan 63 kg, dan bensin 2 liter. Menempuh jarak 68,8 km (pergi) dan 65,9 km (pulang) total 134,7 km. Aku tidak mengisi bensin lagi dan posisi indikator bensin terakhir adalah 1 strip berkedip. Impas. hehehe.

Desain dan ketangguhan

Saat berangkat aku mengendarai Yamaha Xabre 150 cc sendirian. Pelintiran gasnya enteng betul operan gigi hanya main di 3 dan 4 dalam kota-Wonosari. Aku masih ingat gigi maksimal (6) saat trek lurus dan panjang. kira-kira di daerah Paliyan dan jalur baru menuju pantai (bukan yang tanjakan).  Desain yang futuristik dan sangat beda dengan generasi sebelumnya cocoklah buat para petualang untuk tampil makin ketje dan sporty.

Tanki yang mirip Bison (njembul ke atas) dan stang yang lurus keuntungan tersendiri bagiku yang bertangan pendek. Posisi riding bisa rileks dan masih bisa tegak. Aku berada di posisi paling belakang bersama Kak Bejo dan Kak Koko yang mengendarai r-25 mengawal Mbak Yatmi dan Devi yang mengendarai Yamaha Mio J.

Akhirnya, kami tertinggal iring-iringan. Untung di rute Irung Petruk mereka menyerah untuk dibonceng. Mbak Yatmi yang bertubuh besar bersama kak Bejo yang mungil, Devi bersamaku, dan Kak Koko yang hanya bisa mengendarai motor matic memilih Mio J.

“Dev, kamu pegangan aku mau ngebut!” perintahku. Aku pun membetot gas lebih kencang lagi di medan yang mulai menantang. Berkelok, tanjakan, macet, dan harus segera menemukan iring-iringan. “Waw,” teriak Devi saat merasakan tarikan pertamaku. Jelas, tarikan Yamaha Xabre memang lincah. Meski berat kalau dah jalan rasanya ringan, seringan gasnya.

Aku tidak bisa membahas lebih detil mengenai kemampuan mesin. Tapi sebagai pengendara motor yang suka menerjang segala medan demi wisata alam aku cukup menikmati perjalanan dengan Yamaha Xabre. Suspensi depan yang nyut-nyut alias empuk tetap membuat nyaman pengendara saat medan terjal seperti jalan masuk Pantai Sepanjang. Satu medan yang tidak ku ambil, yaitu lumpur di jalan masuk pantai. Aku pilih balik kanan karena tidak ingin berspekulasi dengan membawa penumpang memilih jalur pintu ke luar. Kalau sendiri pasti ku ambil semisal tergelincirkan hanya sendiri.

Setiba di Pantai kami berkumpul untuk bermain bersama secara berkelompok sembari berfoto mengabadikan kebersamaan dan pesona lanskap Pantai Sepanjang. Terik mentari tak menghalangi kami untuk tetap bermain pasir dan air. Kami dibagi menjadi 4 kelompok dan sisanya sebagai pendokumentasi dan penonton. Permainan dimulai, kami bermain dengan mengandalkan kekuatan tim, strategi, efisien, dan kekompakan. Perjalanan makin berkesan karena Yamaha memfasilitasi kami untuk menjadi lebih akrab dan kompak sebagai Blogger dan Vlogger.

Selesai acara kami langsung pulang menuju Dealer Yamaha Kalasan dengan rute Pantai Sepanjang-Paliyan-Piyungan-Kalasan ditemani hujan. Nah, tahu sendiri kan medannya ganti turunan dan tentunya licin. Kami pun terjebak macet parah karena ada kecelakaan di Timur Polsek Patuk. Karena desain Yamaha Xabre 150 cc lumayan ramping maka aku bisa nyelip di sisi kiri untuk menerobos kemacetan. Sambil menunggu iring-iringan yang lain aku mencari tanah kosong untuk berhenti dan membuka jas hujan. Oiya waktu pulang aku naik sendirian karena kakiku sempat kram dan udah feeling mau hujan.  Lagi-lagi aku gak mau ambil risiko dengan postur tubuhku yang minimalis ini.

Tips

Jalan turunan tajam dan berliku serta bebatuan aku memilih menggunakan gigi rendah agar stabil dan terkendali. Tidak perlu main rem cukup melepas gas. Motor akan melaju dengan nyaman. Sepanjang perjalanan mengendarai Yamaha Xabre, aku jarang gunakan rem meski depan belakang sudah single disk brake. Kok, bisa? Soalnya aku sudah belajar safety riding bersama Yamaha Riding Academy Jogja. Jadi Wisata asyik naik Yamaha Xabre kemarin adalah wujud praktiknya. Sahabat kata perlu coba wisata asyik naik Yamaha, ketangguhannya betul-betul teruji.

http://i.sociabuzz.com/signup/verify_account/elzha09%40gmail.com/aeeac3a02078e294d9c73e6f924d88a1

Share

8 thoughts on “Yamaha Xabre Bikin Wisata Makin Asyik

    1. xixixi
      cowok cewek sama kerennya mbak.
      motor sport atau bebek sama aja mengendarainya.
      malah kebanyakan kok dipandang nakal kalau cewek naik moge.
      terima kasih sudah mampir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*