Hai penikmat Jazz, penikmat romantisme Dieng, dan Para Jomblo! Dieng Culture Festival (DCF) 2016 akan hadir pada 5,6,7 Agustus 2016, lho. Sudah siapkah bekal kalian?

Iya, masih jauh dan masih sekitar 6 bulan lagi. Masih bisa nabung lah, ya. Sudah lewat lebaran juga sapa tahu ada angpau dari keluarga untuk tambahan bekal ngetrip dan berbahagia di NegeriAtasAwan itu. Maha Karya Tuhan Yang Esa dan para leluhur kita itu tak dapat aku sampaikan secara detil di sini. Sila kalian mengenang sendiri manis getir kenangan kalian kala itu #eh.

Setahuku ketika menginjak Dieng tidak ada kegetiran, deh. Betul?
Tahukah kalian setiap penyelenggaraan DCF menelan biaya yang tak sedikit dan menembus angka 1 Milyar rupiah dan hanya 20% dari total biaya penyelenggaraan yang dicover oleh pemerintah daerah setempat. Wow banget gak sih? Hiburan yang gak tanggung-tanggung demi membahagiakan kalian yang dateng piyambakan? #eh.

Lalu Panitia dapet duit dari mana? Ngepet? Ngrampok? Idih, NO WAY!
Biaya DCF setiap tahunnya disengkuyung [Jawa: ditanggung bersama] oleh panitia dan warga setempat. Menurut Budhi hermanto selaku penasehat [sebutan yang diberikan oleh warga setempat] atau bahasa kerennya adalah supervisor, “Seminggu selama penyelenggaraan orang gak kerja, Mereka mewakaf dirinya untuk DCF, partisipasi yang riil. Mulai dari urusan angkut bambu sampai kebersihan. Para pemilik homstay dan rumah di sana memberikan sumbangan kepada panitia mulai dari 100 ribu-1 juta rupiah. Setiap panitia semenjak awal pelaksanaan DCF 1 menghibahkan 500 ribu rupiah untuk modal panitia. Sehingga modal awal panitia 50 juta rupiah. Pun teman-teman dari dieng. Setiap relawan mensedekahkan 500 ribu rupiah. Itu tradisi kami dan akan kami pertahankan terus. Sisanya biaya kami dapatkan dari tiket yang dijual kepada pengunjung,” saat menyampaikan materi dalam diskusi #EksplorDieng pada 19 Februari 2016 di Kantin S15, Suryodiningratan.

Tradisi sedekah, hibah, dan wakaf itu dipelihara oleh panitia DCF bertujuan agar setiap yang hadir merasa memiliki dan serasa di rumah sendiri dan tidak dimonopoli oleh pihak tertentu saja. Sehingga keamanan selama kegiatan terjaga, hampir tidak ada kecurian karen semua orang menjaga. Hal yang luar biasa lagi, kesiapan warga menyambut tamu suda terorganisir secara struktural. Pak Lurah pun turut andil dalam hal ini, sebelum acara dimulai, Beliau mengundang seluruh warga untuk berkumpul dan melakukan pendataan warga yang berkenan meminjamkan rumahnya untuk menerima tamu. Kalian tahu? Demi kebahagian kalian nih, mereka rela menginap sementara di rumah saudaranya selama acara berlangsung. Demi selfi kalian dan kehangatan kalian. Halah. Halah.

Hal tersebut dilakukan Budhi Hermanto dan punggawa DCF karena mereka memiliki misi tersembunyi, yaitu mengembangkan dan memberdayakan komunitas menjadi berkembang. Mereka bekerja untuk memperkuat kelompok masyarakat mengenal potensi, peluang berbisnis, dan kekuatannya. Semoga, kalian tidak hanya hura-hura saat di DCF, karena warga sang pemilik wilayah saja belajar. Yah, mereka belajar tentang kekuatan, potensi, dan peluang bisnis dari kegiatan itu. Mereka juga belajar bertanggung jawab kepada alam mereka untuk tetap melestarikannya. Gak Percaya? Baca sampai tuntas ya.

Ladang Petani Dieng-DCF #6 by Elizhabet Elzha
Ladang Petani Dieng-DCF #6
by Elizhabet Elzha

Dieng itu termasuk wilayah yang didominasi oleh petani hortikultura, banyak sayuran di sana. Kebudayaan turun temurun mereka seperti Tari Lengger, tari yang selalu dipersembahkan untuk pengunjung DCF. Penari perempuan menari di atas punggung pria. Ingat gak? Jangan hanya lampion yang kalian ingat, atau janagn-jangan kemarin tidak sempat melihat. Yah, besok sempatkan, ya, biar koleksi poto kalian makin banyak. Selain itu juga soal wayang, tarian kuda lumping, dan gak ketinggalan dangdut juga mengambil tempat. “DCF memang mengedepankan tradisi karena itu merupakan bagian dari sejarah yang perlu dilestarikan,” imbuh Budhi Hermanto.
Kalian ngerasa ada yang belum ku bahas? Soal Alam iya belum ku bahas tuntas.
Kalian ingat gak? Kalau properti di DCF itu selalu menggunakan bahan-bahan dari alam seperti bambu yang begitu banyak dan jagung? Kalian tahu dari mana? Itu di impor dari kecamatan sebelah di daerah dieng. Karena Dieng tidak dapat tumbuh bambu dan jagung karena terlalu dingin. Hanya bambu jenis pringgodani yang tumbuh di sana sedangkan bambu yang digunakan adalah bambu besar. Wujud tanggung jawab warga dan panitia penyelenggara DCF terhadap lingkungan adalah menyedekahkan hasil penjualan tiket untuk dibelikan 500 bibit pohon cemara untuk disedekahkan ke hutan, kemudian mendorong warga untuk menanam kopi, dan kegiatan ramah lingkungan lainnya.
Sempat disinggung soal peluang bisnis. Apa yang menjadi feedback DCF terhadap warga dari sisi finansial?

Menurut Budhi hermanto, materi yang kami berikan dari DCF untuk warga itu tidak ada apa-apanya dengan pendapatan atau kekayaan mereka sendiri. Justru satu-satunya toko waralaba di sana yang meraup omset antara 500 juta -3 milyar rupiah selama DCF berlangsung. Tapi mereka merasa memiliki dan mau berbagi dengan kalian mereka menjadi dikenal tidak hanya soal rambut gimbalnya namun juga potensi wisata baik sejarah mau pun alamnya.

Masih tahan kan mantengin tulisanku? Iya, aku tahu kalian pasti nunggu Soal Jazz Atas Awan/Jazz kemulan sarung, Lampion, dan Kembang api kan? Itu kan yang kalian bilang saat-saat romantis. Temaram lampion, harapan, Jazz, suhu minus, kemulan sarung dan kerlap kerlip kembang api. Kehangatan jagung bakar bagi pembeli tiket. Hahaha. Iya, aku tahu.

Tidak ada yang kudustakan semua itu. Aku pun mengamininya. Meski sendiri dan berteman puluhan kompor [Iye, cint aku dodolan kompor hemat energi waktu itu di stan Forum Desa Nusantara]. Jangan lupa mampir ya Cin, kalau ke DCF nanti. [promo dikit]
Soal kompor baca ini: http://www.elzha09.com/?p=150

DCF lovers, aku sempat bertanya-tanya kenapa panggung Jazz atas awan mirip sekali dengan konser di banyak tempat. Gak seperti dulu saat awal-awal DCF diselenggarakan. Ini alasannya: pertama, jazz atas awan #1 dilakukan di atas rumput tepat di samping Candi Arjuna. Saat itu hal yang memungkinkan karena komplek candi arjuna mampu menampung orang sekitar 4000 pengunjung. Alasan kedua, Peminat DCF membludak bahkan membuat kemacetan disepanjang jalan menuju dieng demenjak sore, mencapai 6000 pengunjung dan itu tidak memungkinkan lagi bertempat di komplek Candi Arjuan. Agar seluruh pengunjung berkesempatan menikmati JazzKemulanSarung maka perlu pangggung dan venue lebih luas. Adil bukan, Kalian itu nomero uno, pokoknya di hati penyelenggara. Kurang apa coba? Oh, ya, kalian ngeh gak,sih? Kalau #Jazzatasawan tanpa atap? Yah itu sensasinya, karena panitia pasrah pada alam. Kalau hujan itu sudah risiko, pungkas Budhi.
Terakhir, nih, ya, pesan dariku dan Budhi Hermanto. Suhu Dieng semakin larut suhunya semakin turun. Jam 11 malam bisa menembus -1 derajad celcius dan dini hari sampai -4 derajad celcius. Gak percaya? Aku sudah membuktikan dan aku tidur di luar di bawah terpal tenda stand dodolanku. Demi apa coba? Demi menyapa Sunrise. Penting dan perlu diperhatikan, bagi kalian yang memiliki asma dan riwayat hipotermia, jangan nekad ya. Jangan sampai salah kostum bawa saja sarung dan selimut serta baju hangat kalian.

Sunrise Dieng dari atas Museum Kaliasa, DCF #6 by Elizhabet Elzha
Sunrise Dieng dari atas Museum Kaliasa, DCF #6
by Elizhabet Elzha

Sampai jumpa di DCF 2016, jangan sampai ketinggalan karena ada hal yang berbeda di tahun ini. Dikit, ya dikit banget bocoran nih. Tahun ini akan ada hal baru, kompetisi lampion etnik dan artistik dengan diameter > 3m namun masih dalam konsep. Pesta kembang api sebanyak 15 ribu letusan. Kerenkan? Ayo persiapkan diri kalian Hanya 250K/perorang lho tiketnya untuk 3 hari.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*