Katanya, hujan itu identik dengan kenangan. Hujan yang datang tiba-tiba tak hanya menghujam bumi namun juga hati. Sedangkan di zaman serba berbasis teknologi seperti saat ini, kenangan bisa saja datang tanpa hujan. fesbuk dan instagram contohnya, keduanya memiliki fitur pengingat peristiwa yang pernah terjadi (dan kita unggah diakun medsos tersebut) minimal setahun silam.

Apakah kalian juga sering panen kenangan di media sosial?
Fiks, kita satu tipe selalu menyimpan kenangan di medsos.

Kemarin lusa, ceritanya aku bertandang ke akun fesbukku, hanya untuk cek-cek peristiwa setahun lalu di hari itu. Eh, gak tahunya fesbuk mengirimkan foto 4 tahun lalu saat aku berada di Sinjai Tengah, Sulawesi Selatan. Saat  itu aku tinggal di salah satu rumah warga bernama Juharni. Aku memanggilnya, Kak Juha. Foto itu kuambil saat malam terakhir aku di sana dan esok harinya aku harus ke bandara dan pulang ke Jogja. Malam itu rumah Kak Juha memang sedikit riuh. Tetangga dekat dan tetangga jauh dari kecamatan sebelah pun bertandang ke rumah.

Rumah Kak Juharni-Gantarang, Sinjai Tengah, Sinjai, Sulawesi Selatan.

Malam itu riuh lelaki, perempuan, tua, muda dan remaja yang kenal dengan ku hadir di sana. Para lelaki duduk-duduk bercengkerama di teras. Para perempuan sibuk di dapur menyiapkan camilan dan minuman untuk menghabiskan malam. Paling ku ingat adalah sa rabba’ – minuman khas Sulawesi, wujudnya seperti wedang bajigur. Komposisinya jahe, kapulaga, kayu putuh, santan, gula dan beberapa orang menambahkan merica, susu dan telor di dalamnya.

Bisa bayangkan wujud dan rasanya?

Awalnya aku tidak ingin mencicipinya. Perutku sudah merasa mual mendengar penjelasan seorang kawan saat pertama kali mendeskripsikan tentang Sa rabba’. Tapi setelah aku tinggal bersama warga Sinjai Tengah, aku menyaksikan sendiri cara memasak Sa Rabba’ dan beberapa komposisinya aku ubah agar aku bisa menikmati sa rabba’ dan tidak sakit perut. Aku menghilangkan telur, susu, dan merica, tujuannya agar aku tidak sakit perut dan naik kolsterolku. Dan sudah pasti aku bisa menikmati sa rabba’ modifikasi.

Pada umumnya, sa rabba’ ini dinikmati bersama pisang goreng atau singkong goreng dengan cocolan lombok (sambal). Semua disajikan dalam kondisi hangat. Sama seperti di Jogja, minum bajigur sambil menikmati gorengan (tahu, tempe, pisang, dll). Hemmm, sebab memandangi foto itu dan membayangkan nikmatnya sa rabba’ kok ngiler juga ya. Mana, Jogja juga sering hujan lagi. Kayanya nikmat banget kalau bisa minum sa rabba’ lagi.

***cari cara minum sa rabba’ tanpa ribet di Jogja***

Tiba-tiba ponselku berbunyi, pesan WA dari Vander. Dia mengajak bertemu untuk ngobrolin sesuatu.
*berpikir cari tempat ketemu*

Aha, Lasem Sky Garden tampaknya cocok, nich. Selain lokasinya yang dekat dari kost, pinggir jalan raya, dan … ada sa rabba’nya! Yeay!

Janjianlah aku sama Vander untuk ketemu di Lasem Sky Garden yang berlokasi di Jl. Letjend Suprapto, Yogyakarta (Selatan Edu Hostel Persis). Buka setiap hari jam 16.00-23.00.

Aku dan Vander

Hal paling menarik selain lokasi yang strategis, aku juga tertarik dengan konsep urban farming, local food, dan non msg.  Menurut Sang Owner yang ngakunya suka banget trevelling, konsep urban farming ini juga terinspirasi dari Kota Lasem, Jawa Tengah yang berdaya dalam pertanian dan pengairan, meskipun kota kecil. Nah, tanaman-tanaman yang ada di dinding Lasem Sky Garden ini adalah bahan lokal organik yang dipakai untuk mengolah menu makanan. Kecuali nasi, singkong, dan tanaman lahan luas lainnya. Tapi kamu akan menemukan seledry, kemangi, selada, dan tanaman-tenaman kecil lainnya di sini.

Tepat pukul 16.00 WIB aku menuju Lasem Sky Garden, langit Jogja lumayan gelap. Baru sampai separuh perjalanan, hujan datang. Berteduhlah aku untuk memakai jas ujan. Otak sudah kepikiran sa rabba’ dan sepiring singkong. Hahaha.

Singkong Goreng dan Sa rabba’

Ternyata hujan hanya lewat saja. Buru-burulah aku melanjutkan perjalanan demi segelas sa rabba’, sepiring singkong, seorang teman, dan curhatan.

NB: Sa rabba’ di Lasem Sky Garden ini lebih cocok denganku karena santannya yang tidak begitu kental dan dominan serta gula yang disajikan terpisah. Tak hanya menyajikan menu lokal nusantara, Lasem Sky Garden juga menyajikan menu eropa.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*