Ini kegelisahanku yang terlahir sebagai perempuan 27 tahun lalu. Aku merasa terlambat memahami jati diriku sendiri. Bayangkan saja, setelah duduk di bangku SMA aku baru mengenakan pakaian-pakaian perempuan seperti dress, rok pendek, kaos yang menonjolkan lekuk tubuh.

Lantas kalau sekolah? Ya, aku tetap saja memakai seragam perempuan hanya saja sepatu, ransel, dan aksen lelaki yang ku kenakan. Semua terjadi karena ayahku menginginkan anak lelaki. Mungkin ia sedikit kecewa anak pertamanya lahir perempuan. Lantas ayahku memperlakukanku seperti anak lelaki. Betul, aku tumbuh sebagai gadis tomboi.

Pembiasaan yang dilakukan oleh ayahku tidak bisa dibendung oleh ibuku. Akibatnya, karena ayahku mendidik dengan cara keras seperti anak laki-laki sekarang aku tumbuh menjadi orang yang berambisi dulu sih sempat ambisius. Tidak puas jika hanya ditandingkan dengan perempuan. Entah apakah aku sudah menganggap lelaki itu adalah kaumku atau aku bagian dari mereka. Sama kali ya? Hahahaa.

Sekelumit kisah pertumbuhanku ini mendorongku menjadi orang yang kritis. Jiwaku mulai berontak. Kadang kala aku ingin menjadi perempuan pada umumnya. Berpakaian, berjalan, bicara, berias, seperti perempuan anggun yang banyak diidamkan para lelaki. Tapi mana mungkin? Perlakuan yang kuterima bertahun-tahun itu susah sekali ku kikis. Sampai pada akhirnya aku  berhenti sejenak dalam kehidupan percintaan di usia yang seharusnya sudah menikah, kata keluargaku.

Aku mulai berkaca. Memandangi dari ujung rambut hingga kaki. Kudapati tubuh perempuanku yang seksi. Wajah yang tak buruk-buruk amat meski banyak jerawat dan bekasnya. Kulit sawo matang yang tentunya tidak menyalahi aturan sebagai orang yang hidup di Indonesia beriklim tropis. Tutur bahasa kadang juga halus seperti nenek-nenekku yang kebetulan berdarah Jawa. Kadang seperti tukang becak pinggir jalan memanggil pelanggan.

Itulah aku. Sebagai anak perempuan yang tidak pernah dimanja. Apa-apa dicari sendiri hanya diberi peta buta. Aku ingin mengenali tubuhku, kodratku, dan peranku. Aku sudah bukan remaja apalagi anak-anak. Tugas kehidupan sudah menanti untuk ditunaikan. Berinteraksi dengan masyarakat yang lebih bervariasi membuatku harus pandai beradaptasi.

kdlj86

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*