Konsep Perempuan

Perempuan terkonsep sebagai makhluk Tuhan di benakku. Ia tidak beda dengan lelaki, seperti kata pepatah “duduk sama rendah berdiri sama tinggi.” Namun, di masyarakat kadang mereka dinomorduakan. Tabu jika melakukan pekerjaan seperti lelaki. Tak pantas jika pulang pagi. Ia juga tak pantas jika melamar lelaki. Hei, Bangun! Indonesia Luas, di ujung bagian barat sana ada lho, masyarakat yang berpendapat bahwa Perempuan berhak meminang lelaki.

Diksi perempuan baru saja aku gunakan saat bertemu dengan aktivis-aktivis di Jogja. Kata mereka “perempuan” itu lebih tepat karena mengandung kesetaraan. Alasannya, jika dalam penyebutan saja telah mengandung kesetaraan akan merembet pada perlakuan yang setara pula. Embuh, waktu itu aku tidak begitu paham dengan rentetan ulasan mereka. Aku ikut-ikut aja, biar gak ngisin-ngisini sebagai aktivis abal-abal di Jogja yang penuh orang kritis ini.

Usut punya usut, guys! Aku menemukan perbedaan penyebutan terhadap perempuan di sepanjang peradaban negeri ini. Tunggu-tunggu, riset kecil ini aku batasi untuk kehidupan Jawa. Dulu pada masa keraton perempuan itu disebut estri. Belanda datang hingga masa ordebaru disebut dengan wanita. Masa kini diksi keduanya masih dipakai. Jika orang memakai diksi perempuan pada masa kini dianggapnya sebagai feminis. Mari kita fokus pada kata wanita. Pada masa orde baru (masa yang juga aku alami) wanita merupakan akronim dari wani di tata (berani di tata). Menurut Cak Nun, kiayi yang sering menggelar Makiyah, menyebut wanita adalah wani nata (berani menata).

Perempuan berasal dari kata empu yang artinya terhormat, memiliki, mahir, atau ibu. Mirip seperti wanita, wani nata. Ada peranan luhur di sana. Sekarang kita buka sejarah masa keraton. Kebetulan aku membaca buku Ann Kumar berjudul Prajurit Perempuan Jawa. Dalam buku itu, perempuan juga berperan seperti lelaki, bahkan mereka tak layak dijadikan sebagai permaisuri namun boleh diperistri. Perlakuan raja sangat istimewa terhadap mereka. Kesimpulan sementaraku, penggunaan diksi perempuan itu mengalami pembelokan di masa Belanda-orde baru yang memberikan makna baru dan rancu.

Pembelokan pemaknaan Wanita, wani di tata ternyata memiliki andil untuk mengesampingkan dan membatasi power perempuan. Aku menduga, akronim itu mendarah daging dan diimani kebenarannya. Tak ayal banyak perempuan pintar dan cantik masa kini memilih menunggu. Berhati-hati biar tidak dibilang tabu. Tak hanya itu, meme-meme yang katanya untuk lucu-lucuan muncul memposisikan perempuan yang siap dieksekusi. Contoh: Halalin adek bang! Kata-kata kode untuk minta di jadikan pacar atau istri. Bagiku itu menjatuhkan harga diri.

Menunggu itu sederhana tapi tak sesederhana menanti keputusan untuk di tembak atau dilamarkan #eh. Coba deh, ingat-ingat apa saja yang sudah kamu korbankan untuk menunggu hal yang belum tentu. Kita ini bukan artis yang sedang main sinetron, lho. Bicara dalam batin lalu semua orang memahami kita. Jalan satu-satunya ya diungkapkan. Malu dibilang tabu atau agresif? Lebih sakit mana dengan digantungin, girls?

“Itu juga butuh mental!” Teriakmu padaku, laiya kita ini sudah hidup di era Jokowi yang sedang mencanangkan revolusi mental. Masa iya kamu mau di jaman Kakek Harto? Kekuasaannya udah tamat. Tidak apa kalau diksinya tidak kalian imani. Toh tidak membawa kesetaraan.

Ok, dech. Kalian butuh bukti untuk kekuatan? Nanti aku telponkan Silormoon biar dia kirim kekuatan bulan. Hahaa. Kelamaan ya? Di tulisan berikutnya aku akan sampaikan asal usul kejadian perempuan agar kalian paham kalau kita bukan dari sempalan tulang rusuk lelaki. Biar pikiran kalian terbuka, masa iya sepenggal tulang bisa mewujud jadi satu kerangka manusia?

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*