“Aku ingin keluarga dan anak-anak kita nanti makan dari hasil yang jelas. Gaya hidup halal. Saat ini aku belajar memindahkan tabungan dan seluruh transaksi keuangan melalui Bank Muamalat. Tidak berhutang. Apakah kamu mau mengikuti sistem keuanganku?” Pertanyaan pemantik yang membuatku berkecamuk. Sesaat jalanan lengang. Selengang pembicaraan kami. Namun pikiranku udah ribut sendiri.

Duh, sistem kaya apa?
Apa aku harus selalu minta uang jatah?
Berapa kira-kira jatahku?
Cukup gak ya buat sebulan?
Aku masih bisa ke salon, jalan-jalan, sama nongkrong gak ya?

Mataku bergerak ke kanan lalu ke kiri. Mencari kata paling tepat untuk menyambut kalimatnya. Lelaki di hadapanku ini baru dekat denganku bulan lalu. Tanpa ragu, dia mengajakku serius untuk melangkah maju. Ya, tinggal menunggu waktu kami akan menghadap penghulu.

“Emmm… Sistem keuangan seperti apa?” Akhirnya aku memecah sepi Jalan Mangkubumi.

Mulai Mendengar Bank Muamalat

“Kita harus menghindari riba. Aku butuh dukunganmu,” Ia kembali menghela napas. Lelaki ini memang tak pandai menyusun kata. Sebentar-sebentar diam. Kadang jeda lama. Sering membuatku mengantuk bila mendengarkannya. Kali ini aku langsung menyambung kalimatnya.

“Oh, tapi mengapa harus Bank Muamalat? Memang ada bank syariah di Indonesia yang benar-benar menetapkan sistem syariah? Bukankah sistem perbankan kita ini masih dikelola oleh BI? Artinya campur-campur dengan uang bank lain,” bagiku mustahil ada dan bisa bersih dari praktik-praktik riba. Nada bicara ku meninggi.

“Karena Bank Muamalat Indonesia yang punya sistem keuangan tertutup. Hanya berputar pada bisnis-bisnis syariah. Sistemnya bagi hasil bukan bunga. Ada pula sistem titip. Jadi, uang yang kita simpan tidak akan berkurang atau pun bertambah karena bunga dari bank,” paparnya.

Lelaki di depanku ini lulusan akutansi. Salah satu universitas swasta di Jogja. Kehati-hatian nya dalam mengelola uang pun sudah ku tahu sejak kami berteman sejak beberapa tahun terakhir. Ia selalu menanyakan, uang yang menjadi bagiannya itu, berasal dari mana. Meskipun uang itu memang haknya. Pernah beberapa kali ia mengembalikan uang kliennya karena tahu bisnis yang tidak jelas. Aku banyak belajar darinya.

Sejak awal hubungan kami ia sudah mewanti-wantiku untuk tidak kembali merokok dan minum alkhol. Untungnya, sejak dari diriku pribadi juga sudah ada niatan untuk berhenti mengkonsumsi dua hal itu. Jadi tidak begitu berat untuk bisa lepas. Kali ini dia ingin mengajakku naik anak tangga baru. Lebih bada sistem sirkulasi keuangan kami nanti.

“Saat ini aku menggunakan jasa Bank Muamalat. Aku harap kamu juga mau berpindah. Mungkin akan susah. Tapi kamu harus memulai dengan lebih selektif memilih pekerjaan dan rekan kerja. Aku akan bantu kamu,” matanya mulai memerah, lelah. Ada harap agar aku belajar dari kejadian lalu.

“Kamu ngajakin aku hijrah, nih? He… He.. #Ayohijrah aku pun punya niat yang sama.”

Lantas aku buka rekening di Bank Muamalat Indonesia?
No! Aku masih belum bisa menerima keterangan lelaki dihadapanku malam itu. Lelaki yang insha Allah bakal menua bersamaku. Aamiin. Lelaki berprinsip yang tak lelah mengajakku untuk ‘kembali.’

Adalah hal sensitif bagiku membicarakan keuangan. Meski aku perempuan bekerja, aku selalu takut memulai. Iya, aku takut calon suamiku ini berpikir kalau aku matre. Bagiku uang itu gak penting, sih, tapi buat jaminan hidup aku butuh. Apalagi kami memiliki hobi yang sama. Jalan-jalan.

Pernah, waktu kami berada di dalam bus menuju rumahnya untuk mengenalkanku pada orang tuanya, kami membahas sebuah perjalanan. Kami throwback menuju hari-hari yang lucu bagi kami. Sering berjumpa tapi baru dua kali piknik bersama. Pun dalam format kerja.

Lalu kami bercerita tentang pulau-pulau yang pernah kami kunjungi (masing-masing) selama setahun terakhir. Ia pun memintaku untuk menghitung kan buget jalan-jalan ke salah satu pulau di Indonesia Timur. Tidore. Pulau kecil yang bersih dan tumbuhnya masyarakat muslim di bawah Kesultanan Tidore. Pulau yang menyadarkanku akan keberadaannya (lelaki di sampingkku ini).“Nabung, Sayang. Biar bisa piknik ke Tanah Suci juga,” ucapnya penuh harap. Makin Ngode aja, nich. Hemmm.

“Ya, nanti kita ikut program nabung umrah. Tapi aku belum nemu yang sreg. Kemarin, sih ada marketing yang nawarin. Cuma aku jawab, fokus persiapan nikah dulu,” cerocosku sambil memandang ke luar jendela bus menikmati barisan padi yang hijau terhampar luar.

Jalan #Ayohijrah ke Bank Muamalat Makin Tampak

Allah memeprcepat dan memudahkan segalanya. #Ayohijrah ke Bank Muamalat Indonesia pun tampak makin dekat. Entah apa tapi aku yakin ini memang rencana Allah. Pertunangan kami dipercepat dan tak sampai hitungan bulan kami akan menikah. Kami memang tidak pacaran tapi mengupayakan segera ke pelaminan.

Setelah semua mantap, niat hijrah pun semakin mudah dan lancar. Hijrah yang ditawarkan oleh calon suami pun didukung oleh lingkungan. Beberapa hari setelah acara pertunangan kami, ada sebuah pesan elektronik masuk melalui email. Sebuah informasi tentang produk terbaru dari Bank Muamalat Indonesia bertajuk #Ayohijrah. Ada yang bergetar tak seperti biasanya.

Aku mulai membaca satu persatu informasi. Aku mulai dari mencari maksud #Ayohijrah dari bank syariah ini. Hijrah bagiku memang sebuah keputusan dalam hidup untuk berpegang teguh pada syariat Islam. Nah, Bank Muamalat yang sejak 1992 telah resmi beroperasi di Indonesia ini ingin mengajak masyarakat khususnya pada umat muslim untuk mengelola keuangan dengan sistem keuangan syariah.

Melalui tautan Bank Muamalat Indonesia aku belajar banyak dan mendalam tentang sistem bank dan produknya. Hal yang membenarkan pernyataan calon suamiku pun terpampang nyata. “Bank Muamalat Indonesia sebagai bank pertama murni syariah di Indonesia mencoba memperluas fungsi, dari yang sebatas penyedia layanan perbankan syariah, menjadi agen penggerak semangat umat untuk terus-menerus meningkatkan diri ke arah ajaran Islam yang baik, sempurna dan menyeluruh (kaffah). Jadi tidak hanya berhijrah secara ibadah, tapi juga dalam hal mengelola keuangan.”

Setelah membaca seluruh informasi, orang yang pertama kali kuhubungi adalah calon suami. “Aku siap, #Ayohijrah ke Bank Muamalat Indonesia. Tapi diantar, ya.” ucapku lewat sambungan telepon.

Bank Muamalat Jl. Mangkubumi, Yogyakarta. Dokpri

Aku memilih hari yang spesial, 24 April 2019. Hari di mana calon suami menggenap di usia 32 tahun. Memilih untuk menutup tabungan di bank konvensional beserta merelakan program-program yang sudah berjalan di sana. Aku mantapkan, Bismilahirohmanirrohim, #Ayohijrah ke Bank Muamalat Indonesia yang di Jalan Mangkubumi. Aku sih berharap ini menjadi kado yang cukup untuk dia dan tentunya Bank Muamalat yang baru saja milad ke-27. Suit… suiitttt

Mas Achir Joko Y saat memandu pengisisan formulir pembukaan rekening. Dokpri

Kami datang ke Bank Muamalat sekitar jam 10.00 WIB. Dapat nomor antrean 9 menunggu 1 antrean. FYI, Bank Muamalat Indonesia ini sudah punya banyak cabank di Jogja. Kami berkesempatan bertemu CS yang ramah, Mas Achir Joko Y. Aku mulai dijelaskan tentang konsep dan sistem bank ini. Sama seperti yang disampaikan calon suami pada ku dan keterangan di website resmi Bank Muamalat Indonesia. Singkat cerita, aku memilih Tabungan iB Hijrah Prima atas nama pribadi.

Mas Achir juga langsung memanduku untuk mengaktifkan Mobile Banking dengan cara mengunduh aplikasi Bank Muamalat di appstore. Aplikasi ini merupakan salah satu layanan yang mempermudah nasabah dalam bertransaksi mulai dari transfer hingga belanja dan bayar-bayar lainnya. Yah, komitmen untuk menjawab peluang dan tantangan revolusi industri 4.0 yang telah membawa perubahan kehidupan ke ranah digital.

Tak Kalah dengan Bank Konvensional

Sebagai calon ibu rumah tangga dan hobi jalan-jalan, memiliki akun di aplikasi mobile Bank Muamalat ini akan memudahkanku untuk:

  1. Transfer (mobile banking dan internet banking), bayar listrik, beli pulsa, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
  2. Tak kan kesuliltan menemukan atm/cabang karena dilengkapi dengan google map yang bisa mengarahkan kita menuju atm/cabang terdekat.
  3. Mudah menentukan arah kiblat dan jadwal sholat sehingga ibadah pun lancar.
  4. Bahkan aku bisa langsung berhubungan dengan call center melalui aplikasi ini.

Bank Muamalat Indonesia juga sudah tergabung dengan Mastercard dan Visa. Bisa transaksi di ATM bersama tentunya dengan biaya administrasi setiap transaksinya. Kalau di ATM Bank Muamalat untuk transfer sesama bank dan cek saldo gratis.

Hijrah itu perlu diupayakan dan diteguhkan. Kemudahan #AyoHijrah bersama Bank Muamalat Indonesia ini adalah tentang kewajiban zakat. Saat membuka rekening tabungan kemarin, aku memilih opsi mengizinkan pihak bank untuk mengambil zakat dari uang yang aku simpan di rekening.

Apasih Tabungan iB Hijrah Prima?

Tabungan iB Hijrah Prima ini cocok untuk personal. Bisa buat bisnis sekaligus investasi sudah lengkap dengan fasilitas Shar-E Debit Gold yang dapat digunakan di seluruh Jaringan Visa. Pada atm juga telah dilengkapi dengan chip sehingga seluruh data terlindungi dan aman.

Syarat pembuatannya pun gampang banget, cuma bawa KTP, NPWP (bila punya), dan uang minimal untuk buka rekening Rp. 100.000,- (minimal). Pengalamanku kemarin, karena aku masih ber-KTP di luar Jogja, Mas Achir meminta kartu identitas lain yaitu SIM untuk dicocokkan datanya. Bila kamu WNA jangan lupa membawa KITAS / KIMS/Paspor/Surat referensi.

Bagi kamu yang akan menggunakan tabungan jenis ini tidak untuk perorangan syaratnya sebagai berikut

a. Mengisi formulir pembukaan rekening
b. Dokumen yang diperlukan:
    – NPWP
    – Akta Pendirian dan Perubahan (jika ada)
    – Izin usaha yaitu TDP dan SIUP bagi badan usaha
    – Bukti identitas diri penerima dan pemberi kuasa

Setelah produk dijelaskan oleh CS, aku diminta mengisis formulir pembukaan rekening, membaca dan menandatangani ketentuan bank terlebih pada poin pembekuan rekening jika tersangkut kriminalitas dan jaringan terorisme. Mengapa demikian? Sebab bank Muamalat Indonesia ini sudah termasuk bank yang diawasi oleh OJK. Sehingga tunduk terhadap peraturan perbankkan di Indonesia. Prosesnya pun cepat ndak sampai satu jam sudah termasuk belajar mengaktifkan Bank Muamalat mobile.

Ini cerita hijrahku, bagaimana cerita hijrahmu. Jangan ragu #Ayohijrah ke Bank Muamalat Indonesia terdekat.

#BankMuamalat #MiladBankMuamalat

Share

2 thoughts on “Proses Mudah dan Cepat #Ayohijrah ke Bank Muamalat

  1. Mbak elz, lama tak jumpa ternyata sudah banyak yang aku gak tahu. Seneng banget dan ikut bahagia baca ceritanya. Jadi ingat saat saat sering ketemu. Eyel eyelan, kejar kejaran deadline, lembur berhari hari bareng teman teman di base camp alias di rumahku. Hehe…
    Semoga di lancarkan ya mbak elz. Doa terbaik selalu untuk kalian berdua.

    1. Aamiin, Saya juga kangen, Pak.
      Calon saya ini sudah pernah mampir ke rumah Pak Bowo juga, lho.
      Besok kalau saya ke Jogja tak mampir ke rumah.
      Saya akan cerita banyak hahahaha.
      Sukses selalu ya Pka Bowo, Salam untuk keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*