Berakhir pada Arsenik

Sebuah bendera putih terikat di tiang listrik tepat di pertigaan. Mobil dan motor terparkir rapi sampai di pinggir tenda warna hitam yang terpasang di depan rumah warna kuning. Lantunan ayat suci mengudara dari spiker-spiker hitam yang tersusun di sebelah kotak uang. Kursi-kursi mulai penuh dengan orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam.

Asya turun dari mobilnya melangkah sambil membetulkan kerudung menuju kursi kosong. Satu per satu among tamu ia salami. Tepat di depan keranda ia duduk. Matanya menjelajah dari balik kacamata hitam. Di sudut teras rumah ada sekumpulan perempuan sedang meronce bunga. Tiba-tiba seorang lelaki melintasinya. Asya menegakkan badan dan mengambil napas dalam. Tubuh itu tidak asing baginya. Perawakan kurus, tinggi, dan hitam. Aromanya khas seperti aroma lelaki yang ia cumbu lima bulan lalu. Matanya mengikuti langkah lelaki itu. Read More

Share