Matahari belum ada sepenggalah, aku sudah mandi dan bersiap melancong ke Pantai. Aku membonceng sahabatku, Radit. Ia seorang juru foto yang aku sewa untuk membantuku mendokumentasikan perjalananku hari itu. Kami berdua adalah penikmat alam semesta dan selalu berusaha bersahabat dengannya.

Motor bebekku berwarna merah mengantarkan perjalanan kami dengan bermacam bawaan.Bekal makanan yang kukaitkan pada sayap depan, Radit dengan ransel berisi kamera DSLR di bagian depan berselimut kain anti air dan tripod (kaki tiga penyangga kamera) di punggungnya, sedangkan aku dengan ransel ungu kesayanganku berisi netbook, perekam, buku catatan, pena, dan alat mandi. Tak lupa jaket kulit ku kenakan sebagai pelindung dari terik mentari dan angin. Kacamata dan helm SNI untuk pelindung kepala kami.

Hari itu adalah hari kelima setelah lebaran, banyak kendaraan yang kami jumpai seperti bis pariwisata, mobil pribadi, dan motor bernomor polisi luar kota seperti B, H, K, dan AD. Perjalanan kami seru, medan berliku, tanjakan, turunan, dan tentu harus berpacu dengan pengendara lain. Kami memilih rute Jogja-Wonosari-Tepus-Jl. Pantai Selatan menuju arah Indrayanti, Sundak, Sadranan, Krakal, Drini. Kami hanya butuh satu setengah jam perjalanan. Saat kami sudah menemukan Pantai Drini, Radit memacu motor pada kecepatan 40 Km/Jam. Tepat pukul 9.30 WIB kami tiba di area Pantai Kapen-Watu Kodok, namun agak kebablasan karena papan petunjuk arah sangat kecil dan menghadap ke barat terbuat dari papan kayu sederhana dan ditulis manual dengan cat warna hitam. Selain itu akses dari jalan utama sedikit tak tampak karena pintu masuk sedikit serong ke barat, sedangkan kami datang dari arah timur.

Akses masuk Pantai Watu Kodok muat dilalui kendaraan roda empat. Jangan mz joyomembayangkan jalanan yang kami lalui beraspal halus. Jalanan itu hanya terbuat dari lapisan semen dan tanah yang dibuat sedemikian rupa untuk memudahkan pengendara roda empat agar aman. Lapisan semen kasar dan tampak sekali kalau dibuat dengan alat-alat sederhana. Jalanan menurun dan berliku bersisi tebing dan lahan pertanian. Sejak masuk sudah ditemukan tulisan-tulisan dari media kertas, papan kayu, dan kain bertuliskan “Watu Kodok untuk Warga, Sultan Ground untuk Rakyat, Tolak Penggusuran, dan Tolak Investor.” Sekitar 100 meter sebelum area parkir pertama turunannya agak tajam dan masih berkrakal aman jika menggunakan gigi 1 pada kendaraan.

kdlj86

Share

4 thoughts on “Watu Kodok untuk Warga

  1. Tulisan ini sungguh mengharukan. Rakyat memang hampir di semua daerah mengalami diskriminasi di tanahnya sendiri. Akses sumber daya alam selalu dibatasi oleh mereka, penguasa dan pengusaha.
    Menurut saya, rakyat paling tahu melestarikan sesuatu ketimbang pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*